Makanan Jawa Timur, ke Istana Negara


Semua Permintaan Presiden
Keberhasilan makanan Jawa Timur melenggang ke Istana Negara, tidak dapat dilepaskan peran besar H. Achmad Zaini, pria asal Madura yang menjabat sebagai Ketua Umum Forum Intelektual 45 Jawa Timur menuturkan, keterlibatan makanan Jatim di acara puncak Kemerdekaan RI merupakan keinginan dari Presiden sendiri yang diutarakan pada jamuan makan malam bersama rektor dan para ulama, saat audensi bersama Forum Intelektual 45 pada bulan Maret.

“Presiden bercerita, kalau ia suka makanan Jawa Timur seperti rawon, sate, pecel dan soto, dan beliau ingin pada acara puncak di Istana, makanan tersebut juga dihadirkan,”ujarnya menirukan keinginan Presiden. Dua bulan sebelum hari Kemerdekaan, Zaini demikian sapaan akrabnya, segera mengkoordinasikan keinginan Presiden tersebut dengan protokol Istana. “Saat saya sampaikan, bahwa bapak Presiden punya keinginan untuk menampilkan makanan khas tersebut, langsung saat itu saya dibuatkan surat resmi,” tuturnya. Surat resmi tersebut di keluarkan oleh panitia peringatan HUT RI.

Usai menerima surat, hari itu juga, Zaini segera memburu makanan yang menjadi kesukaan Presiden. “Saya mencari langsung pemilik rawon Embong Malang lebih dulu,” katanya. Surat tersebut baru diterima Zaini tanggal 8 Agustus, persiapan keberangkatan juga singkat, apalagi ia juga harus menghubungi pemilik rumah makan yang lain. Seperti sota, sate dan pecel. Meski membawa surat resmi dan Presiden ternyata tidak mudah meyakinkan pemiliknya, “Mereka rata-rata bilang masih mikir-mikir, apalagi makanan masuk Istana khan tidak gampang,” ungkapnya.

Setelah empat kali pertemuan, akhirnya tanggal 16, disepakati berangkat menggunakan bis. Zaini menjelaskan dirinya sengaja mengajak langsung pemiliknya turut ke Istana karena ingin menjaga cita rasa makananan tetap prima. “Kata orang kalau beda tangan, rasanya tidak sama,” katanya setengah bercanda. Sampai di Jakarta, rombongan ini tidak langsung bisa masuk ke Istana, mereka menempati mess untuk menyiapkan masakan. Tepat pukul 12.00, rombongan ini diperbolehkan masuk ke Istana. “Penjagaan sangat ketat, semua makanan sebelum disajikan harus melalui tes laboratorium dari tim kepresidenan,” jelasnya.

Segala rasa lelah karena seharian menempuh perjalanan jauh, terlunasi ketika makanan Jawa Timur yang tampil sederhana justru menjadi idola malam itu. “Tampilan yang tradisional menggunakan daun pisang disemat dengan lidi, rupanya mengundang penasaran tamu yang datang,” terang Zaini.

Hampir semua Duta Besar khususnya dari negara-negara Islam merasakan sajian istimewa ini. Duta besar itu ditemani oleh menteri agama (Maftuh Basyuni, Red) untuk makan sate dan soto. Sekretaris Negara, Andi Malarangeng yang kebagian mengawal Duta Besar Eropa, juga turut mempromosikan makanan khas Jawa Timur. “Semua menteri juga rela ikut ngantri,” jelasnya. Rempeyek, merupakan salah satu yang dinikmati malam itu.

Zaini yang turun langsung melayani mulai Menteri hingga Presiden, tidak menyangka makanan tradisional ini justru laris manis dibandingkan menu makanan lain, yang disediakan oleh hotel-hotel besar. “Setelah acara selesai, Pak SBY minta dibawakan rawon dua piring,” kata Zaini yang menghantarkan langsung pesanan Presiden tersebut. Tidak hanya itu, Ibu Presiden Ani Yudhoyono, melalui Zaini juga minta dikirim rawon. “Kata Ibu Ani, rawonnya buat makan bapak besok pagi,” ujar Zaini menirukan permintaan Ibu Negara. Melalui koki istana, Zaini mengirim rawon lengkap bersama sambal dan kerupuknya.

Keberhasilan membawa harum nama Jawa Timur dengan makanannya yang unik, kata Zaini tidak lepas dari dukungan moral HM. Noer, tokoh Madura dan mantan gubernur Jatim itu. “Selama perjalanan, Pak Noer selalu memantau kita, beliau selalu mengingatkan untuk menjaga benar-benar makanan yang akan dihidangkan, jangan sampai nanti terjadi sesuatu,” tuturnya.

Yang jelas, hadirnya masakan Jawa Timur dalam jamuan makan di Istana Negara mendapat perhatian istimewa, bahkan Ketua MPR, Hidayat Nurwahid sudah memberikan lampu hijau, agar makanan khas Jawa Timur turut hadir menyambut HUT RI yang direncanakan diselenggarakan di Monas. “Pak Hidayat Nurwahid pesan, tahun depan kalau bisa jenisnya ditambah,” kata Zaini bangga. mi manda roosa

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: mossaik. oktober 2005, hlm. 57.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Wisata Kuliner dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s