Kangkung Kosmetik, Kabupaten Mojokerto


Memetik Untung Kangkung Kosmetik

Kangkung. Ya, anda mungkin mengenal kangkung adalah jenis tanaman sayur-sayuran yang cukup banyak penggemarnya. Biasanya kangkung ini sebagai pelengkap nasi pecel, urap-urap, sayur asem, cah kangkung, atau sayuran pelengkap bagi sambel sangat pedas.

Namun mungkin belum banyak yang tahu tentang kangkung kosmetik atau kangkung biji. Bentuk hampir sama, tapi kangkung jenis ini ternyata menjadi tanaman yang cukup prospektif dan menghasilkan. Pendapatan petani kangkung biji ini naik 5-6 kali lipat dari kangkung. Karena itulah, kini banyak petani sayur beralih menanam kangkung kosmetik.

Misalnya, Ny. Warsiah, 40, warga Desa Mojosarirejo Kec. Kemlagi, Kab. Mojokerto mengatakan, sudah dua tahun menjadi petani kangkung sayur. Dari lahan setengah hektare, setiap bulan wanita bertubuh tambun ini mendapatkan keuntungan bersih Rp 1 juta. Sejak berganti tanam kangkung kosmetik setiap bulan ibu tiga anak ini mampu mendapat keuntungan bersih Rp 4,9 juta. Harga jual biji kangkung cabut di luar kontrak Rp 12 ribu/kg. Jika menjualnya melalui kontrak harganya Rp 8.000/kg.

Selain di Desa Mojosarirejo, tanaman kangkung kosmetik juga dapat ditemukan di Dusun Bakalan dan Kalimati, Desa Mojodadi, lalu Dusun Semampir Lor, Desa Mojokumpul. Selain itu beberapa warga di wilayah Kec. Kemlagi, beberapa warga di desa-desa Kab. Mojokerto, seperti di Kec. Dawarblandong dan Kec. Jetis, juga banyak yang menanam kangkung kosmetik. Bahkan beberapa wilayah di Kabupaten Jombang, seperti Kec. Ploso, Kabuh, Plandaan, dan Megaluh. Selain itu juga di beberapa wilayah di Kab. Gresik, seperti di Kec. Balongpanggang Benjeng, Kedamaian maupun Wringinanom. Di beberapa desa di kabupaten Sidoarjo, seperti di wilayah Kec. Balongbendo, Krian, dan Kec. Tarik. Sementara di Desa Mojodadi, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, sudah lebih dari dua tahun ini para petani menanam kangkung kosmetik. Disebut kangkung kosmetik karena kabarnya jenis kangkung untuk bahan kosmetik. Tapi juga ada yang mengatakan untuk bahan pembuatan oli.

Lebih Mudah
Djono, salah satu petani di Dusun Bakalan, Desa Mojodadi, mengatakan, dibandingkan menanam tanaman jenis lain, seperti padi, tembakau atau tebu, ia lebih memilih menanam kangkung. “Perawatannya tidak seberapa berat. Hasilnya juga lebih bagus,” kata dia. Apalagi usia Djono juga sudah tidak muda lagi. Usianya memasuki kepala enam, atau sudah 60 tahun ke atas. Tentu sebagai petani yang dulu di masa mudanya dikenal pethel (giat bekerja, Red) kini dia tidak ngaya (ngotot) lagi. Tapi untuk sekedar mananam kangkung dinilainya tak berat.

Sawah seluas hampir seperempat hektar itu ditanaminya kangkung. Ia sebarkan benih kangkung di sebuah petak kecil dan dalam usia sekitar dua minggu sudah bisa diambil bibit benihnya untuk ditanam di petak sawah yang lebih luas.

Dalam kondisi tanah agak kering musim kemarau tiba ia terpaksa memakai sistem gejik, yakni membuat lobang di sawah dalam jarak tertentu dan menanamkan satu persatu bibit benih kangkung. “Beda kalau tanahnya lembek, biasanya benih cukup kita sebar tanpa membuat bibit dulu,” ujar pria yang memiliki tiga putra yang semua yang semuanya sudah berumah tangga itu.

