Candi Kidal: Kisah Pahatan Sarat Pesan Moral


Berwisata purbakala Majapahit di wilayah Malang tidak lengkap jika tidak menengok Candi Kidal dan Candi Jago di wilayah Kecamatan Tumpang, sekitar 20 Km arah timur laut dari pusat Kota Malang. Dua candi itu sangat bermakna bagi para raja Kerajaan Majapahit, yang tidak lain adalah keturunan Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari. Karena letaknya jauh dari pusat keramaian, Candi Kidal tidak sepopuler Candi Jago atau candi lainnya di wilayah Malang Raya. Namun Candi Kidal dianggap memiliki makna dan nilai historis yang tinggi. Seperli pepatah, tak kenal maka tak sayang. Karena itulah edisi kali, Derap Desa menurunkan sekelumit cerita ten tang Candi Kidal.

CANDI Kidal terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang. Candi ini dibangun pada tahun 1248 M, bertepatan dengan berakhirnya rangkaian upacara pemakaman Cradha (tahun ke-12). Hal itu sekaligus sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar Anusapati, raja kedua Kerajaan Singasari, yang memerintah selama 20 tahun (1227-1248). Kematian Anusapati dibunuh Panji Tohjaya sebagai bagian dari perebutan kekuasaan di Singasari, yang juga diyakini sebagai bagian kutukan Mpu Gandring.

Setelah selesai pemugaran pada dekade 1990-an, candi ini sekarang berdiri tegak dan kokoh serta menampakkan keindahannya. Hanya saja sampai medio 2011, jalan ke tempat itu masih rusak parah. Meski demikian, di sekitar candi banyak terdapat pohon-pohon besar dan rindang. Taman candi juga tertata dengan baik, ditambah lingkungan yang bemuansa pedesaan menambah suasana asri bila berkunjung kesana.

Dari daftar buku pengunjung yang ada nampak bahwa Candi Kidal tidak sepopuler Candi Singosari, Candi Jago, atau Candi Jawi di Pandaan. Ini diduga karena Candi Kidal terletak jauh di pedesaan. Juga tidak banyak pakar sejarah mengulas. Demikian pula buku-buku panduan pariwisata jarang mencantumkannya. Secara arsitektur, Candi Kidal kental dengan budaya Jawa Timuran. Candi itu juga memuat eerita Garudeya, cerita mitologi Hindu, yang berisi pesan moral pembebasan dari perbudakan. Kisah Garudeya yang penuh makna itu menginspirasi para pendiri negeri Republik Indonesia.

Selain itu, Candi Kidal memiliki beberapa kelebihan menarik disbanding candi-candi lainnya. Candi terbuat dari batu andesit (batukali) dan berdimensi geometris vertikal. Kaki eandi Nampak agak tinggi dengan tangga masuk keatas kecil-kecil seolah-olah bukan tangga masuk sesungguhnya. Badan candi lebih kecil dibandingkan luas kaki serta atap candi sehingga memberi kesan ramping. Pada kaki dan tubuh candi terdapat hiasan medallion serta sabuk melingkar menghiasi badan candi.

Atap candi terdiri atas tiga tingkat yang semakin ke atas semakin kecil dengan bagian paling atas mempunyai permukaan cukup luas tanpa hiasan atap seperti ratna (ciri khas candi Hindu) atau stupa (ciri khas candi Budha). Masing-masing tingkat disisakan ruang agak luas dan diberi hiasan. Hal menonjol lainnya adalah kepala Kala yang dipahatkan diatas pintu masuk dan bilik-bilik candi. Kala, salah satu aspek Dewa Siwa dan umurnnya dikenal sebagai penjaga bangunan suci.

Hiasan tersebut tampak menyeramkan dengan matanya melotot, mulutnya terbuka dan dua taringnya besar dan bengkok memberi kesan dominan. Adanya taring juga merupakan ciri khas candi corak Jawa Timuran. Di sudut kiri dan kanannya terdapat jari  tangan dengan mudra (sikap) menggegam. Maka sempurnalah tugasnya sebagai penjaga bangunan suci candi.

Relief Garudeya
Di sekeliling candi terdapat sisa-sisa pondasi dari sebuah tembok keliling yang berhasil digali kembali sebagai hasil pemugaran tahun 1990-an. Terdapat tangga masuk menuju kompleks candi disebelah barat melalui tembok tersebut namun sulit dipastikan apakah memang demikian aslinya. Jika dilihat dari perspektif tanah sekeliling, dataran kompleks Candi Kidal agak menjorok ke dalam sekitar 1 meter dari permukaan tanah. Apakah dataran ini permukaan tanah sesungguhnya, atau akibat dari bencana alam seperti banjir atau gunung meletus tidak dapat diketahui dengan pasti.

Diturut dari usianya, Candi Kidal merupakan candi tertua dari peninggalan candi-candi periode Jawa Timur pasca Jawa Tengah (abad ke-5-10 M). Hal ini karena periode Mpu Sindok (abad X M), Airlangga (abad Xl M) dan Kediri (abad XII M) sebelumnya tidak meninggalkan sebuah candi, kecuali Candi Belahan (Gempol) dan Jolotundo (Trawas) yang sesungguhnya bukan candi melainkan petirtaan. Sesungguhnya ada candi yang lebih tua yakni Candi Kagenengan yang menurut versi Kitab Nagarakretagama adalah tempat di-dharmakannya Ken Arok, ayah tiri Anusapati. Namun candi ini sampai sekarang belum pernah ditemukan.

Seperti disebutkan di atas, Candi Kidal memiliki relief cerita legenda Garudeya. Cerita itu digambarkan dalam pahatan tiga buah relief indah di bagian kaki candi. Cerita ini sangat populer di kalangan masyarakat Jawa saat itu sebagai cerita moral tentang pembebasan atau ruwatan. Dalam Kesusastraan Jawa kuno yang berbentuk kakawin, mengisahkan tentang perjalanan Garuda membebaskan ibunya dari perbudakan dengan penebusan air suci amerta.

Cerita itu juga ada pada candi Jawa Timur yang lain, yakni di candi Sukuh (di lereng utara Gunung Lawu). Cerita Garuda sangat dikenal masyarakat pada waktu berkembang pesat agama Hindu aliran Waisnawa (Wisnu) terutama pada periode kerajaan Kahuripan dan Kediri. Sampai-sampai Airlangga, raja Kahuripan, setelah meninggal diwujudkan sebagai Dewa Wisnu pada Candi Belahan dan Jolotundo. Bahkan patung Wisnu di atas Garuda paling indah sekarang tersimpan di Museum Trowulan dan diduga berasal dari Candi Belaban.

Narasi cerita Garudeya dalam tiga relief dan masing-masing terletak pada bagian tengah sisi-sisi kaki candi kecuali pintu masuk. Pembacaannya dengan cara prasawiya (berjalan berlawanan arah jarum jam) dimulai dari sisi sebelah selatan atau sisi sebelab kanan tangga masuk candi. Relief pertama menggambarkan Garuda di bawah tiga ekor ular, relief kedua melukiskan Garuda dengan kendi di atas kepalanya, dan relief ketiga Garuda menggendong seorang wanita. Di antara ketiga relief tersebut, relief kedua adalah yang paling indah dan masih utuh. (bdb)

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Derap Desa, Edisi 46, Agustus 2011, hlm. 46

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Malang, Sejarah, Wisata, Wisata Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s