Kenjeran, Debur Harapan


Debur Harapan di Kenjeran

Disela suara ombak yang memecah sepi, mereka tulus meneruskan tradisi.

Sejak puluhan tahun silam, warga sekitar Pantai kenjeran Surabaya menggantungkan hidup pada perut Kenjeran sepenuhnya. “Saya tidak ingat kapan tepatnya. Yang pasti, usaha ini sudah dijalankan sejak jaman kakek saya,” terang Abdul Hamid, salah satu penjual yang ditemui Mossaik. Hasil pantai yang mereka manfaatkan adalah binatang laut yang diolah menjadi kerupuk, terasi, petis dan sebagainya.

Kerupuk nampaknya menjadi produk yang paling banyak dijual di dalam area wisata parttai maupun di sepanjang jalan setelah pintu masuk Pantai Kenjeran Baru. · Dari sekitar 20-an toko, jenis kerupuk yang dijual relatif sarna. Terung dan teripang adalah dua biota laut yang paling populet diolah menjadi kerupuk. “Kalau terung, tak hanya kulitnya saja yang bisa dimakan tapi isinya juga enak disantap,” kata Hamid.

Sedangkan teripang adalah hewan laut yang bentuknya seperti lintah berukuran jauh lebih besar. Namun, . ketika sudah menjadi kerupuk, ukurannya tak lagi besar. “Sebab isi perut teripang itu sebagian besar cuma air dan lumpur,” ujar salah satu isteri nelayan yang siang itu sedang membersihkan teripang. Ciri binatang terung berwarna putih, bundar dengan permukaan yang lunak.

VARIASI PRODUK
Selain terung dan teripang, kerupuk lain yang banyak dijual adalah kentang udang, grinting udang, kancur (ekor kerang), lorjuk, geragot urat teripang, dan kirno atau siput laut. Tak hanya itu, kulit ikan juga bisa diolah jadi makanan garing renyah seperti kulit ikan kakap dan kulit ikan pare. Ada pula sirnping yaitu kerang tipis yang dilekatkan ke kerupuk atau belinjo. Lekatnya kerang itu bukan sengaja diberi bahan perekat tapi rnernang kerang itu sendiri rnengeluarkan sejenis cairan yang sifatnya lengket. Aneka teri juga lezat dihidangkan kering misalnya teri kambang dan teri bulu ayam.

Harga kerupuk-kerupuk tersebut bervariasi. Hamid mengatakan yang paling mahal adalah kancur yaitu ekor “kerang sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu sekilo. Selain sulit dicari, dalam setahun “musim” kancur hanya terjadi satu kali. Grinting udang juga termasuk mahal, yaitu Rp 125 ribu per kilonya. Camilan ini terbuat dari udang yang dibelah tanpa menghilangkan ekomya. “Kalau ekornya dipotong, kedua sisi badannya jadi saling lepas,” jawab Hamid lagi.

Sedangkan harga kerupuk terung terdiri dari beberapa macam. Untuk ukuran besar, Hamid mematok Rp 100 ribu per kilogram, terung sedang dihargai Rp 90 ribu setiap satu kilogram, sedangkan terung yang lebih kecil cukup dibandrol di angka Rp 60 ribu per kilogram. Item yang paling murah adalah kentang udang yaitu Rp 15 ribu per kilonya. “Sebenamya, ini bukan kentang asli melainkan terbuat dari tepung udang yang dicampur singkong,” Hamid sedikit buka rahasia.

Harga-harga ini tidak berbeda jauh antara satu toko dengan toko lainnya. Masa penjualan paling ramai adalah menjelang lebaran hingga beberapa hari setelahnya. Tapi, lebaran tahun ini diakui beberapa penjual lebih sepi dibanding tahun lalu. “Paling sehari hanya 200 – 250 ribu (rupiah) padahal tahun lalu bisa dua kalinya,” Hamid menjelaskan.

