Trimarjono


Tak Merasa Bila Dirinya Pensiun

Pada diri Trimarjono, yang nampak adalah kedisiplinan dan kemauannya untuk mau terjun langsung ke lapangan, mengontrol anak buahnya. Meski teknologi sangat maju, sehingga mengontrol perusahaan di hutan pun kini bisa . dilakukan hanya dengan telepon, tapi manajemen tatap muka langsung dengan pegawai sangat perlu. Melihat langsung on the spot, sangat perlu. Meski dalam kondisi capek, tapi tatap muka merupakan kunci keberhasilan.

Caranya mendisiplinkan pegawai di lingkungan Pemprov Jatim, yang layak dipuji. Setiap pagi, TrimaIjono selalu berdiri di pintu masuk kantor gubernuran mencegat dan • mengabsensi pegawainya. Kini, ia pejabat yang telah pumatugas. Tapi, dia tak merasa bila dirinya sudah pensiun. Sepanjang hidupnya adalah gerak merespon kehidupan. Urip iku obah, obah itu owah, owah iku makarti. “Hidup itu bergerak. Gerak itu berubah, berubah itu berkarya”. ltulah kata-kata yang senantiasa memberikan inspirasi pada dirinya. ltulah yang bisa dipetik dari sebuah biografi bertajuk Trimarjono di Antara Rakyat Jawa Tzmur.

Memang, umumnya, pejabat membuat biografi pada saat dia masih berkuasa, atau namanya sedang dieluelukan oleh banyak orang. Tapi, yang dilakukan mantan Wakil Gubemur Jawa Timur, Trimatjono SH, ini terhitung lain. Dia meluncurkan biografinya, justru setelah 14 tahun lengser dari jabatannya.

Yang khas, buku tersebut merupakan garapan sejumlah wartawan senior di Jatim. Mulai dari penulis, penanggung jawab tulisan, hingga editornya, semuanya insan pers yang kala Trimatjono berkarir sebagai pegawai di akhir 1990-an merupakan wartawan lapangan. Karena digarap oleh wartawan, biografi tersebut jauh dari urusan metodologi sebuah biografi atau hal-hal detaillainnya. Ali Salim, adalah penanggungjawab penulisan buku ini.

Trimatjono, selama 18 tahun menjabat sebagai birokrat di Pemprov Jatim – 13 tahun di antaranya sebagai sekretaris daerah, sebagai wagub, maupun jabatan terakhimya sebagai Ketua DPRD Jatim (1992-1997). Sosok Trimarjono bagi masyarakat Jatim memang cukup dikenal. Di era 1970-an, namanya identik dengan penegakan disiplin, khususnya di lingkungan Pemprov Jatim. Adalah Trimatjono yang ketika menjabat sebagai sekretaris daerah (sekda) membuat gebrakan yang hingga kini masih terasa gaungnya. Untuk mendisiplinkan pegawai pemprov, Trimarjono sebelum pukul 06.30 selalu berdiri di depan lobi kantor gubernuran di Jl. Pahlawan. Dia mengawasi satu per satu pegawai pemprov yang datang.Hebatnya, kegiatan itu dilakukannya tanpa rasa bosan maupun jenuh selama 13 tahun, kecuali ada tug as lain.

Dengan cara tersebut, Trimarjono yang kala itu menjabat sekda, secara tidak lang sung mengabsen kedatangan pegawainya. Berkat kegigihannya itu, disiplin pegawai pemprov yang semula amburadul, akhimya terbentuk. Meski untuk meraih prestasi itu dia harus mengorbankan waktu untuk berkumpul dengan keluarga pada pagi hari. Sebab, selepas Subuh, dia harus siap ke kantor agar bisa lebih awal datangnya dari pegawai lain. ;Temimpin itu sebaiknya datang lebih’ pagi dari anak buahnya, agar bisa dijadikan teladan,” katanya, suatu kali.

Karena kengototannya itu, Trimrujono mendapat ·berbagai pisuhan (umpatan), cibiran, dan berbagai predikat minir lainnya. Tidak saja dari bawahannya, tapi juga koleganya. Salah satu cibiran dari anak buahnya saat itu adalah sampai seberapa lama dia kuat berdiri di depan lobi kantor gubemuran. Apa jawaban Trimarjono? “Saya digaji untuk berdiri. Ayo kuat-kuatan,” katanya.

Sementara julukan yang dialamatkan kepadanya, mulai dari demit (setan penunggu)-nya gubernuran, macan (harimau), sampai Joko Dolog-nya gubemuran. Tapi, Trimrujono tak peduli. Dia terus jalan, dan akhimya tercipta kedisiplinan pegawai pemprov. Selama dia menjabat sebagai sekda, tak ada lagi pegawai yang pada saat tugas main catur atau jalan-jalan ke Pasar Turi.

Ada lagi gebrakan Trimarjono yang hingga kini masih dikenang oleh masyarakat Jatirn, khususnya kalangan industri. Di masa Orde Baru, yang kesemuanya masih tersentralisasi, Trimarjono be rani memerangi limbah pencemar lingkungan. Meski untuk itu Trimarjono harus menghadapi berbagai protes, tidak saja dari kalangan industri, para pejabat tinggi di daerah maupun di pusat.

