Kampung Jajan, Keputran Panjunan


Sepotong kisah dari kampong jajan
Ketika orang-orang mulai beringsut di bawah selimut, warga sebuah gang kecil di Keputran Panjunan malah baru memulai hari

Kampung jajan. Demikian masyarakat seputar Keputran menunjuk sebuah gang kecil dan padat, dimana seluruh warganya berprofesi sebagai pembuat jajan pasar. Lewat di gang ini, kita harus serba hati-hati. Selain hanya bisa dilewati satu orang, mereka yang berjalan harus ekstra hati-hati. Karena di sepanjang lorong sempit ini berjajar kompor di kanan-kiri, menempel di bangunan rumah bersama perabotan masak, seperti panci, dan wajan.

Mereka yang datang dengan membawa kendaraan pribadi biasanya memanfaatkan lahan parkir di pinggir Jalan Urip Sumoharjo. Setelah itu, baru berjalan kaki ke arah Keputran Panjunan Gang 33 No 66. Mendengar alamat ini, jangan membayangkan bahwa yang akan Anda temui adalah satu rumah produksi jajan. “Karena semua rumah di gang ini nomornya ya 66,” kata salah satu warga di gang ini.

Beberapa kali Mossaik belusukan di Keputran Panjunan Gang 33, ada kesan, gang kecil ini tak pernah tidur bahkan di malam hari. Selalu ramai. Ada suara bocah kecil yang berlarian, atau suara para perempuan yang sibuk membuat jajan pasar. Sementara para pria di kampung ini, sibuk bekerja di luar sebagai kuli bangunan, buruh pabrik, tukang parkir, dan tukang becak.

Tidak ada yang bisa menjelaskan, mulai kapan warga Keputran Panjunan memiliki profesi seragam. Rata-rata mereka menjawab, apa yang dilakukan adalah tradisi keluarga atau warisan orangtua. Seperti cerita Umi, salah satu warga Keputran Panjunan, yang sudah hampir lima belas tahun ini melakoni malam dengan berkutat di depan sebuah baskom besar, berisi beras ketan, kacang merah dan parutan kelapa.

Dalam bekerja, ia dibantu suami dan empat anaknya. Tangantangan mungil anaknya kebagian tugas memasukkan campuran beras ketan ke dalam janur, sedang Sang Suami sibuk memisahan daun janur dari batang lidi. Sesekali, wanita ini beranjak dari tempat duduk, mengambil janur yang telah terisi beras ketan, lalu memasukkannya ke dalam panci. Wuss, uap panas lalu menyembur keluar begitu tutup panci dibuka. Tinggal menunggu lima jam sampai akhirnya lepet itu matang.

Bisa dibayangkan, rumah kecil tempat tinggal mereka terasa begitu pengap dan panas. Karena harus berbagi dengan lima kompor minyak tanah untuk mengukus lepet, dan aktifitas keluarga lainnya. Setiap hari kecuali Sabtu, mulai pukul tujuh malam hingga pukul dua dini hari, rutinitas seperti ini dilakukan keluarga Umi. Sang Suami bertugas ke pasar untuk membeli segala kebutuhan, lalu Umi menyiapkan bahan lepet dan mengurusi rumah dibantu tiga orang anak perempuannya. Dari empat anaknya, hanya satu orang yang bersekolah yaitu si sulung, anak laki satu-satunya. Ketiga anak yang lain hanya sampai SD dan SMP.

“Anak perempuan ngga usah sekolah tinggi-tinggi, lagian biayanya juga ngga ada,” alasan Umi yang mengaku tidak bisa baca tulis ini. Umi bersama keluarga, terbiasa kerja mulai petang hingga dini hari. “Semua ikutan kerja, mau gimana lagi sandang pangannya ya dari sini,” ujar Umi sambil menunjuk ikatan lepet. Sehari tak kurang, 40 kilogram beras ketan diolah menjadi seribu lima ratus buah lepet. Sekitar pukul tiga subuh, ada pedagang yang mengambil lepet-lepet ini. Pedagang ini kulakan dengan harga Rp 250. Kemudian dijual ke pasar dengan harga Rp 300. Untung baru dirasakan jika lepetnya ludes terjual, paling tidak sekitar Rp 30 ribu bakal diterimanya hari ini. Namun alih-alih ludes, yang sering malah tekor karena lepet yang tidak laku dikembalikan lagi oleh pedagang. “Jualan sekarang rugi terus, harga-harga pada naik tapi harga jual tetep,” keluh Umi yang mengaku bertahan membuat lepet karena tidak memiliki pilihan lain.

Banjir Jajan
Ema dan Suparmi, hampir tak mengenal waktu tidur tetap lagi. Kalaupun siang hari mereka berada di rumah, sulit mencari waktu untuk menikmati tidur. Ada kewajiban selaku ibu rumah tangga yang harus mereka lakukan. Untuk dapat tidur nyenyak pun sulit bukan main. lingkungan rumah di gang ini padat tak memungkinkannya bisa pulas lama-lama. Belum lagi kesibukan mempersiapkan anak-anaknya berangkat ke sekolah.