Imbas kenaikan BBM dikeluhkan oleh para penjual. “Dulu penjualan ramai. Sekarang agak sepi, apalagi setelah BBM naik, semua jadi mahal. Saingan juga udah banyak,” ujar Nur Chatib, penjual kerupuk dari Toko Dua Puteri. Dengan kondisi ini, masing-masing toko harus punya keunggulan. “Harus menang rasa dan kebersihan,” kata Nur Menurutnya pembeli eceran biasanya menjelajah beberapa toko terlebih dulu sebelum mengambil keputusan. Hajah Zuhaimi, bibi Nur Chatib . menambahkan, kondisi saat ini lebih berat dibanding ketika ia masih merintis usaha kerupuknya. “Dulu, saya membawa sendiri kerupuk-kerupuk ini ke Genteng (Pasar Genteng, Red). Lama-lama saya bisa buka toko sendiri, beli rumah, dan naik haji. Karena sudah tua, usaha ini saya serahkan ke ponakan saya (Nur Chatib, Red),” kenang Zuhaimi.

PROSES LAMA
Harga kerupuk terung matang cukup mahal karena proses pembuatannya rumit. Terung yang baru diambil dari laut ditusuk untuk menghilangkan air dan kotoran di dalamnya. “Setelah kotorannya hilang, ukuran terung jadi setengah dari semula,” tambah Hamid. Lalu, terung diinjak-injak hingga keras kemudian dibelah.

Setelah itu proses menjemur dimulai. Inilah proses paling lama yang harus dijalani oleh terung-terung itu. “Kalau musim kemarau, menjemurnya saja butuh waktu seminggu, apalagi seperti sekarang (musim hujan, Red) bisa-bisa sepuluh hari,” imbuh Satini, salah satu isteri nelayan, sambil menunjukkan pada Mossaik terung-terung yang sedang dijemur.

Teripang harus diproses secara khusus. Setelah dikeluarkan semua kotorannya, teripang direbus lalu dibilas sampai bersih dan d irebus lagi dalam jangka waktu yang saran dengan perebusan yang pertama. Kemudian teripang dijemur. Setelah dirasa cukup kering barulah digoreng dengan pasir. “Setelah digoreng dengan pasir, teripang jadi awet sampai waktu yang lama. Kalau mau dijual tinggal menggorengnya dengan minyak,” ujar Nuri, yang sehari-hari mengolah teripang hasil tangkapan suaminya.

SALING BERBAGI
Kehidupan di sekitar pantai Kenjeran adalah sebuah harmoni. Mereka menjalankan sebuah rantai kehidupan yang saling bergantung dan menguntungkan. Sebagian besar warga adalah nelayan . Mereka mulai beraktivitas malam hari dan pulang keesokan paginya, sekitar jam 7 pagi. Hasil yang didapat kemudian menjadi tanggung jawab si isteri mulai dari membersihkan, menjemur, merebus hingga menjual ke tengkulak. Di bagian lain, para tengkulak menjual hasillaut tersebutp ada orang-orang yang memproduksi kerupuk. Pada titik ini terdapat orang yang hanya mengolah hasil laut itu menjadi kerupuk mentah, sebagian lagi adalah para pedagang kerupuk langsung.

Salah satu contoh orang yang hanya mengolah namun tidak menjual langsung ke konsumen adalah Abdul Khowie, 59, atau Dul dan isterinya Kasiami, 52. Hasil olahan utama mereka adalah kerupuk kupang dan kerupuk kipas. Bahannya adalah kuah atau sari lorjuk dan udang yang dijadikan adonan. Kerupuk kupang yang dihasilkan ada 2 jenis, hijau dan putih. “Yang hijau kuahnya lebih kental sehingga lebih terasa gurih,” jelas Vina, anak kedua Dul Kasiami. Selain itu, mereka juga membuat petis, terasi, dan hasil. olahan lainnya. Selain dijual secara rutin ke pedagang sekitar Kenjeran, mereka juga melayani pemesanan dari luar Surabaya.

Produk hasil tan gan Kasiami punya keunggulan yaitu bertekstur halus. “Sebenarnya saya sudah pernah mengajari warga rahasianya supaya permukaan kerupuk menjadi halus. Tapi nggak bisa. Sebab ini prosesnya sangat cepat, terlambat sedikit saja langsung kering,” Kasiami menuturkan . Ia mengatakan memperoleh bahan kerupuk melalui para pedagang yang biasa mereka sebut “juragan” yaitu pengumpul hasil laut yang dibeli dari nelayan. Hasil berupa kerupuk kebanyakan untuk kebutuhan toko-toko di sekitar Kenjeran.

