Arsitektur Khas Kota Surabaya


Jengki, Arsitektur Khas Kota Surabaya

Gedung Internatio itu masih berdiri kokoh di jalan Rajawali Surabaya. Menghadap ke timur ke Jl. Kembang Jepun yang ramai dan sesak. Dulu di depan Gedung Internatio berdiri patung pejuang membawa bambu runcing, memekik, dengan tangan kanan menunjuk gedung bersejarah tersebut.

Di gedung inilah Mayjen Jenderal Aulbertin Walter Sothem Mallaby, pada tanggal 30 Oktober 1945 tewas karena mobil yang ditumpanginya meledak. Kematian Mallaby membuat pemerintah Inggris berang dan mengirirnkan 24.000 pasukan tambahan ke Surabaya serta mendaratkan puluhan tank dan senjata berat.

Mallaby datang ke Surabaya pada 25 Oktober 1945, memimpin 6.000 pasukan Inggris-India yaitu Brigade 49. Divisi 23 mengemban perintah utama melucuti tentara Jepang, tentara dan milisi Indonesia. Mereka juga bertugas mengurus bekas tawanan perang dan memulangkan tentara Jepang. Pasukan Jepang menyerahkan semua senjata mereka, tetapi milisi dan lebih dari 20.000 pasukan Indonesia menolak.

Dengan catatan sejarah seperti itu sudah tentu membuat Gedung Internatio tidak asing bagi masyarakat Surabaya. Jika ditanya pernah terjadi peristiwa heroik apa di Gedung Internatio, pasti orang menjawab, “Di situ Mallaby tewas tertembak!” Gedung Internatio yang merupakan peninggalan Belanda itu sekarang menjadi gedung keramat yang masuk sebagai cagar budaya.

Gedung Internatio hanya salah satu saja dari ratusan gedung peninggalan Belanda di Surabaya. Bukan hanya gedung untuk perkantoran, pabrik, gudang, hotel dan gedung hiburan seperti Balai Pemuda, tetapi juga hunian, bahkan real estate seperti halnya di kawasan Jalan Darmo. Gedung-gedung tersebut mempunyai gaya arsitektur yang unik dan khas.

Tetapi yang kemudian menjadi pertanyaan, setelah Belanda hengkang apakah terjadi pembangunan di Surabaya. Seolah-olah hanya Belanda yang mewariskan gedung bagi kota Surabaya. Apakah tak ada lagi arsitektur khas local yang merupakan karya orisinil anak bangsa? Jawabnya ada.

Orang lupa bahwa setelah Kemerdekaan RI, justru Surabaya yang memulai dengan pembangunan proyek mercu suar, yaitu Tugu Pahlawan, Hotel Olympic dan Pasar Wonokromo, termasuk Gelora Pantjasila. Di luar itu masih banyak gedung-gedung yang dibangun oleh arek Suroboyo. Arsitektur gedung-gedung khas Suroboyo itu dinamakan arsitektur jengki. Contoh yang paling kuat dari arsitektur jengki itu adalah Pasar Wonokromo yang sekarang sudah dirobohkan dan diganti dengan gedung Darmo Trade Centre.

Bagaimanakah ciri arsitektur jengki itu? Johan Silas, Guru Besar Institut 10 Nopember Surabaya mendefinisikan sebagai berikut:
* Memakai bentuk perlawanan dan kebebasan terhadap kubisme dan geometrik dari arsitektur Barat atau modern. Bentuk ini diduga hendak menjiwai rasa kemerdekaan terhadap penjajahan Barat/Belanda. Hasilnya adalah gaya bebas yang didominasi oleh garis miring untuk tiang, dinding, dan bentuk-bentuk bebas lainnya seperti lengkung dan kubah yang dihindari oleh arsitektur modern.

* Memakai bentuk atap “rakyat”, yaitu atap pelana seperti rumah kampung namun kemiringmmya lebih landai ketimbang atap rumah kolonial. Tidak sedikit atap dipatah pada bubungan dengan satu sisi lebih rendah agar tercipta celah (gap) untuk ventilasi atap. Atap bentuk ini di Kalimantan disebut anjing menyalak. Tembok gewel (gevel) yang timbul oleh atap pelana diberi imbuhan beragam motif, umumnya bentuk kotak dan belak ketupat (wajik). Tidak jarang separuh sisi tembok yang menghadap ke jalan lebih maju dari sisi separuh lainnya yang diikuti oleh atap yang menjorok ke depan tidak rata pula. Ini sama sekali tidak menjadi masalah, bahkan khas.

