Wayang Potehi



Wayang Potehi, Tidak Hanya Merayakan Imlek

Tak banyak orang yang tahu, dalam perayaan lmlek selalu dimeriahkan dengan pertunjukan wayang. Ya,. namanya wayang potehi. Wayang ini berkisah tentang cerita keteladanan dan budi pekerti dari daratan Cina.

Sarna seperti wayang umumnya, wayang potehi dimainkan oleh seorang dalang. Bedanya, dalam wayang potehi terdapat seorang asisten dalang. Sebab dalam satu cerita, durasi wayang potehi bisa sampai setengah bulan lamanya. Dalam satu hari digelar tiga kali permainan, dengan waktu

permainan kurang lebih dua jam. Potehi berasal dari kata poo (kain), tay (kantung) dan hie (wayang). Wayang potehi adalah wayang boneka yang terbuat dari kain. Sang dalang akan memasukkan tangan mereka ke dalam kain tersebut dan memainkannya layaknya wayang jenis lain. Sang dalang pun tak terlihat. Hanya tangannya yang bermain menggerakkan tokoh-tokoh yang dimainkan dari dalam  tempat pegelaran.

Orang Tionghoa menyebutnya hitay. Meski terlihat seperti ukiran dari Jepara, hitay yang berukuran kurang lebih dua meter ini didatangkan langsung dari Cina. Ada lima personil dalam pagelaran wayang potehi. Dua orang sebagai dalang dan tiga orang sebagai pemain musik. Alat musik wayang potehi terdiri atas gembreng, suling, gwik gim (gitar), rebab, tambur, terompet, dan bek to. Alat terakhir ini berbentuk silinder sepanjang 5 sentirneter, mirip kentongan kecil penjual bakmi, yang jika salah pukul tidak akan mengeluarkan bunyi “trok-trok” seperti seharusnya. Setiap pemain biasanya memainkan dua alat musik. Alunan musik khas Cina mengalun lembut selama pertunjukan.

Terkadang hentakan musik menyalak saat adegan peperangan bedangsung. Di klenteng Hong Tek Hian, Surabaya, ada seratus lebih wayang potehi yang dimainkan. Ceritanya berkisah tentang ceritacerita kepahlawanan di daratan Cina dan kisah sarat budi pekerti. Dulunya wayang potehi hanya memainkan lakon-Iakon yang berasal dari kisah klasik daratan Cina, seperti kisah legenda dinasti-dinasti yang ada di China, terutama jika dimainkan di dalam kelenteng. Tapi saat ini wayang potehi sudah mengambil cerita-cerita di luar kisah klasik seperti legenda kera sakti yang tersohor itu. Pada masa masuknya pertama kali di Indonesia, wayang potehi dimainkan dalam bahasa hokkian.

Seiring dengan perkembangan zaman, wayang ini pun kemudian juga dimainkan dalam bahasa Indonesia. Karena itu, penduduk pribumipun bisa menikmati cerita yang dimainkan. Menariknya, dalang wayang potehi bukan hanya dari keturunan Cina peranakan, tetapi juga orang Jawa tulen. Misalnya saja Mujiono, salah seorang dalang wayang potehi yang tinggal di Surabaya. Bahkan sudah 25 tahun Mujiono menekuni wayang potehi. “Saya bertekad untuk terus melestarikan wayang potehi,” katanya. Muji bangga wayang potehi yang ditekuninya merupakan salah satu kesenian wayang potehi yang masih eksis, selain di Semarang, Jawa Tengah. Menjelang perayaan Imlek adalah saat panen berkah bagi Muji. Banjir order main tak hanya di Surabaya dan kota-kota besar di Jawa, tetapi juga sampai ke Sumatera dan Kalimantan. (bud)

MASA SURAM POTEHI

DiPerkirakan wayang potehi sudah ada pada  masa dinasti jin. yaitu pada abad ke 3-5 masehi dan berkembang pada dinasti song di abad 10-13 masehi. Wayang potehi masuk ke Indonesia melalui orang-orang Tionghoa yang masuk ke Indonesia di sekitar abad 16 sampai 19.

Bukan sekadar seni pertunjukan. Wayang potehi bagi keturunan Tionghoa memiliki fungsi sosial serta ritual. Tahun 1970-an sampai tahun 1990-an bisa dikatakan masa suram bagi wayang potehi. Ini karena tindakan yang cenderung represif penguasa pada masa itu terhadap kebudayaan Tionghoa.

Padahal nilai-nilai budaya yang dibawa serta oleh para keturunan Tionghoa sejak berabad-abad lalu telah tumbuh bersama budaya lokal dan menjadi budaya Indonesia. Dalam masa suram itu, wayang potehi seolah mengalami pengerdilan. Sangat sulit menemukan pementasannya saat itu. Apalagi jika bukan karena sulitnya mendapat perizinan.

Padahal jika diamati para penggiat wayang potehi sebagian besar adalah penduduk asIndonesia. Bayangkan, betapa besar apresiasi mereka terhadap budaya yang bisa dikatakan bukan budaya asli Indonesia. Namun setelah orde reformasi berjalan, angin segar seolah menyelamatkan kesenian ini. Wayang potehi bisa dipentaskan kembali dan tentu saja tidak dengan sembunyi-sembunyi.(*)

Artikel dinukil Tim Pusaka Jawatimuran  dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Teropong, Edisi 43, Januari 2009, hlm. 46

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Surabaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s