Ludruk, Yang Kusayang Yang Kunanti


Kidung Romantis, Ludruk terlaris
YANG KUSAYANG YANG KUNANTI, SIAPA BILANG LUDRUK TAK DIMINATI

Bekupon omahe Doro
Melok Nipon Uripe Sangsoro
(Bekupon rumah burung dara ikut membela Nippon-Jepang, hidup sengsara)

Cak Durasim

Aku iki seniman
BBM mundak sepi tanggapane
(Saya ini seniman BBM naik, jarang mendapat tanggapan)

Cak Kartolo

 

Parikan di atas mengilustrasikan setidaknya dua semangat yang berbeda generasi. Yang pertama menggelorakan nasionalisme, dan kedua menampakkan kondisi seniman (ludruk) dalam pentas modernitas kekinian. Ini menggambarkan pula betapa ludruk di masa penjajahan Jepang sudah sedemikian berpengaruh. Sehingga, Cak Durasim, seniman ludruk asal Surabaya dan kawan-kawan terpaksa harus ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Jepang karena kidungan jula-julinya itu.

Sementara sinyalemen Cak Kartolo, menunjukkan betapa seniman ludruk sudah jarang pentas karena minimnya penanggap. Kesenian Ludruk tak kalah menarik dengan tayangan sinetron atau film di televisi. Lalu, kalau masih ada yang rindu dengan Ludruk, di mana bisa menikmatinya?.

Ludruk yang berkembang sejak sekira tahun 1985 hingga sekarang, tidak sama dengan 1980-an atau tahun-tahun sebelumnya. Pada perkembangannya, ludruk yang berkembang pulu kebanyakan adalah ludruk tobong atau tunilan. Istilah tobong untuk menggambarkan setiap pertunjukan ludruk lokasinya dikelilingi seng dan penonton harus membayar tiket masuk untuk dapat menikmatinya.

Di Surabaya, kata Hengki Kusuma, pegiat seni ludruk dari Dewan Kesenian Surabaya, dulu ada banyak ludruk tobong. Menyebut beberapa yang paling terkenal, antara lain Kopasgat, Sarimurni dan Baru Budi. Kelompok ludruk ini sering nobong di Pulo Wonokromo. Sering pula di lapangan Pacar Keling dan Gedung Kalibokor Surabaya.

Lokasi pementasannya memang berpindah-pindah, tergantung selera pasar. Saat itu, kata Hengky, ludruk tobong sangat berjaya. Dalam semaiam, bisa mendapat hasil hingga Rp 2 juta. Angka ini sangat mengesankan, untuk ukuran saat itu. “Seingat saya, ludruk Kopasgat pernah menembus angka Rp 3 juta semalam,” ungkap pelaku ludruk RRI Surabaya.

Sekali nobong, sebuah kelompok ludruk bisa menetap hingga tiga bulan di suatu tempat. Namun tidak lebih. Sebab, cetusnya, melebihi waktu tiga bulan, pementasan ludruk itu sudah jarang  didatangi pengunjung. Bila sudah demikian, mau tidak mau ikelompok ludruk tobong harus mencari tempat baru. “Dan biasanya mereka memilih pindah ke luar kota,” imbuhnya.

Karenanya, ludruk tobong lambat laun mulai kehilangan stamina. Satu persatu berguguran, dan berganti dengan bunculnya ludruk teropan atau tanggapan. Namun, ludruk tobong tak hilang sama sekali. Ada sebuah catatan menyebutkan, pada 1994, grup ludruk keliling tinggal 14 grup saja. Mereka main di desa-desa yang belum mempunyai listrik dengan tarif Rp 350. Grup ini didukung oleh 50-60 orang pemain. Penghasilan mereka sangat minim antara Rp 1500 – Rp 2500 per malam. Bila pertunjukan sepi, terpaksa mengambil uang kas untuk biaya makan di desa.

Hingga kini pun, menurut catatan Hengky, masih ada sekitar enam ludruk tobong di Jawa Timur. Sebut misalnya, Irama Budaya (Surabaya), Mandala (Mojokerto), Satriya Manggala, (pare Kediri), Mamik Jaya (Trenggalek), Bangkit Budaya (Madiun), dan sebuah kelompok ludruk di Tulungagung.

LUDRUK TERLARIS

Ludruk terop sendiri mengalami booming pada 1985. Ludruk terop artinya sebuah kelompok ludruk yang pentas berdasar pesanan. Misalnya pada acara perkawinan, sunatan, sedekah bumi, ulang tahun, atau agustusan. Mereka biasanya memiliki sekretariat di daerah tertentu, dan baru pentas kalau ada pesanan tanggapan.

Namun, jangan disangka ludruk sudah ditelan zaman. Untuk beberapa kasus, mungkin ya. Tapi, pada kasus lain kita akan disentakkan betapa jam terbang mereka tercatat luar biasa. Mereka bisa mengadakan pementasan hingga lebih dari 150 kali dalam setahun. Suatu angka yang fantastis!. Hengky sempat merangking kelompok-kelompok ludruk paling laris di Jawa Timur, berdasar jumlah tanggapannya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: mossaik, juni 2006, hlm. 63.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Seni Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s