Gerabah Tondowulan, Kabupaten Jombang


Gerabah Tondowulan Tembus Luar Jawa

Belum banyak yang tahu bahwa gerabah atau barang pecah belah yang terbuat dari tanah liat diproduksi dari Dusun Mambang, Desa Tondowulan, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang. Itu memang salah satu sentra usaha gerabah yang ternyata digeluti warga setempat secara turun-temurun.

Namun ada kekhawatiran bahwa generasi sekarang cenderung enggan melanjutkan usaha nenek moyangnya itu, meski masih ada satu-dua yang peduli pada pelestariannya. “Mereka yang muda-muda memang cenderung memilih kerja di pabrik, daripada melanjutkan usaha gerabah tinggalan leluhurnya,” kata Sekretaris Desa Tondowulan, Sugeng Sularso. Berarti keberadaan gerabah produksi Dusun Mambang terancam? Buru-buru carik yang sudah berstatus PNS (pegawai negeri sipil) sejak 2009 itu menepis.
“Ya memang masih ada generasi muda yang mau melanjutkan usaha pendahulunya. Kami pikir warga Dusun Mambang, Desa Tondowulan, tetap masih eksis di usaha gerabah ini,” ujar Sugeng Sularso. Memang, selain bergelut sebagai petani dan sebagian besar buruh tani, warga Tondowulan dikenal sebagai warga yang ulet. Mereka selalu berusaha dan berkreasi dengan bahan-bahan dari alam sekitar. “Seperti ada juga yang membuat semacam nyiru atau tampah dari anyaman bambu,” lanjut Sugeng.

Dusun Mambang dikenal sebagai salah satu sentra produksi gerabah. Usaha lain adalah beternak dan bercocok tanam. Untuk kerajinan gerabah, pada dasarnya ada Desa Tondowulan saja, khususnya di Dusun Mambang. Gerabah yang diproduksi antara lain cobek, layah (cobek besar) dan layah bolong, gentong, pot bunga dari tanah liat, tungku atau anglo dan lainnya. Usaha tersebut berjalan sejak dulu dan mungkin sekarang generasi penerus sudah agak berkurang.

Pasalnya, bahannya juga kurang menunjang. Kalau tanah liat sekarang makin lama makin berkurang. “Sekarang harus pakai campuran pasir. Dulu untuk tanah liat Tondowulan sudah bisa langsung dipakai, tanpa campuran pasir. Sekarang tanah liat terlalu pekat harus dicampur pasir khusus dari daerah Badas, Pare (Kediri),” kata Sekdes Tondowulan itu. Sedangkan untuk pemasaran gerabah Desa Tondowulan hampir seluruh tengkulak Jawa Timur. Ada juga Surabaya, terutama di daerah Menganti. Gerabah ini masih sering dipakai untuk acara bersih desa. Bahkan gerabah Tondowulan tembus hingga keluar Jawa, seperti Bawean.

“Ada sekitar 178 pengrajin yang melakukan usahanya secara turun-temurun. Sebagian warga utamanya muda-mudi sulit, meski masih saja ada yang mau melanjutkan. Mereka lebih suka bekerja di pabrik, seperti di pabrik rokok Sampoerna di kawasan Ploso, Jombang,” ujar dia. Sekdes optimistis kerajinan gerabah tetap dapat dileluri terus, masih ada pengrajin gerabah yang muda-muda, sekitar 30% dari seluruh pengrajin. Industri rumah tangga gerabah ini yang mengerjakan antara lain bapa, ibu, dan anak. “Terkadang ibu dan anak yang membuat, bapaknya yang manjual keliling,” lanjutnya.

Proses pembuatan layah (cowek besar), ada dua macam. Layah bolong untuk tatakan wajan dan lainnya, yang laku keras. Membakarnya sendiri-sendiri, cukup di halaman dengan bahan bakar sebagian kecil kayu dan jerami. Satu hari rata-rata dapat membuat 50 layah perorang. Pemasaran lancar, malah kekurangan stok, karena di pasaran masih banyak dibutuhkan. Cowek, layah bolong, kemaron, gentong, jambangan (untuk mandi), anglo, pot bunga dan beberapa lainnya.

Pembuatan gerabah sekarang kesulitan pasir untuk campuran tanah liat. Pasirnya ‘impor’ dari Badas, Pare. Ada ciri-ciri tertentu. Tanah sini kalau kurang pasir malah mudah pecah. Pasir yang lembut tidak bisa, yang agak kasar juga tidak bisa. Harga jual cowek Rp 750 ke tengkulak, layah Rp 1.500, layah bolong juga Rp 1.500, gentong dan jambangan Rp 35.000, di luar bisa Rp 75 ribu. Menjadi mahal karena ada resiko pecah. Kadang membawa tujuh, sampai di tempat tujuan tinggal enam atau lima jambangan. Proses pembakaran sekitar dua jam.

“Dulu kami pernah mendapat bantuan pakai tungku, yang pakai kayu, malah nggak matang. Tanpa tungku, ditumpuk dikasih jerami atau larahan (sampah), justru bisa matang,” kata Sugeng, yang diamini salah satu pengrajin, Ny Paisih.  Desa lain di Kecamatan Plandaan tidak ada kerajinan gerabah, cuma di Desa Tondowulan. Dulu pernah buat suvenir, sekitar 1998, pemasarannya yang lama, prosesnya juga lama. Akhirnya kembali lagi ke cowek dan layah bolong, yang cara membuatnya sudah terampil dan cepat pula lakunya. Pembuatan gentong secara bertahap, sampai tiga kali. Sepertiga bagian, berhenti membuat lainnya. Nanti kalau sudah agak kering ditambahi di atasnya lagi.

Sedangkan Ny. Paisih (55), salah satu pengrajin gerabah di Dusun Mambang, menyatakan, dalam sehari mampu membuat 20 tungku dari tanah liat. Kalau pembuatan layah bisa 50 buah per hari, cowek bisa lebih banyak lagi. Untuk penghasilan, sebulan tidak tentu. Tanah liat yang rusak bisa diolah lagi. Sementara pemberiaan pewarna oker sebelum dibakar sudah tampak kemerahan seperti sudah dibakar. Gerabah hasil kerajinan Ny. Paisih dijual ke tengkulak, yakni untuk tungku seharga Rp 5 ribu, kalau layah Rp 2 ribu (edt,bdh)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Derap Desa, Edisi 45, Juli 2011, hlm. 40.

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jombang, Sentra dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Gerabah Tondowulan, Kabupaten Jombang

  1. fredi berkata:

    numpang iklan gan…sedia aneka centong/solet/telenan dari kayu aren ataupun sokokeling,dan organiser sepatu,tas dan jilbab,,produk lengkap dan harga cek @ http://udkaryamukti.blogspot.com ( harga jauh lebih murah karena saya produksi sendiri ) welcome reseller ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s