Kampung Ilmu, Surabaya


Kampung Ilmu Pusatnya Buku Bekas di Surabaya

Di  kalangan pelajar dan mahasiswa, terutama mereka yang haus ilmu pengetahuan atau rajin membaca di Surabaya, tentunya tahu pusat penjualan buku bekas di sepanjang trotoar stasiun Pasar Turi Jalan Semarang Surabaya. Pusat penjualan buku tersebut memang terkesan kumuh karena dijual oleh para PKL. Tapi dari pusat penjualan buku bekas inilah banyak terlahir intelektual-intelektual asal kota Surabaya. Maklum sejak tahun 1975, saat lapak-lapak PKL buku bekas ini didirikan, tempat ini banyak menjadi jujugan pelajar ataupun mahasiswa untuk mencari buku, yang bahkan tidak pernah ada di toko buku. Atau buku yang stoknya sudah tidak dijual lagi di toko buku besar sekalipun.

Di tengah sibuknya transaksi

Penjualan buku bekas di Jalan Semarang inilah, kenyamanan para pedagang buku sempat terusik oleh penggusuran yang terjadi pada tahun 2008. Namun berkat kegigihan mereka dalam memperjuangkan kepentingan bersama antara hak untuk hidup dan hak masyarakat untuk memperoleh pengetahuan dengan cara yang murah, akhirnya terjadilah sebuah perlawanan, yang akhirnya tercipta solusi dengan mengumpulkan pedagang pada satu tempat yang kemudian dinamakan Kampung Ilmu.

Di Kampung Ilmu yang letaknya masih di sekitar Jl. Semarang inilah para PKL penjual buku bekas dengan nyaman tetap bisa meneruskan usahanya. Dan di tempat ini pulalah, para penikmat buku, pelajar dan mahasiswa yang haus ilmu kembali bisa menemukan surganya dalam menambah khasanah ilmu pengetahuan. Dan Surabaya tidak perlu berkecil hati lagi dengan kota lain seperti Jakarta yang punya kawasan Kwitang dan toko buku Jose Rizal Manua di Taman Ismail Marzuki yang menjadi rujukan orang menemukan buku bekas dan murah. Juga di Malang yang punya Jl. Sriwijaya dan Yogjakarta yang memiliki Shopping Center.

Lebih menarik lagi Kampung Ilmu yang didirikan tanggal 16 Maret 2008 ini, memiliki areal yang cukup tenang dan tepat untuk dijadikan sebuah tempat wisata baca. Karena di atas tanah seluas 2500 meter persegi ini juga disediakan rumah joglo yang bisa dijadikan tempat singgah sejenak atau sekadar membaca dan belajar.

Seperti dituturkan Ketua Paguyuban Pedagang Buku Kampung Ilmu, Budi Santoso. Pria kelahiran Surabaya 37 tahun lalu ini mengaku sudah menjadi pedagang buku bekas karena meneruskan usaha orang tuanya yang berdagang sejak pertama kali lapak-lapak buku bekas didirikan tahun 1975. Bapak dua anak yang mudah akrab dengan orang yang baru dikenal ini menceritakan, awal mula berdirinya Kampung Ilmu ini bermula dari peringatan pengosongan trotoar depan Stasiun Pasar Turi pada Januari 2008. Peringatan itu disampaikan langsung oleh Polwiltabes Surabaya yang didampingi petugas dari kecamatan dan satpol PP.

Dari peringatan pengosongan inilah pedagang mengadukan masalah ini pada DPRD Surabaya. Namun sejauh itu tidak ada solusi apapun dari DPRD. Namun dia dan para pedagang tidak menyerah begitu saja. Sama dengan semangat Surabaya tahun 1945, para pedagang berusaha melakukan perlawanan. Namun kali ini dengan menggunakan aksi damai, yakni minta pendapat orang atau masyarakat Surabaya yang lewat di Jl. Semarang untuk tanda tangan di atas kain sepanjang 300 meter. Mereka diminta memberikan tanggapannya soal penggusuran Jl. Semarang.

Dari bentangan spanduk 300 meter yang semakin hari terus ditandatangani dan ditangggapi masyarakat akhirnya didapatkan solusi bahwa pengosongan PKL buku bekas ini tidak bisa begitu saja dilenyapkan. Tetapi harus dilakukan relokasi PKL. Maka dari pemikiran itulah, Pemkot Surabaya kemudian menyediakan tanah kosong yang semula menjadi tempat penimbunan sampah di Jl. Semarang no 55 ini untuk merelokasi para pedagang buku bekas. Kemudian tempat inilah yang kemudian dinamakan Kampung IImu dan menjadi tempat wisata baca di Surabaya. “Nama Kampung Ilmu sendiri sebenarnya berasal dari pemikiran pada aspek social budaya dan pendidikan,” ujar Budi. Secara sosial Kampung Ilmu ini sebagai tempat para pedagang mencari nafkah. Kemudian, dari aspek budaya, Kampung Ilmu menjadi tempat pijakan masyarakat kelas menengah ke bawah yang masih banyak di Surabaya yang ingin mencari buku murah dengan harga terjangkau. Sedangkan unsur pendidikanya, tentunya di sinilah terjadi interaksi antara penjual dan pembeli ataupun orang yang menjual koleksi bukunya. Dengan harapan agar buku tersebut bisa dibeli orang sehingga orang bisa merawat dan meneruskan membaca bukunya. Atau secara tidak langsung terjadi transfer ilmu pengetahuan.