Kaum wanita pembuat jajan pasar pasrah dengan nasib yang menggiring mereka bekerja larut malam hingga dini hari. Banyak dari mereka tak pernah berkeluh kesah dengan kondisi itu. “Sudah dua puluh tahun saya bekerja seperti ini,” ujar Suparmi. Nenek berusia 60 tahun ini masih setia membuat lapis kanji dan getas. Tiga dari enam orang anaknya juga bekerja sebagai pembuat jajan pasar. Ketiga anaknya ini juga menempati rumah di gang 33 ini. Tepat di sebelah rumah, anak tertuanya Jumaa’ ti membuat dadar gulung. Ibu satu anak ini duduk di lorong gang, duduk di atas dingklik, sebelah kanannya baskom besar berisi adonan dadar gulung. Di depannya dua kompor menyala dengan api sedang, sambil menuang adonan ke wajan teflon mata wanita ini sesekali membagi perhatian ke layar televisi. Adonan yang telah digoreng lalu ditelungkupkan ke dalam piring ceper, kemudian diisi parutan kelapa yang telah diberi gula. Lalu digulung.

“Mulai jam satu siang saya sudah buat parutan kelapa, malamnya saya tinggal buat kulit dadar gulung,” tuturnya. Dalam semalam ia meyelesaikan sekitar 600 buah dadar gulung. Dadar gulung ini dijual perbuah Rp 250 sampai di pasar harga jualnya menjadi Rp 300. “Untungnya paling banyak dua puluh lima ribu,” kata ]umaa’ti. Keuntungan yang tidak seberapa ini diakui ibu satu anak tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi sang suami hanya bekerja sebagai tukang parkir di Gramedia.

Menjelang musim hujan, warga kampung jajan ketar-ketir, bagaimana tidak, meluapnya air berakibat menguapnya pendapatan mereka. Setiap musim hujan mereka harus menghadapi dua masalah sekaligus, yaitu banjir air sekaligus banjir jajan. Air yang masuk ke dalam rumah tidak tanggungtanggung di atas mata kaki. Jika sudah begini, bukan kerepotan menyelamatkan barang tapi bagaimana produksi jajan tetap jalan, karena di sini satu-satunya sumber mata pencaharian.

Penderitaan ini masih ditambah balenan istilah untuk jajan yang tidak laku dijual. “Sudah kehujanan, dagangan tidak laku. Mau apa lagi. Mungkin memang harus begini,” kata Ema dengan nada lirih. Balenan jajan di musim hujan inilah yang mereka sebut ‘banjir jajan’. Kalau sudah begini, jajan tesebut dibagi-bagikan kepada tukang becak dan buruh pabrik di sekitar kampung. Kadang, karena tidak ada tempat menampung jajan balenan tersebut dibiarkan terapung-apung dimainkan genangan air. Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya jika musim hujan, banyak jajan yang tidak laku, pembuat jajan pasar ini mengurangi produksinya. “Kami memproduksi setengah dari hari biasa,” tutur Ema.

Protes Harga Naik
Sama seperti Umi, menjadi pembuat jajan pasar merupakan pilihan terakhir bagi Asni 32 tahun. Ibu empat orang anak ini sebenarnya lelah bekerja siang malam membuat kue. Apalagi profesi ini sudah ditekuni sejak masih gadis membantu sang ibu. Namun kebutuhan ekonomi mendesaknya untuk mencari tambahan biaya, pendapatan suami yang bekerja sebagai penarik becak tidak mampu untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Keahlian membuat jajan klepon dan pluntir diperoleh dari Bu Jumo ibunya. Kegiatannya sudah dilakukan selepas maghrib, dimulai dari membuat jeladrenan, campuran kanji dan ketela lalu pewarna hijau.

Dengan terampil tangannya mulai menguleni adonan, semakin lama gerakannya semakin lambat karena adonan mulai lengket dan berat. Hampir setengah jam Asni berkutat dengan adonan tersebut. Setengah jam kemudian adonan tersebut didiamkan dan ditutup kain. Sambil menunggu adonan mengembang. Asni ganti membuat adonan jajan pluntir. Setiap hari ia membuat 50 buah klepon dan 50 buah jajan pluntir. Kleponnya berukuran besar, satu buah klepon dijual Rp 200. Harga jajan pluntir juga sama. “Dulu jaman ibu saya jualannya banyak, ada klanting, ongol-ongol, getas, lapis. Sekarang Cuma dua macam saja,” terangnya.

Bu Jumo, sang ibu yang sekarang kebagian tugas mengemas klepon dalam plastik menuturkan, jika berjualan sekarang jauh lebih sulit mengeruk untung dibanding jamannya. Nenek 14 cucu ini mengisahkan dulu harga jajan pasar hanya Rp 80, di pasar dijual Rp 100. Harga satu sak terigu dua tahun lalu hanya Rp 30 ribu sekarang sudah Rp 90 ribu. “Dulu bathinya lumayan, sekarang balik modal saja sudah untung,” keluhnya. Pernah suatu hari, modal untuk berjualan jajan pasar habis, akhirnya ia pun rela ‘turun ke jalan’ untuk ngeleles plastik.

Hidup dari hari ke hari bertambah berat, minyak tanah langka dan harga-harga terus merangkak membuat beban kian saat dirasakan ibu-ibu pembuat jajan pasar ini. “Saya bekerja pagi, siang, dan malam. Mulai subuh berangkat ke pasar, setelah itu menyiapkan adonan. Siang hari saya membuat apem dan perut ayam, malam hari saya menggoreng cucur.

Saya bekerja terus, tapi kebutuhan tetap saja tidak mencukupi,” keluh Jumaa’ti. Keluhan demi keluh an yang lebih mirip keputusasaan itu kemudian mengalir dari mulutnya mempersalahkan si pembuat kebijakan atas melambungnya harga-harga sekarang ini. “Mbak titip pesan kalau bisa harga-harga jangan naik, yang berat ya orang kecil kayak kita ini,” celetuk seorang ibu, ketika Mossaik beranjak pamit  pulang. mi manda roosa  

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Mossaik, november 2005, hlm. 41

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Surabaya, Wisata Kuliner dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s