Masjid Tegalsari, Ponorogo


Masjid Tegalsari, Ponorogo, Oase lahirnya tokoh Islam jauh sebelum  RONGGOWARSITO menjadi pujangga besar tanah jawa, pernah nyantri disini. 

Pada paruh pertama abad ke-18, hiduplah seorang kyai besar bernama Kyai Ageng Hasan Bashari atau Besari di Desa Tegalsari, 10 kilometer ke arah selatan Ponorogo. Di tepi dua buah sungai, sungai Keyang dan sungai Malo, yang mengapit desa Tegalsari inilah Kyai Hasan Besari (alias Kyai Agung Tegalsari) mendirikan sebuah pondok yang kemudian dikenal dengan sebutan Pondok Tegalsari (ada yang menyebut pesantren Gebang Tinatar). Kyai Besari adalah cicit dari Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) dan cucu dari Sunan Ampel (Raden Rahmat) dari garis keturunan ibu. Sedangkan dari pihak ayah masih keturunan Prabu Brawijaya dari Majapahit. Dan ia cucu Kyai Ageng Mohammad Besari.

Dalam sejarahnya, Pondok Tegalsari pemah mengalami zaman keemasan berkat kealiman, kharisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya, terutama pada jaman Kyai Hasan Besari. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut  ilmu di pondok ini. Karena besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok, bahkan pondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar, misalnya desa Jabung (Nglawu), Bantengan, dan lain-lain.

Alumni pondok ini banyak yang menjadi orang besar dan berjasa kepada bangsa Indonesia. Di antara mereka ada yang menjadi kyai, ulama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, negarawan, pengusaha, bahkan pujangga keraton. Misalnya, Paku Buana II atau Sunan Kumbul, penguasa Kerajaan Kartasura; Raden Ngabehi Ronggowarsito alias Bagus Burhan (wafat 1803), seorang Pujangga Jawa yang masyhur; dan tokoh Pergerakan Nasional H.O.S. Cokroaminoto (wafat 17 Desember 1934).

Sebuah riwayat  menyebutkan, keberadaan pondok itu mengelilingi sebuah masjid yang didirikan Kyai Ageng Besari pada tahun 1760. Masjid itu pemah direhab pada tahun 1978 dan 1998, atas keinginan mantan Presiden RI, Soeharto. Menurut Afif Azhari, Ketua Yayasan Kyai Ageng Besari, rehab pertama menyalahi Bistek sehingga hampir mengubah wajah asli bangunan masjid di atas lahan seluas satu hektar itu. Dengan penambahan serambi dan bangunan di sisi kiri-kanan masjid. Namun, rehab terakhir berusaha dikembalikan lagi seperti aslinya.

Secara arsitektural, masjid ini memiliki langgam Jawa kuno. Terdiri dari tiga bangunan yang saling berhimpit, berorientasi barat-rimur, bangunan masjid beratap tajug tumpang riga terletak paling barat. Di dalam interior terdapat empat buah saka guru, 12 sakarawa, dan 24 saka pinggir penyangga atap tajug yang dipasang dengan sistem ceblokan. Struktur atap tajug diekspose, sehingga dapat diketahui bahwa brunjungnya merupakan jenis atap tajug peniung atau payung agung, karena usuknya disusun secara sorot. Selain itu, juga juga terdapat mimbar kayu berukir, yang sebetulnya merupakan replika dari mimbar asli yang telah rusak.  Mihrabnya merupakan sebuah ceruk yang dibingkai kayu ukiran dengan bentuk dan stilirasi dari kalarnakara. Di sebelah rimur masjid terdapat pendopo beratap limasan. Di sebelah timur pendopo terdapat bangunan tambahan beratap kubah metal dengan proporsi sangat pendek. Bangunan tambahan ini termasuk bangunan yang dibuat atas dana bantuan dari Soeharto. Bangunan kuno lainnya yang masih terjaga adalah rumah Kyai Ageng Besari, yang berada di depan masjid. Rumah itu dikenali sebagai rumah adat satu-satunya yang masih ada. Karena itulah, pemerintah setempat menetapkan kawasan ini sebagai obyek wisata religi.

