Wayang Gedebok


Wayang Gedebok Kian Diminati

Belakangan semakin banyak perajin dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur yang memanfaatkan bahan baku pelepah pisang (bahasa Jawa: gedebog) untuk menghasilkan aneka produk apik dan diminati konsumen. Pelapah pisang yang memiliki guratan serat yang khas dan penggunaannya awet agaknya menarik bagi perajin untuk dijadikan produk sesuai daya kreatifitas masingmasing. Baik produk pakai maupun produk hias. Pengadaan bahan baku pelepah pisang cukup mudah, karena populasi tanaman itu sangat banyak.

Sedangkan harga jual produk kerajinan yang menggunakan bahan baku tersebut cukup tinggi manakala wujudnya berkualitas. Salah seorang perajin yang juga tergerak untuk memanfaatkan pelepah pisang adalah Ki Santo Wijoyo, 57 tahun, melalui pembuatan wayang dengan berbagai ukuran. Lelaki berkumis yang bertempat tinggal di kawasan Keputih Tegal Timur, Surabaya Timur, itu berkreasi wayang gedebog sejak awal 2011. Sejauh ini telah banyak wayang diproduksinya. Ki Santo mengatakan produk wayang umurnnya dibuat dari bahan baku kulit lembu atau kulit kambing, dan juga kertas.Produk demikian lazim ditemui dimana-mana. “Kami menciptakan wayang debog bukan untuk tujuan aneh-aneh, tetapi pelepah pisang ini memang dapat dimanfaatkan menjadi kerajinan wayang. Sekaligus saya bermaksud untuk memperkenalkan budaya Jawa,” ujarnya, belum lama ini.

BISA MENDALANG
Ketertarikan Santo membuat  wayang pelepah pisang ternyata terkait dengan  latar belakangnya yang bisa mendalang sekaligus sebagai pembawa acara bahasa Jawa. Untuk itu, produk wayang yang dihasilkannya bisa dimainkan untuk pergelaran wayang kulit. “Saya belum pernah mempergelarkan wayang debog, karena koleksi wayangnya belum mencukupi,” tutur lelaki berkurnis asal Yogyakarta itu.

Jenis-jenis wayang yang telah dihasilkannya terutama para punakawan terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Juga Limbuk, Cangik dan Togog. Proses produksinya mula-mula pe1epah pisang dikeringkan dan dihaluskan. Sesudah itu membuat pola wayang yang diinginkan dari kertas karton. Karton tersebut dilapisi dengan pelepah pisang menggunakan lem, lalu divernis. Bahan baku lain yang digunakan untuk aksesori adalah biji-bijian dan tali.

Maka produk tersebut bisa digerak-gerakkan atau dipergelarkan seperti halnya kulit. Ki Santo menyebutkan produk yang dihasilkannya itu dijual dengan harga berkisar Rp 100.000 hingga Rp l juta per wayang sesuai besar kecilnya ukuran produk. Tapi dia mengaku belum mengembangkan produksi secara komersial, sehingga kapasitas produksinya pun masih rendah. “Kami belum mengatur manajemen, motivasi utama memperkenalkan seni budaya terlebih dulu,” paparnya. Terkait dengan tujuan memperkenalkan seni budaya wayang, Ki Santo yang semula memproduksi sendirian, kini membuka diri bagi kalangan anak muda yang berminat mempe1ajari pembuatan wayang pelepah pisang. Untuk memperkenalkan wayang pelepah Pisang, Ki Santo beberapa kali mengikuti pameran di Surabaya agar produk kerajinan itu dikenal khalayak luas. (aac)

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Seni Budaya, Surabaya dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s