Puspa Agro, Pakde Larang Jual Buah Impor


PASAR INDUK Puspa Agro di Jemundo Sidoarjo dihajatkan untuk memberdayakan buah lokal. Karena itu terasa tidak elok bila pasar itu dibanjiri buah impor. Apalagi Jawa Timur memiliki aneka ragam buah-buahan seperti jeruk, anggur, mangga, manggis, pisang, nanas, apukat, jambu biji, jambu air, rambutan, salak, dur ian, sirsat, dan apel. Gubernur Jawa Timur, Dr. Soekarwo menaruh perhatian serius pada realitas ini.

Buah lokal tentu saja memiliki kelebihan. Kualitasnya bagus, banyak mengandung vitamin, tidak diberi pengawet dan masih segar karena baru dipetik dari kebun. Sedangkan buah impor impor ditengarai mengandung bahan pengawet sejenis merkuri yang sangat merugikan dan berbahaya bagi kesehatan man usia. Selain itu diduga juga mengandung obat anti ham a dan dilapisi lilin. Untuk memastikannya memang masih diperlukan penelitian dan uji labolatorium.

ltulah sebabnya banyak kalangan menyayangkan banyaknya buah impor dar; China dan Thailan membanjiri pasar tradisional dan modern di Jawa Timur, termasuk Pasar Induk Puspa Agro. Apalagi buahbuahan impor itu sudah begitu memasyarakat, sedangkan buah-buahan tropis asal negeri sendiri justru terlupakan. Kini hampir semua pedagang buah di pasar Puspa Agro menjual buah-buahan impor seperti jeruk dan apel asal China.

Gubernur Soekarwo meminta pedagang di Puspa Agro dan pasar tradisional lainnya tidak menjual buah jeruk impor yang berwarna kuning. “Buah jeruk asal China

ini sangat berbahaya karena mengandung merkuri yang menyebabkan gangguan kesehatan seperti bayi lahir cacat, kemandulan, dan impotensi bagi laki-laki yang mengkonsumsinya;’ kata Pakde Karwo pada pedagang buah saat mengunjungi stan buah Puspa Agro.

Dalam kunjungi itu Pakde didampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dan beberapa pejabat lainnya serta Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri, La Nyalla Mahmud Mattalitti dan Direktur Utama Puspa Agro, Erlangga Satriagung.

Di hadapan para pedagang dan pembeli, Pakde Karwo meminta para pedagang menjual jeruk lokal yang dari segi kualitas bisa bersaing dengan jeruk China. “Jeruk maupun buah lokal pasti lebih sehat dibanding buah asalluar negeri, karena tidak bermerkuri dan segar karena baru dipetik dari kebun;’ katanya.

Pemilik stan buah di Puspa Agro, Slamet Riyadi mengaku kesulitan mendapatkan jeruk lokal yang kualitas dan harganya bisa menyaingi jeruk asal China. Saat ini harga 1kg jeruk China hanya Rp 13 ribu. Itu sama dengan harga jeruk keprok siam asal Banyuwangi. Namun banyak pembeli memilih jeruk China karena warnanya kuning mencolok dan lebih manis dibanding jeruk keprok siam.

Slamet tidak tahu jeruk China yang dijualnya mengandung bahan pengawet yang dalam jangka panjang membahayakan kesehatan manusia. “Wah, saya hanya pedagang Pak. Saya baru tahu setelah diberitahu Pakde Karwo;’ katanya.

Direktur Puspa Agro, Erlangga Satriagung mengakui, masuknya buah impor sangat merugikan petani buah Jawa Timur. Apalagi jeruk keprok siam Banyuwangi sebenarnya tidak kalah kualitasnya. “Kita akan mengimbau pedagang untuk tidak menjual buah impor di Puspa Agro. Kami juga akan memberikan kemudahan kepada petani lokal untuk memasukkan hasil panen buahnya ke Puspa Agro;’ katanya.

Ia mengakui, tujuan utama dibangunnya pasar Induk Puspa Agro untuk memberikan kesempatan kepada para petani menjual panennya kepada pembeli tanpa melalui tengkulak atau perantara. “Kita akan terus melakukan sosialisasi tentang keberadaan pasar Puspa Agro kepada seluruh petani di Jawa Timur;’ katanya.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan I Tahun 2011 ini, impor buah-buahan, terutama jeruk mandarin. Apel, dan pir dari China, memang meningkat tajam. Impor jeruk mandarin pada Januari Maret 2011 senilai 85.352.866 dolar AS. Padahal pada periode yang sama tahun lalu masih berkisar 68.103.952 dolar AS. Itu berarti melonjak 25,32 persen. Kondisi yang sama terjadi pada impor buah pir, Januari-Maret 2011 mencapai 30.392.987 dolar AS. Melonjak 168,56 persen dibanding Januari-Maret 2010 yang hanya 11.317.116 dolar AS.

Ketua Asosiasi Eksportir Sayuran dan Buah Indonesia (AESBI), Hasan Widjaja mengakui buah dari China memiliki banyak keunggulan, harga rendah dan pasokan melimpah. Contoh jeruk mandarin yang Rp 17.000 per kilogram. Bandingkan dengan jeruk Medan atau jeruk Pontianak Rp 20.000 per kilogram. “Para pedagang otomatis memilih jeruk impor;’ ujarnya.

Soal pasokan, China punya kawasan produksi buahbuahan dan sayuran yang memadai. Produksinya terusmenerus sepanjang tahun. Sebaliknya, produksi buah lokal sering mandek akibat cuaca buruk. Indonesia juga tidak memiliki kawasan khusus yang dijadikan lumbung produksi buah. Akibatnya produksi buah-buahan local timbul tenggelam. Pengiriman buah impor biasanya makan waktu minggu, bahkan bulan.

Buah disemprot zat antihama dan juga dilapisi dengan sejenis lilin, agar kulitnya tidak kering dan tetap kilap hingga terkesan segar. Dicuci air saja tidak cukup. Disarankan untuk mengupas kulitnya sebelum dikonsumsi. Inilah kelemahan buah impor disbanding buah lokal. Sudah tak segar lagi, dan gizinya juga sudah jauh berkurang. (Naryo)

Potensi, EDISI 05, MEI 2011, hlm. 24.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sentra, Surabaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Puspa Agro, Pakde Larang Jual Buah Impor

  1. Ping balik: Jual Kue Selendang Mayang - Pakaian Murah Ada Dimana Mana

  2. Ping balik: Jual Es Selendang Mayang Di Jakarta - Pakaian Murah Ada Dimana Mana

  3. Ping balik: Tempat Jual Selendang Tari - Pakaian Murah Ada Dimana Mana

  4. Ping balik: Jual Selendang Mayang - Pakaian Murah Ada Dimana Mana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s