Sarangan, Menghantar Labuh Sesaji


Labuh sesaji marupakan satu dari beberapa event penting tahunan di Telaga Sarangan, selain Ledug Sura 1 Muharam, libur sekolah pertengahan tahun, dan pesta kembang api di malam pergantian tahun. Empat orang tampak memanggul tumpeng berukuran besar. Berdiameter sekitar tiga meter dengan tinggi satu setengah meter. Empat orang lagi memikul tumpeng satunya yang lebih kecil. Setelah dilakukan doa, tumpeng Gono Bau dan hasil bumi itu dibawa ke telaga menggunakan perahu. Sesampainya di tengah telaga, kedua tumpeng ditenggelamkan.

Artinya, upacara labuh sesaji sebagai tanda syukur warga Sarangan atas limpahan rahmat Sang Pencipta telah dilakukan. Sebelumnya, tumpeng tersebut dikirab mulai dari balai Kelurahan Sarangan yang berjarak sekitar 500 meter dari telaga. Sekitar pukul 10.45, tumpeng diberangkatkan diiringi puluhan pasukan. Diantaranya, dua pasang Bagus-Diah, 10 orang dayang, dua pujangga, Ki dan Nyi Lurah, pembawa songsong, putri Dumas, Manggoloyudho, pembawa sesaji, pasukan keraton, kejawen, pasukan berkuda, dan reog.

Kirab itu tak ubahnya kirab yang sering dilakukan masyarakat Solo dan Jogjakarta. Amat kental dengan tradisi Jawa Tengah. Bahkan Bupati Magetan, H. Saleh Muljono, pun berucap, “Kita sebenarnya memiliki banyak potensi wisata budaya, hanya saja, belum optimal penggaliannya. Dan akan kita mulai dengan larung sesaji ini. Bukan hanya Solo dan Jogja saja yang memiliki acara larung, kita juga punya di Sarangan.” Pasukan pengiring yang melibatkan banyak unsur masyarakat, juga didaulat bukan sebagai pengiring semata. Lebih dari itu keterlibatan mereka dianggap sebagai manifestasi dari pelestarian tradisi dan kesenian masyarakat Magetan, yang kaya akan seni budaya.

Mereka adalah pelaku-pelaku kesenian tradisi, seperti penari (jalak Lawu sebagai salah satu andalannya), penyanyi (lagu-lagu dan tembang Jawa), termasuk reog. Masyarakat dan pengunjung tumpah ruah di sepanjang jalan di mana pasukan kirab lewat. Mereka tampak berdesakan, berlari kecil mengikuti jalannya pasukan pengiring. Mereka berebut mengambil gambar dari kamera digital atau kamera handphonenya. Pengunjung yang menginap di hotel pun menyesaki teras hotel untuk menyaksikan prosesi upacara tersebut.

Dan, di tepi telaga juga penuh dengan manusia. Beribu-ribu, bahkan berpuluh ribu pasang mata yang mengitari telaga seakan turut mengantarkan khidmatnya upacara. Mereka bukan saja datang dari Magetan, namun juga dari luar kota, seperti Madiun, Ponorogo, Sragen, Karanganyar, Ngawi dan beberapa wisatawan luar kota lainnya. Tak puas menyaksikan jalannya larung sesaji dari bibir telaga, mereka pun tumpah ke dalam telaga, yang saat itu airnya memang sedang surut. Jarak antara air dengan tepi telaga lebih dari dua puluh meter.

TlRAKATAN
Gelaran upacara labuh sesaji di hari Minggu itu merupakan hajatan yang diselengarakan oleh pemerintah kabupaten Magetan. Prosesi labuh sesaji yang massal dengan dihadiri segenap jajaran pejabat pemkab dan sesepuh desa Sarangan itu diset-up menjadi daya tarik wisatawan. Namun, acara labuh sesaji itu sebetulnya sudah dimulai sejak dua hari sebelumnya. Tepatnya sejak malam Jumat Pon, bulan Ruwah (bulan kedelapan dalam kalender Jawa, red). Malam Jumat itu masyarakat Sarangan berbondong-bondong membawa tumpeng dan beragam sesaji ke pinggir telaga. Semalaman warga Sarangan yang berkumpul di situ melakukan tirakatan. Ucap syukur pun dikumandangkan.

