Kentrung Seni Siar Kebajikan Regenerasi Macet, Terancam Punah


 

 
Kentrung! Ah, generasi cyber  seperti saat ini mungkin sudah tak mengenalnya lagi. Ya, kesenian bertutur yang sarat makna sebagai siar kebajikan itu terancam punah. Selain pelakunya sudah yang banyak yang uzur (tuan renta), kesenian itu juga sulit mencari regenerasi. Juga sudah jarang ada panggung bagi kesenian itu. Dulu, pada era 1970-an, pertunjukan kentrung selalu ramai di pojok-pojok perempatan jalan, terutama dekat pasar dan saat malam pasaran (legi, paing, pon, wage, dan kliwon)

Di Tuban misalnya, dulunya grup seni Kentrung Bate sangat terkenal. Kesenian yang semula dipopulerkan Kiai Basiman di era zaman penjajahan Belanda tahun 1930-an, kini masih tersisa tiga orang yang berusia lanjut, yakni Mbah Surati (90) sebagai Dalang Kentrung Bate, Mbah Setri (86) penabuh Timlung (kentheng) dan Mbah Samijo (88) sebagai penabuh terbang besar (rebana). Oisebut Kentrung Bate karena berasal dari Desa Bate, Kec. Bangilan, Kabupaten Tuban.

Di Jember, pada era 1980-an Kentrung mengalami kejayaan, misalnya Kentrung Joss. Persoalannya sama, yakni sulitnya regenerasi berdampak kepada semakin hilangnya tradisi kesenian Kentrung. Akibatnya kentrung saat ini dilupakan masyarakat.
Sedangkan di Tulungagung dan Mojokerto, kesenian kentrung masih ada. Tetapi hanya sebatas kelangenan saja dan jarang ditampilkan.

Kentrung adalah kesenian asli Indonesia dari pantai utara Jawa. Kesenian ini menyebar dari wilayah Semarang, Pati, Jepara. hingga Tuban. Di Tuban, kesenian ini bernama Kentrung Bate, karena berasal dari Desa Bate, Bangilan, Tuban. Pertama kali dipopulerkan oleh Kiai Basiman di era zaman penjajahan Belanda tahun 1930-an.

Seni Kentrung diiringi alat musik berupa tabuh timlung (kentheng) dan terbang besar (rebana). Seni Kentrung sendiri syarat muatan ajaran kearifan lokal. Dalam pementasannya. seorang seniman menceritakan urutan pakem dengan rangkaian parikan. Joke-joke segar sering diselipkan di tengah-tengah pakem, tetap dengan parikan yang seolah di luar kepala.

Parikan berirama ini dilantunkan dengan iringan dua buah rebana yang ditabuh sendiri. Sedangkan beberapa lakon yang dipentaskan di antaranya Amat Muhammad, Anglingdarma. Joharmanik. Juharsah, Mursodo Maling dan Jalak Mas.

Menurut Ahmad Fauzi, Ketua Umum Dewan Kesenian Propinsi Jawa Timur adanya pergeseran peradaban komunal (kebersamaan) menuju individual dan berdampak kepada kesenian komunal seperti kentrung. Mestinya saat masyarakat cenderung bersikap individual, setidaknya nilai-nilai kebersamaan yang tercermin dalam budaya gotong-royong masyarakat Indonesia tetap dipertahankan.

“Jangan melihat kesenian dari bentuk fisiknya dan kesenian bukan sekadar asesoris kegiatan ritual, tapi lebih dari itu. Harus ada upaya dari pemerintah untuk melanggengkan kesenian tradisional,” ujar Ahmad Fauzi. (*)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Derap Desa, Desaku Menatap Dunia, Edisi 44, Juni 2011, hlm 23

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Seni Budaya, Tuban dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Kentrung Seni Siar Kebajikan Regenerasi Macet, Terancam Punah

  1. Y.E. Marstyanto berkata:

    Saya tertarik dengan tulisan ini. Saya dan teman2 sedang mengembangkan bentuk pertunjukan yang mengambil spirit dari kentrung. Kami menamainya Kentroeng Rock n’ Roll, kami ada di kota solo dan blm lama terbentuk. Sudah mencoba pentas di bbrpa wilayah dlm dan luar kota. (fb: Y.E. Marstyanto)

  2. misteroke berkata:

    Batemania mari lestarikan kentrung bate…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s