* Dinding umumnya dihias beragam motif hasil buatan, bukan alami. Ada dinding yang di isi dengan kerawang (rooster) dan ada pula dibalut dengan batu alam bentuk teratur (non-alami). Upaya ini memberikan suasana ria dan riang guna melawan bentuk serius yang membosankan dan terkendali dari arsitektur modern.

* Yang juga menjadi perhatian adalah memakai penutup sosoran atau kanopi untuk teras depan, biasanya dari beton yang bergelombang atau meliuk disangga oleh tiang yang miring. Bentuk ini hendak kontras terhadap dan melawan garis lurus datar yang biasa dipakai. Jendela juga diberi bingkai muncul yang miring karena lebih lebar di atas.

* Juga dipilih finishing warna kontras, meriah dan pastel. Pada kayu dan perabot diperkenalkan dan banyak dipakai proses pelitur yang memakai warna-warni, terkadang diselingi warna gelap. Ini merupakan ciri-ciri utama dari yang disebut arsitektur jengki tanpa ada tatanan ruang yang khas, terserah keinginan pemilik yang selalu bebas.

“Tidak dapat dipungkiri bahwa arsitektur jengki berciri dasar gerakan dekonstruksi yang di dunia baru muncul akhir tahun tujuh puluhan. Lebih dari itu, ini merupakan arsitektur total mulai dari luar sampai ke dalam (interior) lengkap dengan perabot yang dipakai. Para arsitek muda ini seakan hendak membedakan diri dari arsitek “tua” yang pernah dididik oleh arsitek Belanda setelah harus angkat kaki dari bumi Indonesia,” kata Johan Silas dalam salah satu tulisannya.

Nama jengki berasal dari Yank atau Yankee (warga negara bagian New England di AS), merupakan nama yang saat itu populer dipakai pada beragam benda seperti celana jengki, sepeda jengki, dan sebagainya. Saat itu, film Amerika melanda ke seluruh pelosok Indonesia setelah lama menghilang. Yang kala itu paling digemari adalah film koboi (cowboy). Hampir dalam setiap film ada adegan koboi beradu draw atau mencabut pistol dengan cepat dan menembak lawan dalam menyelesaikan perselisihan.

Menurut Johan Silas, posisi koboi yang siap menarik pistolnya dengan kaki terbentang miring menjadi ilham bagi arsitek anak bangsa untuk menghasilkan karya arsitektur yang melawan arsitektur modern yang mapan dan mendominasi dunia. Tetapi sayangnya, arsitektur jengki yang menjadi kebanggaan arsitektur Surabaya dimusnahkan oleh generasi penerus. “Kita seolah menjadi generasi yang tidak bisa menghargai karya arsitek pribumi. Kita membangga-banggakan arsitektur Barat, padahal kita punya karya arsitektur sendiri, yaitu jengki. Di tahun 60-an hampir semua bangunan di Surabaya berbentuk jengki. Salah satunya Pasar Wonokromo,” kata Kadaruslan, tokoh Surabaya. Ya, ketika Stasiun Semut dan Rumah Sakit Mardi Santoso dibongkar, banyak yang protes.

Tetapi mengapa tidak ada yang peduli tentang hilangnya arsitektur jengki seperti ketika Pasar Wonokromo dimusnahkan? Mudah-mudahan banyak bangunan dan rumah yang bergaya arsitektur jengki seperti di sekitar Jalan Tambaksari, Jalan Trunojoyo, dan sebagainya, mau terus dipertahankan sebagai monumen penghargaan terhadap karya para arsitek arek Surabaya yang terkait dengan sejarah Kota Pahlawan Surabaya yang bukan hanya monopoli orang yang berani angkat senjata saja. (bud)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TEROPONG, Edisi 36, November-desember 2007, hlm. 38

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Surabaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s