Dengan sawah kurang dari seperempat hektar, Djono sempat kurang perhitungan. Sebenamya cukup benih kering kurang dari 2 kg sudah ditanam di sawahnya itu. Karena khawatir kurang, ia sempat menambah lagi, tapi toh akhirnya bibit benihnya kelebihan. Mengenai perawatan, maksimal hanya dua kali diberi pupuk. Risiko pemupukan adalah rumput liar yang menyertai kangkung tumbuh. “Rumputnya ikut gemuk. Ya itu menjadi tugas kami untuk ‘” membasmi,” ujarnya. Usia kangkung siap panen sekitar empat bulan. Yang diambil adalah biji, buahnya yang mirip biji randu, coklat kehitaman, tapi ukurannya jauh lebih kecil. Harganya pun berkisar antara Rp 8 ribu hingga Rp 8,5 ribu. Petani kangkung di kawasan Kemlagi dan sekitarnya biasanya telah menjalin kerjasama dengan pemilik modal. “Kami yang memiliki sawah dan menanami. Modal, mulai benih, pupuk hingga pasca panennya harus setor ke mereka,” kata Djono, yang diamini beberapa petani lainnya.

Sementara Abdullah (43) misalnya, petani asal Desan Gunungsari, Kec. Dawarblandong Kab. Mojokerto ditemui terpisah, mengatakan, dia sudah menjadi petani kangkung selama tiga tahun. Namun, dia bam merasakan keuntungan besar saat dia menjadi petani kangkung biji. Panen pertama di pertengahan Juli 2010 dari lahan 1 hektare mendapatkan keuntungan bersih Rp 30 juta. Padahal, kalau kangkungnya dijual sayur keuntungan bersih diperoleh paling besar dalam tempo 3 bulan Rp 3 juta.” Lahan saya 2 hektare semuanya sekarang saya tanami kangkung. Satu setengah hektare untuk kangkung kosmetik. Sisanya setengah untuk sayur. Kalau semuanya saya jual biji, kasihan tengkulak langganan saya yang sudah lebih dari 1 tahun berbisnis dengan saya,” kata Abdullah.

Daun Laku
Tak hanya biji buahnya yang laku. Daun kering sisa panennya pun juga ada yang mau. Harganya pun berkisar antara Rp 6 ribu hingga Rp 9 ribu untuk sekarung daun kering padat dengan bobot sekitar 30 kg. Waris, salah satu guru yang mengulak sisa panen daun kangkung, di antara warga yang beruntung. Beberapa kali dia mendapatkan keuntungan lumayan dari hasil mengulak sisa daun kangkung kering itu. “Untungnya lumayan sih,” kata Waris.

Tapi Waris kini mendapatkan saingan baru, karena para pemilik modal ternyata juga meminta sisa daun kangkung kering. Harganya pun bersaing sehingga petani yang dimodali mau tak mau menjualnya ke pemilik modal mengingat sudah ada perjanjian sebelumnya. Djono menyatakan, tak hanya bijinya yang harus dijual ke pemilik modal, daun keringnya pun harus dijual ke sana. “Ya nggak masalah, yang penting harganya cocok. Itu menjadi keuntungan tersendiri bagi kami,” lanjut Djono.

Dengan menanam kangkung kosmetik atau kangkung biji, pendapatannya sebagai petani lumayan bagus dibandingkan menanam jagung, tembakau, padi atau tebu. Selain perawatannya mudah, harganya juga signifikan. Ia mencontohkan, sawah seluas seperempat hektar kurang dalam waktu 3-4 bulan memperoleh pendapatan bersih Rp 3-4 juta. “Itu setelah dipotong benih, pupuk dan lain-lain dari pemilik modal atau pengepul,” kata Djono.

Sedangkan ketika dia menanam padi, hasilnya tidak sebagus menanam kangkung kosmetik. Dengan luas sawah yang sama, saat itu Djono hanya memperoleh Rp 3 juta kotor alias belum dipotong benih, pupuk, perawatan dan lain-lain. Memang ada sebagian warga yang tidak melanjutkan menanam kangkungnya karena beberapa waktu lalu dihantam anomali cuaca. Mereka banyak yang mengeluh, ketika musim panen tiba dan biji mulai mengering, tiba-tiba turun hujan.

“Hujan yang menyebabkan biji rontok dan tumbuh lagi. Dampaknya hasil panen tidak sesuai harapan, seperti yang dialami beberapa teman petani dari Semampir Lor, akhimya banyak yang menghentikan penanamannya,” ujar Djono. Meski demikian, di lahan sawah tadah hujan itu warga Keeamatan Kemlagi dan sekitamya harus kreatif memanfaatkan situasi. Tanpa ada kreativitas maka perkembangan pendapatan mereka dari sawah tidak memadai. (edt)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Derap desa, Edisi 45 Juli 2011, hlm. 38

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Mojokerto, Sentra dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Kangkung Kosmetik, Kabupaten Mojokerto

  1. yusuf berkata:

    berapa harga ampas kangkung sekarang hub 081232936398

  2. Boim berkata:

    Berapa harga ampas kangkung sekarang hub. BOIM 08985483134

  3. dianninda berkata:

    harga daun kangkung kering berapa per karungnya. hp. hub 085855966969

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s