Masjid Agung, Surabaya


Masjid Agung Surabaya, Kemegahan yang Sempat Melelahkan

SETELAH MELEWATI PROSES PEMBANGUNAN YANG PANJANG, SEKARANG KITA SEMUA BISA TERSENYUM MEMANDANGNYA

Berangkat  dari  keinginan memiliki masjid yang representatif dan membanggakan warga kota, elemen pucuk pimpinan Surabaya dan Jawa Timur merencanakan pembangunan masjid ini. Tanpa banyak berbelit, peletakan batu pertama dilakukan oleh Wapres (saat itu), Try Sutrisno pada 4 Agustus 1995 sekaligus pemancangan 53 tiang dari sekitar 2000 tiang yang dibutuhkan. Rencananya, pembangunan masjid Agung Surabaya dilakukan dengan sistemfast track yaitu sebuah sistern dimana perencanaan diselesaikan bersamaan dengan pelaksanaan di lapangan.

Sistem ini tak ayal membuat tim perancang menjadi orang yang paling sibuk. “Kadang, gambar yang sudah jadi bisa mentah kembali karena ditolak dalam rapat. Belum lagi kendala dana, bahan baku dan sebagainya,” ujar Ir. H. Moerhanniono salah satu arsitek masjid dari ITS. Konsep dasar arsitektur masjid sebenarnya sederhana, sebuah masjid yang nyaman dan tidak terikat pada aliran tertentu. Walau demikian, masjid ini tidak mengabaikan sama sekali sentuhan dari masjid-masjid lain. “Kita mengambil banyak sekali lintasan-lintasan konsep yang terdapat dalam masjid-masjid besar dunia misalnya masjid di Malaysia, Brunei Darussalam dan beberapa di Timur Tengah,” tambah Ir. Hanni, anggota tim arsitek. Dalam perjalanannya, ternyata pembangunan tidak bisa dilakukan seketika. “Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Pertama, masalah dana. Kedua, bagian mana yang harus dibangun lebih dulu agar nantinya bisa bersinergi, tak ada yang terlewatkan. Inilah yang paling sulit karena masjid sebesar ini harusnya dibangun secara berkala dan tersistemasi dengan baik,” terang Ir. Tedjo Surjono, Manajemen Konstruksi Masjid Al-Akbar Surabaya. Luas bangunan dan fasilitas penunjang masjid ini sekitar 22.300 meter persegi. Tanah seluas itu awalnya adalah tanah bengkok, tanah rakyat ataupun tanah peruntukan. Salah satu keistimewaan masjid adalah penataan ruang yang menghadirkan bentuk bangunan besar dengan bobot kubah hampir 200 ton tanpa tiang tengah sebagai penyangga. Kondisi ini memang agak berbeda dengan bentuk bangunan masjid masa lalu baik di Indonesia maupun lainnya.

Problem keuangan menjadi penghambat yang sempat membuat proses pembangunan masjid menjadi lebih lama dan melelahkan. Melihat kesulitan yang dialami, Wakil Presiden RI saat itu berinisiatif menggalang dana dari berbagai pihak termasuk para konglomerat yang berjaya saat itu. Tak heran jika pembangunan masjid baru selesai 5 tahun kemudian, yaitu tahun 2000. Kubah masjid yang terletak di jalan Menanggal V ini nampak berbeda dari kubah masjid pada umumnya karena menggunakan teknologi dan bahan yang jarang digunakan dalam membangun masjid.

Keunikan kubah ditunjang dengan bentuk kubah yang menyerupai setengah telur dengan 1,5 layer setinggi 27 meter. Bentuk ini menumpu pada bentuk piramida terpancung dalam dua layer setinggi 11 meter dengan bentang tumpuan 54 m X 54 m. Sudah tentu tingkat kesulitan pembangunan kubah sangat tinggi. Masalah lanjutan muncul teknologi apa yang akan digunakan sebagai penutup bangunan kubah yang besar tersebut. Akhirnya ditemukan sebuah system yang sempat digunakan beberapa masjid besar di luar negeri antara lain Masjid Raya Selangor di Syah Alam. Sistem ini mempakan sebuah penutup atap yang terdiri dari dua lapisan penutup atap yaitu Atap Kedap Air (AKA) sedangkan lapisan kedua adalah berupa panel dari bahan baja yang bersifat sangat kuat dan tahan lama yang populer dengan nama Enamel Steel Panel (ESP).

Ukiran dan kaligrafi nampak dominan di setiap sudut masjid. Begitu masuk masjid, kita telah disambut 45 pintu ukir berbahan kayu jati. Pada serambi  masjid terdapat bedug yang diukir khusus. Tak hanya itu, ukiran kaligrafi juga terpampang di dinding, mihrab, relung imam bahkan di ornamen atas yang full kaligrafi Quran sepanjang 180 m dengan lebar 1 meter. Di malam hari, keindahan masjid makin terpancar karena penerangan yang dayanya mencapai 240 ribu watt. Megawati Soekarno Puteri, mantan Presiden RI dan suaminya, Taufik Kiemas, juga pernah menyumbang pembangunan dua ruang resepsi yang megah yaitu Ash-Shafa dan Al-Marwa. m indah yuni

mossaik november 2005

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Surabaya, Wisata Relegi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s