Keunikan masjid ini bisa ditemui pada pilar-pilar kayu jati yang keseluruhannya berjumlah 36 buah, atau tembok setebal 0,5 meter. Sirap, usuk, selukat dan lain-lain, sebelum direhab pada 1978 masih asli. Ketika rehab pada 1998 pun, tidak mampu mengembalikan keaslian bangunan. Lebih parah lagi, pada masjid putri, di sebelah kanan masjid utama, semua bagian telah berubah dan nyaris tak ada bedanya dengan bangunan pada umumnya. Tempat tinggal Ronggowarsito semasa jadi santri juga sudah tak jelas keasliannya.

Di sisi barat masjid terdapat makam keluarga besar Kyai Ageng Besari. Pada saat bulan puasa, terutama sepuluh hari terakhir, kawasan ini kebanjiran pengunjung. Tak cukup hanya di lingkungan masjid, bahkan meluber sampai kawasan desa. Pada 1990-an, pemerintah bersama tokoh-tokoh agama setempat berkeinginan membesarkan pesantren itu dengan nama pesantren Ulumul Quran. Namun, kata Afif Azhari, keinginan itu hingga kini belum berhasil diwujudkan. Yang masih berjalan hingga kini adalah pesantren dengan sistem modern: Madrasah , Tsanawiyah dan Aliyah Ronggowarsito. mi husnul m

Mossaik, November 2005 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Ponorogo, Wisata Relegi dan tag , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Masjid Tegalsari, Ponorogo

  1. Muhamad Zaki berkata:

    assalamualaikum.. adakah kiyai hasan besari juga sebagai sanbesari.??.. harap respon pertanyaan daripada hamba yang faqir ini..

    • Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Tulisan tersebut PUSAKA JAWATIMURAN ambil dari Sumber “Majalah Mossaik, November 2005”, koleksi layanan DEPOSIT Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, sebagai upaya mendekatkan informasi kepada pembaca. Tentang pertanyaan saudara, Tulisan tersebut bukan berupa LEGENDA, sehingga bisa dipastikan tulisan tersebut mempunyai sumber. dan diperkuat dengan adanya peninggalan-peninggalan diantaranya Masjid Tegalsari, yang dikelilingi makam keluarga besar Kyai Ageng Besari. yang terletak di di Desa Tegalsari, 10 kilometer ke arah selatan Ponorogo. lebih jelasnya silahkan konfirmasi ke Bp.Afif Azhari(Ketua Yayasan Kyai Ageng Besari).

      • c_bulat10@yahoo.com berkata:

        Maaf Ya.. Bagaimana Caranya Saya Boleh hubungi Bp. Afif Azhari? Ada Ketahuan Nombor Telpon nya Engak atau Alamat Rumahnya..?

      • Maaf kami belum punya info yang lebih detail…, yang ada hanya: Desa Tegalsari, Ponorogo (10 kilometer ke arah selatan) Jawa Timur.

  2. anggi berkata:

    permisi,mau numpang tanya.kalau untuk ajarannya sendri bgaimana ya dpesantren gerbang tinatar itu?

  3. Teno hikmatiar berkata:

    Allahu Akbar. Salut dgn kegigihan para kiayai zaman dahulu dalam berjuang menegakkan agama Allah. Bukan dgn cara ekstrim penuh permusuhan dgn org yg beda keyakinan. Tapi berjuang dgn kesabaran yg tinggi penuh pengorbanan dan kesantunan. Semoga kita bisa meniru cara berjuang para Nabi, para Wali ,dan para kioyai yg sholeh. Amien

  4. Weny Dwi S berkata:

    bagaimana saya dapat menemukan arsip yang menyatakan bahwa H.O.S. Cokroaminoto pernah belajar disitu ? adakah sumber lisan, tulisan yang masih dapat saya temuni mengenai hal tersebut. mohon bantuannya, trimaksih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s