Tidak hanya sekadar aspek jual beli buku saja. Di Kampung Ilmu ini juga mulai didirikan tempat kursus Bahasa Inggris yang murah. Pengajarnya para pelajar St. Louis. Setiap sore juga digunakan untuk mengaji bagi anak-anak pedagang. Sehingga Kampung IImu mulai bergairah dan sarat dengan berbagai kegiatan yang bersifat edukatif.

“Memang secara ekonomi saat ini perkembangannya masih belum begitu bisa dirasakan pedagang. Jika dibandingkan dengan saat sebelum direlokasi, saat masih jualan di trotoar Stasiun Pasar Turi pendapatan kotor per hari bisa mencapai Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu dengan keuangan bersih per hari sekitar Rp 100 hingga Rp 150 ribu per hari. Saat ini pendapatan bersih hanya sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu, dengan keuntungan kotor hanya Rp 200 ribu hingga Rp150 ribu,” kata Budi.

Namun sekarang masih beruntung dibandingkan tahun pertama berjualan di Kampung Ilmu, atau sekitar tahun 2008 hingga pertengahan 2009. Saat itu nyaris pendapatan tidak ada. Pasalnya belum banyak masyarakat yang tahu keberadaan Kampung Ilmu. Mereka pikir PKL buku bekas sudah enyah. Sehingga para pedagang terpaksa harus bertahan dengan keadaan yang tidak pasti. Ibaratnya untuk makan mereka harus jual kalung, jual televisi dan perabotan lain yang bisa dijual.

Namun demikian bukan aspek ekonomi itu saja yang dikejar dengan berdirinya Kampung Ilmu ini. Lebih dari itu ada cita-cita dan harapan besar lainya yang lambat laun harus bisa dicapai oleh pemerintah kota dan masyarakat Surabaya atas kontribusi yang diberikan oleh Kampung IImu.

Di antaranya, Kampung Ilmu harus bisa menjadi salah satu ikon Surabaya sebagai salah satu wahana dan sarana pendidikan dengan biaya murah. Kampung Ilmu juga harus bisa menjadi proyek percontohan pengumpulan PKL. Mengurangi angka pengangguran dengan memberdayakan hal-hal yang ada di Kampung Ilmu. Dan yang tidak kalah pen ting adalah untuk menciptakan generasi intelektual-intelektual masa depan dari kalangan menengah ke bawah.

“Sampai saat ini di dalam Kampung Ilmu ada 84 pedagang. Jumlah itu sudah ada sejak berdiri dan tidak tambah dan tidak kurang. Bagi Pemkot Surabaya, jumlah itu sebaiknya tidak ditambah dulu. Bagi pedagang jumlah itu dirasa cukup, dan belum perlu untuk ditambah. Karena sangat pas dengan tempat dan membuat suasana lebih nyaman. Sehingga masih ada space kosong bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya,” tandas Budi. Sementara itu, Pemkot Surabaya sekarang tengah membuat bangunan baru untuk Kampung Ilmu, mengharapkan Kampung Ilmu dapat dikelola sendiri oleh pedagang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Teropong, edisi 52, Juli – Agustus 2009, hlm. 50

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Surabaya, Wisata, Wisata Khas dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Kampung Ilmu, Surabaya

  1. cece berkata:

    saya ingin jual buku bekas saya,akan tetapi bingung mau jual kemana?tolong bantuin yah

    • Kalau memang di jual, Anda bisa langsung ke lokasi kampung ilmu. Namun apa tidak sayang, walau isinya bagus, biasanya dihargai sebagaimana kertas bekas. Saran kami, apa tidak sebaiknya dibantukan kepada yang membutuhkan, seperti perpustakaan desa/sekolah atau lainnya, atau bisa dititipkan pada Perpustakaan umum Provinsi/kab/kota.

  2. riska berkata:

    kalo naik angkutan umum, menuju kampung ilmu ini gimana ya…??
    mohon bantuannya.,

    • Ris posisi anda dimana, Yah begini saja kalau pisisi di selatan tujuan pertama Terminal Joyo Boyo, dari terminal joyo boyo naik lyn D jurusan Pasar Turi dan minta turun di Kampung Ilmu.

  3. Nirmala berkata:

    Setelah membaca wacana ini saya dan teman2 OSIS disekolah saya ingin mengadakan program kegiatan sosial rutin saat hari sabtu siang-sore di kampung ilmu. Bisakah bantu kami utk mewujudkannya?

  4. Ping balik: Jual Es Selendang Mayang - Pakaian Murah Ada Dimana Mana

  5. Ping balik: Ilmu Selendang Kuning - Fashion dan Belanja Jadi Satu

  6. Ahmad Ali berkata:

    bagaimana jika ingin bisnis serupa dikota lain ? apakah anda bisa memfasilitasi ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s