Kegiatan memerangi pencemaran lingkungan tersebut tak lepas dari rendahnya kualitas air Kali Surabaya yang menjadi bahan baku utama air PDAM Surabaya. Cukup banyak perusahaan yang protes dengan langkah Trimarjono memerangi sumber pencemar di Kali Surabaya.

Surat-surat sakti dan katabelece dari para pejabat tinggi di pusat pun mengalir deras ke Jatim . Isinya memprotes “ulah” Trirnarjono karena dianggap mempengaruhi citra perusahaan, khususnya yang berorientasi ekspor.

Tapi, dia tidak peduli. Dia jalan terus. Perusahaan swasta maupun rnilik daerah yang mencemari sungai-sungai di Jatim khususnya Kali Surabaya, didatanginya. Diminta pertanggungjwabannya, dan akhirnya perusahaan-perusahaan itu sadar dan ramai-ramai membuat unit pengolah limbah.

Salah satu perusahaan yang kena semprit Trirnarjono adalah pabrik kertas PT Tjiwi Kirnia, Mojokerto, yang akhirnya menjadi sponsor utama penerbitan biografi tersebut sebagai ungkapan terima kasih.

Trimarjono memang sosok yang mempunyai wawasan jauh ke depan. Permintaannya agar pabrik-pabrik, khususnya yang berorientasi ekspor, membuat unit pengolah limbah yang berstandar, amat besar manfaatnya. Sebab, sekarang produk-produk ekspor harus berstandar ramah lingkungan. Inilah yang membuat para pengusaha industri kelabakan ketika dimarahi Trimarjono. Sekarang, merekalah yang merasakan manfaatnya, tak perlu kerepotan lagi memenuhi standar produk yang ramah lingkungan.

Trimarjono memang sosok yang mempunyai wawasan jauh ke depan.

Buku Trimarjono tersebut menceritakan  masa kecilnya hingga lengser sebagai birokrat, meski hingga kini dia masih memimpin belasan yayasan, di antaranya .Yayasan Abiyoso yang mengurnsi para lanjut usia (lansia). Juga ditulis pengakuan dari bekas atasannya, kolega, maupun anak buahnya yang mengakui “kadar” kedisiplinan Trimatjono.

Pengakuan yang eukup menarik berasal dari mantan Gubemur Jatim H.M Noer. Salah satu tokoh yang dimiliki rakyat Jatim itu menilai, Trimarjono adalah sosok yang tekun, disiplin dan suka bekerja keras. Waktu Noer menjabat sebagai Gubernur Jatim, waktu kerjanya lebih banyak dihabiskan dengan melakukan kunjungan kerja ke daerah. “Pokoknya tiga minggu turun ke lapangan, dan seminggu di kantor,” katanya. Noer meneeritakan, pada waktu itu, Jatim benar-benar acak-acakan. Tidak saja birokrasinya, tapi juga pembangunannya. Karenanya, setiap kunjungan kerja, Noer menyuruh ajudannya meneatat lokasi jalan-jalan rnsak yang dilewatinya. “Setelah itu, saya minta Pak Tri menearikan dana pembangunannya,” kata Noer. Pernah, lanjut Noer, dia harns kunjungan kerja pagi. Sebaliknya, TrimaIjono juga harus melapor hal penting pagi itu. “Saya minta dia ikut mobil dinas saya, kemudian setelah urusan selesai, dia saya turunkan di tengah jalan di Sidoatjo. Eh, temyata sampai juga dia di kantor gubemuran,” kenang Noer.

Di buku itu, ada pengalaman menarik dari Abdul Syalam, yang menjadi ajudan TrimaIjono saat menjadi Ketua DPRD Jatim. Suatu ketika ada surat-surat dinas yang tidak selesai ditandatangani di kantor, sehingga harus dibawa pulang. “Surat itu harus saya ambil esok paginya,” katanya. Pagi hari, Syalam menelepon ke rnmah Trimarjono. Maksudnya hendak mengambil surat-surat tersebut. “Kamu

mau ambil jam berapa,” Tanya Trimatjono. Salam menjawab, “Jam tujuh, Pak.”. “Kalau begitu cepat ambil,” pintanya. Ternyata, Salam terlambat beberapa menit saja sampai ke rumah Trimarjono di kawasan Jemursari. Apa yang terjadi? Temyata surat-surat itu sudah dibawa ke kantor. “Saya malu sekali ketika bertemu di kantor,” kata Salam. “Pak Tri memang tidak suka jam karet,” tambahnya.

Secara umum, buku ini memberikan kemudahan kita dalam memahami sosok Trimarjono. Tanpa harns susah susah meneari guntingan koran dalam rentangan waktu semasa ia bertugas, dalam buku ini toh sudah menjadi semaeam jahitan yang cukup bisa diperhitungkan. Dan itulah ciri khas sebuah buku yang ditulis bersama-sama sebuah dunia gagasan yang dimaknai dengan gaya hidup paguyuban, sebagaimana yang dikehendaki sosok Trimatjono. (rng)

“Dari Buku “Trimarjono di antara Rakyat Jawa Timur”
Pembangunan Kota Surabaya
Penulis : Sjamsudduha
Penerbit : J P Press, 2004 / Tebal : xvii + 247
 

Teropong Edisi 19, Januari -.Pebruari 2005 40

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Tokoh dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s