Museum Kesehatan


Museum Kesehatan DR Adhyatma, MPH
Lebih Dikenal Dengan
MUSIUM SANTET

Menyimpan benda tajam di bawah tempat tidur bagi perempuan yang habis melahirkan, menggunakan boneka dalam mendiagnosa penyakit, atau memanfaatkan benda pusaka sebagai penyangkal roh atau kekuatan jahat, mungkin merupakan hal yang aneh bagi sebagian orang khususnya masyarakat perkotaan yang merasa memiliki pola pikir modern.

Ritual tradisional semacam itu dianggapnya sebagai warisan nenek moyang yang saat ini tidak relevan lagi digunakan. Nyatanya, demikianlah bentuk ritual kesehatan asli masyarakat kita. Bahkan pada ritual yang lebih ekstrem sekalipun seperti memberi mengurung anak dalam kurungan ayam untuk menyembuhkan suatu penyakit tertentu.

Puluhan jenis benda yang menggambarkan simbol praktik kesehatan tradisional dikoleksi di Museum kesehatan DR Adhyatma, MPH di Jl Indrapura 17 Surabaya. Dalam museum yang diresmikan pada September 2004 tersebut, terdapat puluhan jenis benda kesehatan tradisional dari berbagai daerah, agama maupun suku di Indonesia yang diyakini sebagai sarana kesehatan atau mempunyai kekuatan khusus untuk menyembuhkan penyakit atau menolak gangguan kekuatan jahat. Di tengah masyarakat, museum ini lebih dikenal dengan nama “Museum Santet”

Seperti bambu bertuah atau ranting bambu yang bercabang untuk menolak segala penyakit yang ditemukan di Lamongan, alat pemotong tali pusat dari bambu yang berasal dari Papua, kayu santen dari Banyuwangi untuk menolak santet atau tenung, kumparan penangkal untuk menetralkan pengaruh gelombang elektromagnetik dari Surabaya, serta tumor yang berhasil diangkat melalui operasi tanpa luka dari Banyuwangi

Museum yang merupakan salah satu unit dari Pusat Peneli tian Pengembangan Sistem dan Kebijakan Kesehatan Departemen Kesehatan RI ini juga menyimpan benda yang dihasilkan dari praktik metafisika berupa tenung atau santet yang berupa benang, karet, paku, atau benda asing lainnya yang berhasil dikeluarkan dari dalam tubuh orang yang terkena santet, serta media-media khusus yang digunakan dalam ritual penyantetan seperti, boneka kecil yang ditusuk benda tajam, telur ayam, serta air yang sudah berisi mantera khusus.

Sebagian benda yang ada dalam museum kesehatan tersebut menurut Penanggung Jawab Museum Kesehatan DR Adhyatma, MPH , Mabaroch, awalnya hanya koleksi pribadi seorang peneliti kesehatan yang juga perintis museum kesehatan bernama Hariyadi Soeparto. Dia mendapatkan bendabenda tersebut dari berbagai daerah di Indonesia saat dia melakukan penelitian. “Meskipun sudah ditetapkan sebagai museum umum, namun demi prinsip kelengkapan museum, pihak museum hingga kini masih menerima benda-benda kesehatan tradisional lainnya dari masyarakat yang layak untuk dikoleksi,” katanya, Selasa (24/1) .

Didirikannya sasana kesehatan tradisional tersebut jelasnya, sematamata bukan untuk melegalkan fenomena kesehatan tradisional, namun sebagai upaya pencerahan bagi masyarakat bahwa di tengah-tengah mereka terdapat fenomena kesehatan warisan nenek moyang yang mungkin tidak dapat diterima secara medis dan akal sehat oleh sebagian orang, namun nyata keberadaannya.

Fenomena tersebut menurutnya justru menjadi tantangan bagi kalangan kedokteran khususnya mahasiswa kedokteran untuk meneliti lebih jauh dan mencari bukti-bukti ilmiah. Karena itu, selain untuk mengoleksi benda-benda kesehatan, museum juga digunakan sebagai laboratorium penelitian oleh Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, serta sejumlah perguruan tinggi lainnya di Indonesia.

Mabaroch berharap, museum kesehatan tersebut dimanfaatkan sebagai sarana memperluas wawasan tentang kesehatan. “Jika di kampus mereka oanyak mengenyam teori kedokteran modern, di museum ini diharapkan mereka dapat memperluas wawasan tentang kesehatan.khususnya kesehatan tradisional, ini agar mereka tidak lagi terkejut jika di tengah masyarakat menemui hal-hal yang tidak biasa, namun sering dilakukan masyarakat,” katanya.

Seperti santet misalnya, hingga kini belum ada teori kedokteran yang mampu menjelaskan secara medis metode transformasi bagaimana benda-benda santet tersebut bisa masuk ke dalam tubuh manusia, karena saat difoto, dalam tubuh korban diketahui ada benda asing, namun saat dioperasi, benda-benda tersebut tidak ditemukan.

