Mantu Kucing, Kabupaten Malang


Mantu Kucing, Tradisi Meminta Hujan~~,. .

Bertahun-tahun masyarakat Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, mempunyal upacara ritual mantu kucing. Tujuannya adalah meminta hujan. Tapi ada pemikiran mengemasnya menjadi paket wisata.

Hari Sabtu, tanggal 20 November 2004, tiba-tiba hujan deras mengguyur kota Malang. Hujan disertai angin dan petir. Bahkan, saking kencangnya angin, banyak pohon-pohon yang tumbang. Banjir di mana-mana. Meski hujan mencemaskan, namun banyak orang yang mensyukuri, sebab mereka memang sudah lama menantikan datangnya hujan.

Tahun 2004 datangnya hujan memang agak terlambat. Kemarau terlampau lama, sehingga menyebabkan bendungan susut, sungai mengering, dan sawah puso. Walau pada bulan-bulan yang mestinya sudah turun hujan, namun panas masih menusuk bumi. Itu sebabnya, banyak doa dan ritual minta hujan dilakukan di mana-mana.

Satu kebetulan atau tidak, pada sore sebelum hujan deras mengguyur Malang, tepatnya tanggal19 November, penduduk Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, menyelanggarakan upacara ritual menikahkan kucing atau lebih akrab dikenal mantu kucing. Upacara apa ini? Meminta hujan.

Mantu kucing, bagi masyarakat Desa Sumberejo, sudah dikenal bertahuntahun lampau. Tapi entah mengapa, sejak 10 tahun terakhir, ritual yang menikahkan sepasang kucing ini hilang. Orang-orang melupakan. Tetapi belakangan, setelah menderita lantaran musim kemarau terlalu panjang, penduduk teringat dengan upacara adat yang pemah ada ini.

“Bertahun-tahun nenek moyang di des a sini sudah mengadakan upacara adat ini. Adanya musim kemarau yang panjang, akhimya mengingatkan karni pada tradisi yang pemah ada, yaitu meminta kepada Gusti Allah agar memberi hujan,” kata Mustakim, Ketua Swaka Masyarakat Desa Sumberejo. Dan esoknya, hujan dating mengguyur Kabupaten Malang.

Diarak ke Sendang
Upacara mantu kucing ini diadakan sore hari. Orang-orang berjalan beriringan sepanjang 2 Km menuju sendang Ubalan. Seperti laiknya iringiringan manten, seekor kucing jantan yang dikerangkeng itu diiring ke sumber Ubalan, mata air di desa itu. Kandang dihiasi aneka hiasan kertas, ditandu, dan dinaungi payung. Namanya saja kucing, diarak seperti itu, kelihatan panik dan berusaha kabur.

Sedangkan “mempelai wanita”, yaitu kucing betina, asalnya dari Dusun Sumber Wangi Desa Sumberejo. Apakah kedua kucing ini pernah berpacaran atau tidak, tentu tidak ada yang tahu. Tapi yang pasti, haruslah seekor kucing betina yang sehat secara jasmani. Juga tidak ada persyaratan lain, seperti rnisalnya harus berwama bulu uang limapuluh ribu rupiah. Ubo rampe ini dipikul pria menuju Sumber Ubalan, dengan iringan musikjidor.

Wanita-wania mengenakan kebaya berada di barisan depan sendiri. Paras mereka cantik-cantik. Mereka juga menenteng poster bertuliskan: Nak Mas Bagus, Mugi Tirto Muduno. Sementara jauh di belakang mereka, singo barong meliuk-liuk. Bendera merah putih dikibar-kibarkan.

Di sumber air Ubalan puluhan orang sudah berkumpul menanti kedatangan rombongan kucing jantan. Umbul-umbul warna merah dan putih dikibarkan. Di mata air yang dilindungi pohon beringin itu perwakilan sesepuh adat melakukan doa sambil membakar dupa. Ketika iring-iringan ini datang, disambut ledakan petasan.

Iring-iringan manten kucing betina menyambut dari seberang sungai yang  dangkal. Mereka juga mernikul kandang berhias yang di dalarnnya mendekam kucing betina. Temu man ten pundilakukan. Kedua kucing dikeluarkan dari kandangnya, kemudian ditemukan. Sekali lagi, namanya juga hewan, ketika temu manten, kucing jantan merontaronta ingin melepaskan diri. Pada saat itulah dibacakan semacam mantra oleh seorang wanita.

itu kedua kucing dibawa ke mata air. Disaksikan ratusan orang yang berjejal-jejal, kedua kucing dirnandikan. Kedua kucing tetap meronta-ronta berusaha kabur. U sai dimandikan, kedua kucing tersebut dicelup-celupkan ke dalam air, lalu dilepas. Tepuk Sorak mengiringi kedua kucing yang bingung itu berenang, melarikan diri. Memang, namanya saja hew an, meski sudah dinikahkan mereka tetap hidup berpisah.

Sampai di situkah ritual ini? Temyata tidak, sebab setelah kedua “mempelai” kabur, dilakukan serah terima mahar. Manten kucing jantan diwakili Kepala Desa Sumberejo, sedangkan mempelai betina diwakili sesepuh adat Dusun Sumberwangi. Lalu dilanjutkan dengan memanjatkan doa.

Setelah itu diteruskan dengan kenduri. Makan bersama. Ayam bakar, nasi dikepal-kepal. Usai dibacakan doa semacam mantra oleh sesepuh desa, yang intinya petani rninta hujan kepada Tuhan, dilanjutkan makan bersama. Buah dibagikan kepada siapa saja. Upacara ini dipungkasi dengan tari jaranan.

Paket Wisata
Penduduk Desa Sumberejo, yang terdiri atas enam dusun itu, mengaku tidak tahu kapan persisnya ritual mantu kucing itu ada. Mereka hanya tahu kalau mbah-mbah-nyadulu, setiap merninta hujan, menggunakan sarana ritual tersebut, yaitu ritual mantu kucing. Bersamaan dengan per-kembangan zaman, upacara adat yang sudah mentradisi itu berangsur-angsur hilang.

Makanya sese-puh Desa Sumberejo sepakat ingin tetap melestarikan tradisi tersebut. Bagaimanapun juga ini warisan nenek moyang yang tidak boleh digusur begitu saja. Jika tidak segera dilestarikan mulai sekarang, kelak pasti hilang. “Karena itu kami ingin melestarikan tradisi ini supaya tidak lekang dirnakan zaman,” kata Suwardi, Kepala Desa Sumberejo.

Bahkan, supaya tetap eksis, perangkat desa mencoba menawarkan kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Malang, yaitu menjadikan upacara mantu kucing ini menjadi objek wisata budaya. “Sehingga kita menguri-uri tradisi ini tidak sia-sia. Jadi, selain sebagai ritual, juga menjadi paket wisata,” kata Suwardi.

Suwardi optirnis, selain aset wisata Pantai Balai Kambang dan wisata alam di Malang Selatan, tradisi mantu kucing ini tidak kalah menariknya, yaitu sebagai paket wisata budaya. Setidaknya, jika paket mantu kucing dike mas secara bagus dan masuk kalender tahunan, akan melengkapi potensi wisata di Malang Selatan. Selain upacara ritual, mantu kucing juga dimeriahkan dengan macam-macam jenis tarian dan musik (bud)

 
Teropong, Edisi 19, Januari-Pebruari 2005, hlm. 38
 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Malang, Seni Budaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s