Suramadu, Mendulang Emas


Mendulang Emas Trayek Baru Suramadu

Merosotnya pengguna jasa penyeberangan Pelabuhan Ujung Surabaya dan Kamal-Bangkalan berdampak pada menurunnya perolehan pendapatan daerah di kedua wilayah tersebut. Perlu penanganan segera dan merancang strategi untuk mendulang pendapatan baru dari sektor transportasi.

Pendapatan daerah turun drastis pasca beroperasinya Suramadu. Tidak  saja Surabaya tetapi juga Bangkalan. Pengusaha angkutan kota juga wong cilik yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari kesemarakan denyut jasa penyebarangan itu.

Jika pemerintah dan pengusaha masih bisa menggeliat. Masih bisa merancang hal-hal baru untuk menarik pendapatan. Akan halnya dengan wong cilik. Pendapatan mereka ditentukan oleh semrawutnya jalur penyeberangan. Kini mereka mpot-mpotan lantaran dagangan sepi pembeli. Yang merasa mampu bertahan, tetap bercokol dan bergelantungan di ferry-ferry yang merana itu. Sementara yang kehabisan modal, sudah tentu harus segera beralih profesi.

Tak dipungkiri, Suramadu adalah berkah sekaligus dilema, setidaknya bagi Pemkot Surabaya maupun Pemkab Bangkalan. Namun, seiring dengan itu sejuta harapan telah ikut dibentang untuk segera digarap. Terlebih setelah Balitbang Provinsi Jawa Timur menyodorkan segebok rekomendasi, agar Suramadu tak terlalu lama menunggu respon kebijakan pembangunan.

Salah satu rekomendasi yang bisa menambal pendapatan daerah di kedua wilayah itu adalah merelokasi terminal Bangkalan. Terminal angkutan yang persis berada di tengah kota kini sudah tidak efektif lagi. Sebab sejak Suramadu di-launching perilaku penumpang dan angkutan umum berubah.

Untuk tujuan kota Sampang, Pamekasan hingga Sumenep, penumpang lebih suka naik angkutan bus langsung dari Surabaya. Walhasil, Bangkalan hanya mendapat asap. Terminal Bangkalan acapkali dilewati. Sementara untuk berputar ke Bangkalan kota terlalu jauh dan hanya menghabiskan banyak bahan bakar. Itupun belum tentu ada penumpang naik.

Perpindahan Terminal Bangkalan direkomensadikan mendesak dilakukan. Sebab tanpa perpindahan terminal, akan cukup sulit mengembangkan denyut perekonomian. Mengingat Suramadu berada di sisi pinggir Bangkalan. Sementara jalur tersebut langsung menghubungan dengan jalur perbatasan kota Sampang.

Jika dicermati, Kota Sampang, Pamekasan dan Sumenep paling diuntungkan oleh Suramadu. Sebab aksesnya bisa langsung ke Surabaya. Tanpa perlu lagi melingkar melewati Bangkalan kota yang berjarak hingga puluhan kilometer. Melihat tren seperti ini, Bangkalan harus berlari cepat untuk segera memindahkan terminalnya agar bisa menyusun konsep transportasi strategis agar Bangkalan tidak hanya kebagian asap knalpot motor dan mobil.

Penelitian yang dilakukan Balitbang Provinsi Jawa Timur merekomendasikan kepada pemerintah Kabupaten Bangkalan, agar terminal yang berada di tengah kota segera dipindahkan di kaki Jembatan Suramadu sisi Madura. Saat ini, setelah melewati Suramadu dari Surabaya, sejauh mata memandang masih berupa lahan kosong tanah pertanian.

Pilihan relokasi terminal baru yang tepat adalah daerah Labeng. Daerah yang dipandang cukup strategis untuk mengembangkan infrastruktur transportasi menuju Bangkalan kota maupun ke arah Sampang hingga Sumenep. Rangkaian dari rekomendasi kebijakan relokasi terminal itu adalah, membuat trayek baru Bangkalan-Surabaya.

Sejauh ini, berdasarkan data yang ada, jumlah trayek angkutan penumpang di Jawa Timur terdapat sekitar 186 trayek. Terdiri dari 23 trayek bus patas dan 163 trayek bus boemel. Setelah Suramadu menjadi favorit, diharapkan trayek hasil relokasi terminal di Labang tersebut merupakan salah satu ladang emas baru untuk mendongkrak pendapatan daerah Bangkalan.

Sebagai konsekuensi dari relokasi terminal yang berada di luar Kota Bangkalan tersebut, secara otomatis akan mengubah trayek yang sudah ada sebelumnya, baik di Kota Surabaya dan Kabupaten Bangkalan. Selain perubahan trayek, perlu juga adanya trayek antarkota dalam provinsi yang menghubungkan Pulau Madura dengan Surabaya dengan daerahdaerah lain di timur, selatan, dan barat Kota Surabaya yang akan menuju Pulau Madura. Selama relokasi terminal Bangkalan belum terwujud, dan pengembangan transportasi belum dilakukan, Bangkalan tetap akan kehilangan pendapatan daerah yang tidak sedikit. Ladang emas baru yang seharusnya bisa didulang lewat Suramadu, bakal lolos tidak tergarap. Apalagi jika infrastruktu yang lain tidak segera disiapkan, zona emas di sekitar kaki-kaki Suramadu, tidak membuat investor tergerak untuk menghidupkan perekonomian Madura yang pertumbuhannya dari tahun ke tahun selalu di bawah rata-rata ekonomi nasional.

Karena berpuluh tahun tak tergarap, sumber daya manusia di Madura boleh dibilang cukup terbatas. Boleh jadi ini juga merupakan batu sandungan pembangunan pasca Suramadu dioperasika. Namun masyarakat Madura sudah memiliki modal besar. Sangat besar malah. Madura terkenal dengan karakteristik masyarakat yang ulet, pantang menyerah dan tahan banting. Karena itu mustahil Madura tidak mampu mengejar ketertinggalannya. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TEROPONG, edisi 53, September-Oktober 2010, hlm, 13

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Bangkalan, Madura, Surabaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s