Dalam seminggu, Kasiami bisa menghasilkan 2-3 kwintal kerupuk mentah. Dalam bekerja, Dul dan Kasiarni hanya dibantu oleh anak-anaknya. “Saya dan Vina bagian motong. Alat potong ini pun saya buat sendiri. Banyak juga yang pesan alat ini misalnya dari Jakarta, Bawean bahkan Papua,” cerita Dul. Laki-laki berkacamata ini menambahkan sebenarnya Dinas Perikanan Jatim pernah memberi bantuan alat serupa dalam jumlah banyak. “Cuma penyalurannya ke mana dan bagaimana saya nggak tahu,” imbuhnya. Kasiarni sendiri mempelajari seluk-beluk pengolahan hewan laut ini sejak kecil dari si guru ngaji. “Dari semua teman-temannya, ibunya ini (Kasiami, Red) yang paling lancar,” kata Dul bangga.

Sebelum menekuni aktivitas mengolah hasil laut, Dul mengirim kerupuk ke para pedagang di Pasar Genteng. Tapi, ia sering merasa dipermainkan dalam hal pembayaran. Akhirnya, sejak 20 tahun lalu Dul memutuskan untuk berkonsentrasi ke pengolahan saja dan menyuplai para pedagang yang ada di sekitar Kenjeran hingga sekarang. Harmoni masyarakat Kenjeran makin terjaga karena persaudaraan yang rekat. “Kalau dirunut lagi, sebagian besar warga sini masih saudara,” ujar Hamid yang membuka toko “Bagus” di depan rumahnya. “Turun-temurun sudah seperti ini kerjaannya,” tutur Hamid. Akhirnya mata pencarian pun terlembaga menjadi sebuah tradisi.

Abdul Khowie terlihat semangat menjalani masa depannya di Kenjeran. “Hasilnya lumayan, anak saya tiga bisa saya sekolahkan semua,” katanya. Namun ia mengaku, tahun 2005lalu keuntungan yang diperoleh menurun walau volume penjualan tetap banyak. “Soalnya harga bahan naik. Tepung kanji sekilo sekarang 160 ribu (rupiah), padahal sebelumnya 80 ribu (rupiah). Sedangkan harga kerupuk hanya saya naikkan 500 rupiah per kilonya,” Dul menjelaskan.

Ia punya alasan sendiri mengapa hanya menaikkan harga sekecil itu. “Kalau dinaikkan lebih dari itu, kasihan pembelinya. Bisa saja saya nggak produksi beberapa hari lalu harga saya naikkan. Tapi nggak saya lakukan, karena mereka yang ngambil semua masih saudara, jadi ya bagi-bagilah. Yang penting semua bisa berjalan lancar,” katanya arif. yang ditemui Mossaik sedang merebus teripang.

Ia lalu mencoba menggambarkan dan berkesimpulan, bahwa dengan menggunakan kayu bakar, hasilnya bisa enam kali lipat dibanding minyak tanah. “Kalau minyak tanah, 15 ribu (rupiah) cuma bisa untuk satu kali ngerebus. Dengan nilai uang yang sarna, menggunakan kayu bakar bisa sampai 6 kali rebusan,” katanya mencontohkan. Walau begitu, rasa optimis tetap terpancar dari semangat mereka. “Saya optimis, kalau putus asa malah nggak bagus,” ujar Hamid. Begitu pula menanggapi maraknya penelitian yang menyatakan hewan laut Kenjeran sudah terkontaminasi dengan limbah pabrik yang rata-rata mengandung logarn dan zat kimia berbahaya, seperti arsen (As) dan merkuri. “Saya nggak tahu soal itu. Semua saya lakukan dengan Bismillah dan yang saya jual adalah makanan halal,” Hamid menutup pembicaraan. _ indah yuni/foto : an kusnanto

Artikel dinukil Tim Pusaka Jawatimuran  dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Mossaik, januari; 2006, hlm. 25

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sentra, Surabaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kenjeran, Debur Harapan

  1. Ping balik: hotel pantai ria kenjeran surabaya | Info Wisata

  2. Chus berkata:

    gan.. bisa disebutkan dimana tempat petani teripang.. atau teripang di tangkap di laut lepas dan tidak di budidayakan.. terimkasih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s