Suramadu, Menanti Mimpi Metropolitan Madura


Pengembangan Transportasi, Percepatan Industrialisasi Madura
Suramadu, menanti Lompatan Mimpi Metropolitan Madura

Mimpi jadi kenyataan. Begitu harapan semua orang. Namun tak sedikit dijumpai orang frustasi, karena mimpi indahnya hanya tinggal mimpi. Hanya bunga tidur belaka. Nun, di ujung kota Surabaya dan gerbang Madura yang disebut Bangkalan, Suramadu adalah mimpi yang jadi kenyataan. Butuh strategi khusus untuk menyambut mimpi yang bukan bunga tidur itu.

Empat setengah triliun rupiah! Itulah nilai proyek Jembatan Surabaya Madura. Dilabeli julukan proyek prestisius, kemudian megaproyek itu dipatenkan menjadi proyek Suramadu. Empat setengah triliun rupiah, dana yang boleh dibilang berukuran super jumbo untuk mewujudkan sebuah impian. Madura menjadi Metropolitan.

Di tahun 1960-an, dimana gagasan yang setengah impian itu mulai mengendap, Suramadu adalah proyek mustahil untuk direalisasikan. Namun, berkat perjuangan panjang si empunya gagasan, Prof Sedyatmo, dan tentu saja tokoh Madura H.M. Noer, yang menginginkan harmoni berikut kesejahteraan yang membentang antara Jawa-Madura, proyek mustahil 50 tahun lalu itu akhirnya menjadi kenyataan pada Juni 2009. Dan berhasil dioperasikan dengan mulus.

Kini, jembatan impian itu benar-benar kasat mata. Bisa diraba bisa dipandang. Berdiri menjulang dengan megahnya. Kelihatan angkuh malah, karena berhasil menaklukkan sebuah selat, namanya Selat Madura. Jika malam hari tiba, dibantu kerlap-kerlip pencahayaan berbagai lampu sorot, tampak nyata jembatan membelah laut yang menjadi sekat antara Pulau Jawa dan Madura itu memiliki nilai yang benar-benar prestius. Baru satu-satunya di Indonesia.

Suramadu sejak awal diproyeksikan menjadi pengungkit perubahan di Madura. Pulau potensial yang selama ini justru tertinggal pembangunannya. Padahal, Madura bukan anak tiri Jawa Timur. Proyeksi Suramadu itu tampaknya bakal mampu menuai harapan. Yaitu, mengubah kondisi dan wilayah Madura yang semula terbelakang secara sosial-ekonomi menjadi sebuah pulau yang bercirikan industri dan modern. Mampu melesat maju seperti atau setidaknya tidak sangat njomplang dengan perkembangan Surabaya.

Begitu jembatan yang konon akan bertahan berdiri lebih dari seratus tahun itu, dan dioperasikan PT Jasa Marga sebagai operator, masyarakat dan pelaku dunia usaha menyambutnya dengan antusias. Masyarakat tahu, sejak saat itu, kepentingan dan harapan mereka tidak lagi bergantung pada jasa penyeberangan laut di Selat Madura. Tidak bergantung pada kapal-kapal ferry dari Pelabuhan Ujung di Surabaya dan Pelabuhan  Kamal di Bangkalan.

Beroperasinya Jembatan Suramadu memang lebih dinilai ekonomis oleh semua pihak. Ekonomis secara waktu, juga ekonomis bjaya. Apalagi pemerintah akhirnya menetapkan tarif Jembatan Suramadu jauh lebih murah ketimbang angkutan ferry. Jika kapal ferry memungut tarif Rp 70 ribu sekali jalan untuk angkutan roda empat, Jembatan Suramadu hanya Rp 30 ribu saja. Berbeda sangat jauh, malah lebih dari separuhnya.

Dengan perbedaan tarif mencolok seperti itu, ekonomi biaya tinggi yang selama ini menghantui dan menjadi hambatan serius di semua jenis komoditas dan jasa di Surabaya dan Madura, bisa ditekan hingga 50 persen. Otomatis, dunia usaha bisa bernafas lega. Para pelaku usaha yang sebelumnya harus mengencangkan ikat pinggang jika berbisnis di Madura, kini bisa lumayan dikendurkan.