Tempat mereka berkumpul juga merupakan tempat yang sudah ditentukan. Tempat itu berada di bawah pohon besar di sisi pojok sebelah timur, berdekatan dengan punden (makam) Ki dan Nyi Pasir. Di bawah pohon besar itu dipercaya sebagai tempat mukso-nya Ki Jalilung, anak pungut suami-isteri yang kental dengan legenda telaga Pasir Sarangan, yaitu Ki dan Nyi Pasir. Datangnya wangsit yang “memerintahkan” masyarakat Sarangan untuk mengirim sesaji setiap malam Jumat Pon bulan Ruwah itu, diyakini berasal dari Ki Jalilung. Konon, pesan itu diterima Ki Jalilung dari ayah angkatnya, Ki Pasir. Ki Pasir, menurut legenda babat tanah Jawa, adalah seorang pujangga dari keraton Pengging, Jawa Tengah, yang babat alas daerah Sarangan. Ki Pasir lebih dulu mukso dan dipercaya tepat pada malam Jumat Pon bulan Ruwah itu. Punden yang ada itu pun bukanlah makam sebenarnya, tapi hanya petilasan.

Pada malam tirakatan itu, menurut Ki Atmosentono, 83 tahun, selain diikuti warga setempat, juga biasa diikuti para pejabat dari pemkab Magetan. “Mereka biasanya ikut melekan sampai pagi,” tutur Ki Atmo alias Dimon, sesepuh Sarangan itu. Seperti biasa, Ki Atmo menjadi narasumber utama dalam pembicaraan sepanjang malam itu. Ki Atmo bercerita, acara malam tirakatan itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Ia sendiri sudah tak ingat sejak tahun berapa acara tumpengan seperti itu dimulai. Yang jelas, katanya, bagaimanapun acara tirakatan itu dilakukan tepat pada malam Jumat Pon bulan Ruwah seperti dititahkan Ki Jalilung. “Karena dari sananya begitu, kita tidak berani mengubahnya,” cetusnya.

Kalau kemudian acara ini dijadikan sebagai daya tarik wisata tersendiri oleh pemerintah, itu soal lain. Singkat cerita akhirnya disepakati, acara sakralnya tetap dilakukan pada malam Jumat, kemudian hari Minggunya diadakan prosesi labuh sesaji yang melibatkan banyak unsur masyarakat dan bisa disaksikan oleh pengunjung dan wisatawan. Prosesi labuh sesaji itu sendiri, konon, digelar sejak belum genap sepuluh tahun lalu. Pada perkembangannya, malam tirakatan dan labuh sesaji itu dipahami dalam dua kerangka oleh masyarakat. Pertama, acara itu hendak dibingkai secara Islam, sehingga makna utamanya sebagai tanda syukur kepada Yang Maha Pemberi nikmat atas limpahan rejeki yang telah didapat dari hasil-hasil bumi. Kedua, dalam bingkai mitologi Jawa seperti yang selama ini terjadi. Bahwa acara tirakatan dan labuh sesaji itu tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan dan mitos masyarakat terhadap Ki dan Nyi Pasir.

Lambat laun, kedua pemahaman itu pun menyatu. Acara tirakatan dan labuh sesaji itu merupakan ujud terima kasih hamba kepada Tuhan yang telah memberi kelimpahan rejeki, sekaligus kirim doa sebagai penghormatan kepada Ki dan Nyi Pasir yang memang telah berjasa besar membuka lahan yang sekarang menjadi tempat hidup dan mencari penghidupan masyarakat Sarangan.

PAKET WISATA
Upacara labuh sesaji, betapapun menjadi daya tarik wisata yang kuat di Sarangan. Telaga Pasir Sarangan yang luasnya sekitar 30 hektar, berkedalaman 28 meter, dan bersuhu udara antara 18 hingga 25 derajat Celsius, boleh jadi menyodorkan keindahan alam tak terkira. Tapi, obyek wisata alam yang terletak di kaki Gunung Lawu, sekitar 16 kilometer arah barat kota Magetan, Jawa Timur ini tak berubah dari tahun ke tahun. Unsur ini tidak cukup berdiri sendiri, dan harus ditopang dengan unsur lain seperti labuh sesaji yang mampu menawarkan daya tarik lebih bagi penikmat wisata budaya.

Tak keliru bila kemudian tradisi labuh sesaji ini dikembangkan menjadi obyek wisata andalan lainnya di Sarangan. Meski tak ada catatan resmi, diakui Iswahyudi Yulianto, Kepala Humas Pemkab Magetan, acara tahunan labuh sesaji mampu menggenjot jumlah kunjungan ke kawasan wisata Sarangan. “Katakan ini sebagai satu paket wisata andalan di Sarangan,” cetusnya. Makin berkembangnya paket wisata, tak heran bila Sarangan mampu menarik ratusan ribu pengunjung setiap tahunnya. Dari tahun ke tahun jumlah pengunjung mengalami peningkatan. Sebagai gambaran, pengunjung pada tahun 2003 sekitar 350 ribu orang dan meningkat menjadi sekitar 400 ribu orang pada tahun 2004.