Terpisah , Ketua Program Studi Pengobatan Tradisional Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dr Arijanto Jonosewojo, membenarkan adanya fenomena kesehatan tradisional tersebut, dia beranggapan bahwa pengobatan tidak selalu dapat dilakukan dengan cara modern. Kini , pengobatan juga dilakukan dengan cara-cara tradisional atau dalam ilmu kedoketeran disebut pengobatan komplementer alternatif. Pengobatan ini menurutnya berasal dari praktik-parktik tradisional atau dengan ramuan-ramuan khas alami dari tumbuhan atau bijui-bijian yang mengadung zat tertentu yang dapat menyembuhkan sejumlah penyakit.

“Dulu, pengobatan tradisional memang dipandang sebelah mata oleh kalangan kedokteran, mereka beralasan efektifitas pengobatan tradisional tidak dapat dibuktikan secara medis maupun ilmiah, namun hanya berbasis keyakinan semata,” ujar Ketua Perhimpunan Peneliti Bahan Obat Alam (Perhiba) Jatim ini.

Namun beberapa tahun terakhir, kesehatan tradisional dijadikan sebuah pengobatan alternatif yang terjangkau khususnya bagi pasien yang kurang mampu melakukan pengobatan modern, asalkan cara pengobatan tradisional tersebut seblumnya sudah melalui penelitian ilmiah.

“Pengo batan modern dan pengobatan tradisional saat ini dapat berjalan bersama dan saling mengisi, dengan menjunjung tinggi prinsip bahwa karena tidak semua penyakit dapat disembuhkan secara tradisional, dan sebaliknya semua penyakit juga t idak dapat disembuhkan secara modern,” katanya.

Ada em pat kategori pengobatan tradisional yang biasa dilakukan masyarakat di negeri ini, yakni melalui keterampilan, seperti pijat dan akupuntur, melalui ramu-ramuan atau jamu, melalui kekuatan supranatural, dan melalui praktik keagamaan.

Hingga saat ini, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RImasih melegitimasi dua kategori pengobatan tradisional untuk dijadikan sebagai unit layanan pada rumah sakit umum milik pemerintah yakni keterampilan, seperti pijat dan akupuntur, dan ramu-ramuan atau jamu. Bahkan di kota Surabaya, ada dua puskesmas percontohan untuk layanan pengobatan tradisional, yakni di kecamatan Medokan Ayu, dan Pegirikan.

Untuk jamu, menurut Arijanto, pemerintah tengah gencar melakukan program saintifikasi jamu, program ini mewajibkan para produsen jamu untuk melakukan penelitian ilmiah terlebih dahulu pada sebuah ramuan sebelum dikonsumsi di pasaran. Hal ini untuk memastikan bahwa ramuan tersebut paling tidak mengandung unsur keamanan jika dikonsumsi oleh penderita sakit.

Tradisi lokal

Perintis Museum Kesehatan, Haryadi Suparto mengatakan, koleksi benda kesehatan tradisional tersebut sebagai upaya mempertahankan tradisi kesehatan masyarakat asli Indonesia yang kini mulai pudar dan bahkan ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri.

” Praktik kesehatan tradisional memang lebih identik dengan masyarakat pedalaman yang secara finansial tidak mampu menjangkau biaya pengobatan modern. Buktinya, air Ponari dari Jombang begitu banyak diminati dan diyakini masyarakat menengah ke bawah untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit,” jelas Haryadi.

Namun beberapa tahun terakhir, praktik kesehatan tradisional dilirik masyarakat menengah ke atas sebagai pengobatan alternatif khususnya yang bersifat supranatural. Sebagian masyarakat kelas atas khususnya pejabat negara maupun perusahaan swasta memanfaatkan praktik supranatural tradisional ini bukan hanya dalam hal pengobatan, namun untuk tujuan lain seperti meningkakan kharisma, mencari kedudukan, atau menjatuhkan lawan bisnis.

Haryadi menjelaskan, bahwa kesehatan tradisional supranatural memang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, karena lebih pada hal yang bersifat metafisika yang kasat mata. Parktik kesehatan ini mengolah perasaan dan keyakinan pasien tanpa atau melalui media suatu benda.

Dia sangat mendukung jika salah satu bagian dari kesehatan tradisional seperti ramuan atau jamu dilegalkan pemerintah sebagai alternatif pengobatan masyarakat, namun pemerintah dituntut tegas dalam aturan yang dibuat untuk mengkhususkan produk jamu asli Indonesia. “Hal ini bukan hanya untuk melindungi produksi jamu dalam negeri, namun juga sebagai upaya mempertahankan budaya luhur bangsa dalam membuat ramuan kesehatan,  katanya. Achmad Faizal

TRANSPORTASI JAWA TIMUR,  EDISI KE TUJUH, PEBRUARI 2012, hlm. 30

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Surabaya, Th. 2012, Wisata Edukasi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s