Kerajinan Tempurung (batok kelapa), Kabupaten Blitar


Jawa Timur amat kaya tanaman kelapa, apalagi di daerah pesisir. Sebuah peluang yang perlu digarap lebih serius untuk menghasilkan kerajinan dari aneka tempurung berkualitas. Di provinsi ini sebenarnya sudah ada ratusan perajin tempurung (batok kelapa), seiring meruahnya limbah buah kelapa itu. Bentuknya beraneka ragam, semisal tas, aksesori, hiasan interior ruangan, kalung, celengan, topeng, tempat tisu, dompet, sendok, garpu, serta peralatan masak lainnya.

Warnanya pun khas dan alami: kecoklatan. Mengolah batok, seperti juga kerajinan lainnya, butuh kreativitas dan keterampilan. Kreatif membuat model agar menarik minat pasar, termasuk di luar negeri. Terampil membuat bentuk yang khas dan trendy agar disenangi konsumen. Perajin Bali dan Yogya bisa dijadikan contoh hal itu, karena lebih halus mengerjakannya. Seperti yang diungkapkan Dwi Wahyuni (42 tahun), penggemar kerajinan tempurung kelapa. “Dulu saya membeli di Bali. Hasil olahan tempurung di sana lebih halus dan bentuknya inovatif. Kalau yang saya jumpai di Jatim, kok standar.”

Jelajah Pasar Ekspor
Bagi Hepicsa Setiayuda, perajin batok kelapa asal Blitar, ide awal memulai usaha ini dilatarbelakangi limbah tempurung yang melimpah di desanya, Seduri, Kecamatan Wonodadi. “Waktu itu, yang diolah cuma isi buahnya, tempurungnya dibuang dan numpuk. Di tempat lain ada yang dipakai bahan baku briket tapi tidak banyak, mungkin karena teknologi pengolahnya juga terbatas,” ujar mantan guru SD berusia 26 tahun ini.

Paman Hepic, seperti yang dilansir situs kompas, iseng-iseng mengolah tempurung sendiri dengan dibantu mesin potong sederhana berukuran kecil. Dari situlah usaha berawal, sekitar 11 tahun silam. Dulu modalnya kecil sekali, sekarang omzet per bulan tak kurang dari Rp 70 juta. Tapi diakuinya, tahun 2010 termasuk sepi order. Ini karena perajin sudah amat banyak, persaingan pun kian ketat. Sekarang, order dari mancanegara tinggal Malaysia dan Thailand saja. Jenis kerajinan yang banyak dipesan seperti lampu hias dan tas.

“Sebetulnya apapun jenis usaha pengolahan limbah,” kata Hepicsa, bisa berkembang jika didukung. Kendalanya justru bukan modal, tapi inovasi dan pemasaran. Soalnya, kerajinan ini di pasar domestik sudah mulai jenuh. Tapi, untuk ekspor memang tak gampang. Standar kualitas harus tinggi, jumlah produksinya juga harus stabil. Melalui gerai Sutik Kelapa, Wood and Coconut, Hepic dan 78 warga kampungnya kini mampu memroduksi 200 unit barang per jenis. Saat ini ada sekitar 50 jenis, antara lain celengan, tempat tisu, dompet, topeng, ragam aksesori, tas, hiasan interior ruangan.

Sistem kerjanya borongan. Warga mengerjakan di rumah sendiri, finishingnya di pabrik Hepic. Tapi untuk jenis lampu hias, tak bisa lansung dikerjakan banyak karena tenaga ahlinya cuma seorang. Untuk menggali pasar, Hepic memanfaatkan browsing di dunia maya dan konsultasi pada eksportir. Ia juga dapat pembinaan dari Universitas Brawijaya dan Dinas Sosial Provinsi Jatim, sekaligus menggali inovasi dari sana.

Alumni Pendidikan Keguruan dari Unesa ini bermaksud menjelajah pasar ekspor Australia dan Amerika. Sudah ada penawaran dari sana. Ia tinggal menginovasi produk dan mengirim contoh. Kerajinan, apapun jenisnya, memang butuh kreativitas dan keterampilan, disertai usaha yang ulet dan jeli. (tf)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Derap Desa, Edisi XXXXI Maret 2011, hlm. 37

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Blitar, Sentra dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s