Selama rentang periode tersebut, pendapatan obyek pariwisata andalan Magetan tadi meningkat dari sekitar Rp 950 juta menjadi sekitar Rp 1,01 miliar. Bahkan, menurut Yulianto, mendekati akhir tahun ini, kunjungan ke Sarangan meningkat lagi hingga 500 ribuan pengunjung. Yang artinya, pendapatan daerah dari obyek wisata ini juga makin meningkat. Diakui, sekitar 99 persen pendapatan sektor pariwisata Magetan memang dihasilkan dari kawasan wisata Telaga Sarangan. Sebagai obyek wisata, keberadaan Telaga Sarangan didukung oleh adanya hotel-hotel berbintang, pilihan hotel kelas melati, dan pondok wisata.

Fasilitas obyek wisata lainnya pun tersedia, misalnya rumah makan, tempat bermain, pasar wisata, tempat parkir, sarana telepon umum, tempat ibadat, taman, rumah makan, dan pedagang kaki lima yang menawarkan berbagai suvenir kepada pengunjung untuk membeli oleh-oleh. Telaga Sarangan juga memiliki layanan jasa sewa perahu dan becak air. Ada 51 perahu motor dan 13 becak air yang dapat digunakan untuk menjelajahi telaga. Di sekitar telaga pun banyak ditemui tukang kuda menunggu penyewa yang akan mengelilingi telaga di atas punggung kuda.

Telaga Sarangan sekarang memang tampak komplit. Namun, obyek wisata ini masih menyisakan beberapa problem, terutama menyangkut kesan semrawut disaat pengunjung membeludak, seperti di hari raya Lebaran dan perayaan Tahun Baru. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya mobil yang parkir di tepi jalan karena sebagian hotel di lokasi wisata tersebut tidak memiliki tempat parkir sendiri. Ke depan, kata Yulianto, kawasan ini akan disetup ulang secara makro. Telaga ini juga sudah dibuatkan masterplan yang akan mengatur penataan ruang bagi hotel, kendaraan, rumah makan, dan pedagang kaki lima agar lebih bagus dibandingkan dengan kondisi saat ini. Pemkab Magetan, lanjutnya, ke depan berupaya menyediakan tempat parkir representatif di sekitar Telaga Sarangan, yang mampu menampung ribuan kendaraan di saat puncak kunjungan.

Sebagai gambaran, awal  Januari 2005 lalu tercatat ada 1. 200 kendaraan roda empat dan 3.500 kendaraan roda dua masuk ke Sarangan. Penataan itu menjadi niscaya, karena Pemkab Magetan sendiri berobsesi menjadikan daerahnya sebagai kota wisata. Artinya, sektor pariwisata yang terutama bertumpu pada Telaga Sarangan akan dijadikan andalan pendapatan asli daerah tersebut. Berdasar data Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kabupaten Magetan, realisasi pendapatan retribusi sektor pariwisata daerah itu tahun 2001 hampir menyentuh Rp 600 juta, kemudian meningkat menjadi Rp 910 juta lebih pada tahun 2002.

Kemudian meningkat lagi mencapai Rp 950 juta lebih pada tahun 2003, hingga kemudian menyentuh angka Rp 1 miliar lebih pada tahun berikutnya. Terkait dengan obsesi menjadikan Magetan sebagai kota wisata, saat ini pemkab setempat tengah membuat proyek jalan tembus yang menghubungkan Telaga Sarangan dengan obyek wisata Tawangmangu di Kabupaten Karanganyar. Proyek pelebaran dan pelandaian jalan curam yang menghubungkan dua daerah tersebut diharapkan selesai dalam dua tiga tahun mendatang. Pemkab Magetan juga hendak mengembangkan Waduk Poncol  (sekitar 10 kilometer arah selatan Telaga Sarangan) sebagai obyek wisata alternatif. “Ini proyek jangka panjang. Kalau dua-tiga tahun ke depan proyek ini jadi, obyek wisata ini akan jadi Sarangan kedua,” tukasnya. Bahkan rencananya akan dibuatkan jalan tembus antara Waduk Poncol dan Sarangan. Kondisi ini akan terwujud apabila Magetan mampu dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata utama dan bukan semata disinggahi seperti yang berlangsung selama ini. Sebab, kata salah seorang Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Biro Perjalanan dan Wisata (DPD Asita) Jatim, Nanik Sutaningtyas, selama ini masih sedikit agen biro perjalanan dan wisata Jatim dari arah Surabaya yang menggarap paket wisata ke Magetan. Selama ini, yang banyak menggarap paket wisata Magetan adalah biro perjalanan wisata dari Yogyakarta. Karena, tak dapat dipungkiri, Sarangan lebih dekat dengan obyek wisata yang berada di Yogyakarta dan Jawa Tengah. mi husnul m

 

mossaik november 2005

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Magetan, Seni Budaya dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s