Namun, iming-iming kemudahan yang dijanjikan dari sebuah Suramadu, bukannya terbebas dari hambatan dan tantangan. Hambatan yang muncul bukan dari hukum alam bisnis dan perdagangan, tetapi lebih ke arah ketakutan-ketakutan terkait kehidupan sosial-budaya. Seiring kemudahan ekonomi yang bisa dicapai setelah berhasil menaklukkan Selat Madura, masyarakat khawatir nilai-nilai Madura akan menguap. Tergerus oleh laju pertumbuhan ekonomi yang sudah pasti akan mengikuti irama pembangunan.

Kekhawatiran berlebihan tersebut tentu sudah menjadi bahan kajian bertahun-tahun. Bahkan mungkin sejak Suramadu masih menjadi gagasan. HM. Noer yang memperjuangkan impian Suramadu pun jauh-jauh hari juga sudah mem-warning. Namun ketimpangan pembangunan Madura tak bisa didiamkan. Untuk itu pemerintah perlu langkah dan strategi kebijakan yang konkrit untuk mengatasi kekhawatiran ini, sebelum menjadi masalah yang berlarut dan tak terselesaikan. Tak dipungkiri Madura yang berkultur agamis itu memiliki karakteristik masyarakat yang ulet, pantang menyerah dan tahan banting. Karena itu Madura harusnya bisa maju. Mampu menyusul Surabaya atau setidaknya mengejar ketertinggalan. Namun, meski memiliki karakteristik seperti itu, pertumbuhan ekonomi wilayahnya rata-rata tetap rendah. Sekarang, setelah Suramadu membentang, mau tak mau Madura harus lebih menggeliat. Harus segera melakukan lompatan-lompatan spektakuler di segala bidang. Sosial, budaya, pendidikan, dan ekonomi-industri. Jika tidak, Suramadu tak bakal berarti apa-apa selain hanya jembatan penghubung.

Memimpikan Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep menjadi zona industry agar terlepas dari belitan pertumbuhan ekonomi yang selalu di bawah rata-rata, tentu memerlukan dukungan dan kebijakan pemerintah yang tidak sporadis. Kebijakan yang diambil harus bersifat tuntas. Bukan kebijakan yang hanya sekadar mengejar ketertinggalan. Sekali terjebak di wilayah ketertinggalan, Madura hanya bisa mengejar yang tertinggal. Tidak mampu menciptakan hal yang baru. Mampunya hanya menggos-menggos terus, lama-lama juga akan kehabisan nafas. Itu tidak efektif.

Salah satu kebijakan prioritas yang tak bisa ditawar lagi saat ini adalah infrasturktur trasportasi. Madura dan Surabaya perlu mengembangan dan memperbaiki kualitas transportasi angkutan darat. Dari ujung hingga ke ujung. Terbitnya kebijakan ini memungkinkan terjadinya intensitas perdagangan di semua jenis komoditas yang dipicu oleh Suramadu.

Jika sistem dan infrastruktur trasportasi sudah dibenahi sempurna, kecepatan serta kuantitas yang tinggi, padat, dan berat mengiring perkembangan industrialisasi Madura bakal mampu dicapai dengan mudah. Sejak Suramadu mulai digarap, semua perhatian tersedot ke wilayah itu. Walhasil persiapan yang dilakukan menyambut datangnya Suramadu tak tergarap baik. Terkesan sekedarnya atau bahkan hanya sekedar tambal sulam. Jika seperti ini, kinerja jantung Suramadu bakal tidak optimal. Suramadu akan loyo dengan sendirinya jika nadi transportasinya tersumbat dan tidak segera disiapkan penataannya.

Semua orang tentu mengharapkan, kinerja Suramadu perlu dipacu agar pertumbuhan perekonomian Madura yang terpuruk lekas menyusul wilayah lain. Tentu juga tak ada yang mengharapkan, bangunan senilai  Rp 4,5 triliun itu hanya seperti orang loyo. Atau hanya seperti orang kena serangan stroke sehingga tidak mampu berbuat apa-apa. Mari Madura, ayo melompatlah. Kalau perlu dengan gaya spektakuler. Mari Surabaya gendonglah Madura kalau perlu. Agar lompatan spektakuler yang bakal diciptanya dikenang sepanjang masa. Mari. .. ! (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TEROPONG, edisi 53, September- Oktober 2010, hlm. 4.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Madura, Surabaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s