Keripik Pisang, Lumajang


UD Shabrina yang bergerak di bidang usaha kripik pisang dirintis November 2002 oleh suami istri, Drs. Aminuddin dan Dra. SS Mahendar. Awal merintis kripik pisang dengan memulai memasarkan sendiri di dalam dan luar kota. “Alhamdulillah, kami akhirnya juga bisa ikut pasar lelang di Bank Jatim Surabaya yang diadakan Disperindag, setiap sebulan sekali. Bahkan, kami juga sempat masuk ke Carrefour di Mayjen Sungkono Surabaya. Itulah cikal bakalnya,” cerita Aminuddin, di rumahnya UD Shabrina, Jl. Setail No 20 Lumajang.

DALAM melakukan bisnis kripik pisang, banyak suka duka dialami. Dukanya, dalam melakukan bisnis kripik pisang ini memang tidak langsung mendapat pasar, tapi lebih kurang dua tahun pasar itu baru ada. “Sebelurnnya kita mencari dan mencari pasar. Pokoknya dimulai dari modal kompor dan wajan paling kecil sampai sekarang sudah menggunakan kompor dan wajan yang paling besar.

Termasuk penggunaan teknologi, juga begitu. Kita dari pengalaman teman-teman pertama mencoba tabung butuh seminggu sampai tiga pompa habis. Akhirnya ada saran dari teman yang menggunakan electric pump yang sekali pakai bisa untuk tiga kompor,” cerita Aminuddin. Ketika awal-awal produksi, karyawan yang direkut 12 orang, tapi semuanya berjalan semrawut. Maklum baru pertama kali. Selanjutnya ada proses penyeleksian karena dianggap terlalu banyak, sekarang tinggal 8 orang. Selama 2,5 tahun mereka baru bisa dilepas. Tapi itu pun mereka tidak bekerja setiap hari, seminggu dua kali.

Dikatakan, persaingan kripik pisang di Lumajang itu banyak. Makanya sekali ambil pisang agung sebagai bahan baku berukuran satu pikap, sekitar 115-150 tandan. Kalau awal-awal membuka usaha kripik memang harus mengambil sendiri, tapi sekarang malah ia dikirim. “Ya seminggu sekali, tinggal angkat telepon berapa kebutuhannya langsung dikirim,” papar Aminuddin. Untuk mengiris pisang menjadi pipih seperti bentuk yang diinginkan, Aminuddin semula menggunakan pasrah. Akhirnya ia menemukan alat yang menggunakan teknologi tepat guna, namanya pasrah serbaguna yang didapat dari Magelang. Keunggulan alat ini, kalau dulu sendirian dua jam baru dapat satu bak, kini seperempat jam bisa menghasilkan satu bak, karena alat serbaguna ini menggunakan empat pisau. “Ini lebih efisien! Kalau dulu yang masrah itu empat lima orang, kini cukup dikerjakan satu orang cukup,” kata Aminuddin yang berputra empat ini.

Merk yang dipakai untuk kripik pisang pun tidak susah-susah, cukup menggunakan nama anak pertamanya, Shabrina. Merk ini sejak awal harus diimbangi dengan menciptakan produk yang berbeda dari umumnya.

Misal, sejak awal ia tidak menggunakan bahan pengawet atau pewarna. “Kita hanya memanfaatkan pisang aslinya ya seperti itu, makanya dalam pemilihan bahan baku kita selektif sekali. Makanya kripik pisang bikinan saya bila pakai bungkus plastik yang standar, bisa tahan 6 sampai 8 bulan. Lebih-lebih kalau pembungkusnya alumunium foil, bisa bertahan hingga satu tahun lebih,” ungkapnya.

Soal kebersihan dan keamanan pangan, kripik pisang Shabrina juga mendapat sertifikat bintang dari balai POM empat tahun berturut-turut. Di bidang kualitas, juga pernah ikut lomba UP3HP (Unit Pelayanan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian) Dinas Pertanian Provinsi Jatim mendapat juara pertama (2006). “Satu lagi yang perlu ditonjolkan adalah pengolahan limbah. Boleh dibilang usaha saya itu tanpa limbah. Untuk sisa minyak saya berikan pada tetangga setelah dua kali proses tidak dipakai. Sekali produk, menghabiskan 6 galon. Satu galon bersisi 18 liter. Sedangkan kulit pisang saya berikan pada mereka yang punya peliharaan ternak. Disamping usaha sendiri istri saya juga sering memberi pembinaan pada UKM yang lain,” aku Aminuddin.

Untuk pemasaran, memang pernah dirintis ekspor tapi gagal karena tidak cocok harga. Pernah ditawarkan ke Afrika, dan Saudi Arabia. “Sekarang membidik pasar lokal saja rasanya sudah kewalahan melayaninya antara lain ke Jember, Probolinggo, Surabaya, Jakarta, Kalimantan dan lain-lain. Retur barang pun kadang paling banyak sekitar 5 persen. Itu karena kita memang menyuplai tidak banyak-banyak, saya perkirakan habis terjual,” ucap Aminuddin. Pembinaan, menurutnya, hampir semua lintas instansi melakukannya. Misal, dari segi keamanan dilakukan dinas kesehatan, dari segi pemasaran dilakukan Disperindag, peningkatan kualitas dari dinas pertanian. Namun yang paling aktif adalah Dinas Perdagangan dan Dinas Pertanian. “Kalau Disperindag punya pasar selalu diinformasikan kepada kita, atau dia punya kegiatan pameran kami diikut sertakan dengan mengirim barang,” jelas Mahendar, yang menemani Aminuddin.

Soal modal, ia mengaku mendapat bantuan dana bergulir dari APBD Provinsi Jawa Timur yang disalurkan lewat Bank Jatim dengan bunga 0,6 persen. “Kami dapat pinjaman sebanyak Rp 75 juta. Setelah lunas saya tidak menambah jumlah pinjaman. Maunya usaha tanpa utang gitu lo sehingga kami bisa menikmati hasil usaha. Ya, tapi begitu mau lunas biasanya pihak bank menawarkan pinjaman lagi. Hehehehe … ,” timpal Aminuddin. Nyatanya, usaha yang digeluti Aminuddin bersama istri pun berkembang. Kini, tak hanya kripik pisang dengan tiga rasa tapi sudah merambah pada produk lain seperti kripik nangka, ketela ungu, gadung, pohong, dan rengginang. “Kami juga mengalami panen pasar, misal seminggu sebelum Lebaran dan dua minggu setelah Lebaran. Saat-saat seperti ini kami kewalahan melayani para pembeli, karena jumlahnya bisa meningkat dua kali lipat lebih.

Kadang-kadang hari ketujuh kehabisan stok, karena pisang sudah tidak ada di Senduro, sudah borong ramai-ramai oleh pengusaha keripik pisang sehingga harga pisang naik. Kalau stok nanggung, seminggu setelah hari raya sudah habis,” papar Aminuddin, asli Palembang. Obsesi Aminuddin, disamping mempertahankan kualitas dan menambah kuantitas, ia ingin punya outlet/showroom. Sementara ini penjualan hasil produksinya dilakukan di rumah dan supermarket-supermarket yang ada di Lumajang.

“Cita-cita mendirikan semacam pabrik memang ada, tapi semuanya kembali ke pasar. Semakin besar pasar, Insya Allah usaha rumahtangga akan bisa menjadi pabrik. Untuk mengembangkan usaha, saya juga sudah berkali-kali mengikuti lelang yang diadakan di Bank Jatim setiap akhir bulan. Hasilnya memang ada bahkan sempat melakukan transaksi di Carrefour, Sinar Supermarket, dan lain-lain,” kisahnya.

Akhirnya suami istri ini, Aminuddin dan SS. Mahindar, punya harapan-harapan ke depan antara lain: 1. Untuk mengangkat UKM di Jawa Timur khususnya, dan Indonesia, harus mencontoh Jepang. Di Jepang setiap kabupaten punya ikon sendiri-sendiri. Misal, Lumajang punya ikon kripik pisang -mungkin tak cuma kripik pisang saja- dibuatkan olutlet di tengah kota. Kalau ada tamu mesti mampir, inilah ikon suatu daerah. 2. Setiap kabupaten bekerjasama dengan LIPI mendirikan Iptek. Silakan yang mengelola pemerintah daerah dan LIPI yang meneliti produk masing-masing daerah. Kalau kualitasnya sudah bagus, dibuatkan outlet. Tidak hanya produk olahan, tapi juga bisa semua produk UKM. 3. Disamping outlet, juga punya pasar wisata yang tradisional. Misal, kalau ada ikon buah disitu, pasar-pasar yang kecil dan punya produk bagus bisa ditaruh di situ. 4. UKM jangan dipersulit mengambil kredit, terutama bunga 0,6%. Bunganya murah, tapi syaratnya banyak sekali. Tolong, persyaratannya lebih dipermudah, yang penting ada ujud usaha. Kalau tidak ada ujud usaha, jangan diberi . • abi/djup/ryan

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  SAREKDA Jawa Timur, edisi 008 12010, hlm. 24

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Lumajang, Sentra dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Keripik Pisang, Lumajang

  1. 3 bintang mas berkata:

    Kepada UD.Shabrina bisa minta contact personnya. kirim di no tlp 081231740586. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s