Batik Gentongan, Madura


“SITI MAIMONAH”, bagi kalangan penggila batik mungkin tidak asing mendengar namanya. Pengrajin dan pengusaha batik khas Madura ini sudah lebih dari 10 tahun menekuni kerajinan batik utamanya Batik Madura Gentongan. Perempuan yang akrab dipanggil Mai ini merupakan generasi keempat dari pengrajin batik Madura. Keluarganya merintis bisnis ini sejak tahun 1950. Namun usaha keluarga ini sempat vakum ketika memasuki generasi ketiga. Kemudian Mai mencoba mengembalikan budaya leluhur itu dan mulai berkonsentrasi di bidang ini sejak tahun 1997.

Awalnya dia tidak begitu tertarik meski ibunya seorang perajin. Namun setelah diwarisi beberapa batik hasil karya leluhurnya dia mulai jatuh hati. Kekagumannya terutama motifnya yang eksotis dan masih awetnya warna maupun kain meski sudah beratus tahun usianya. Inilah yang membuatnya menjadi seorang kolektor dari batik-batik yang sudah berusia ratusan tahun. Batik yang dirawatnya dengan baik ini merupakan saksi sejarah keindahan dan kekayaan motif batik Madura. Beberapa koleksi yang usianya 200 tahun antara lain mano’ juduh tarpote kellengan, tarpote bangan, burubur, rawan mera, tana paser mera. Mai pun mulai belajar membatik.

Tak tanggung-tanggung dia juga belajar ke beberapa daerah bahkan hingga ke luar negeri. lni dilakukan untuk lebih memahami secara detail tentang batik. “Berbeda dengan ibu saya, ibu dulu hanya bisa membatik tanpa mengembangkan pengetahuannya tentang batik daerah lain,” ujar pemilik Gerai Pesona Batik Madura ini. Kali pertama, Mai mempelajari batik Sidoarjo di Koperasi Intako Tanggulangin. Setelah itu dia mempelajari  Batik Pekalongan, Jogjakarta, dan daerah Indonesia lainnya. Hingga akhirnya dia belajar selama empat bulan di Kyoto, Jepang. “Di Jepang saya mempelajari teknik mengkreasikan warna. Jangan salah, di Jepang ada sarana membuat batik lho, dengan cara-cara yang canggih pula, namun mereka hanya memiliki saja sementara SDM belum punya,” ujar perempuan berdarah China-Madura ini.

Dari pembejalaran itu akhirnya dia memutuskan untuk fokus membuat batik Khas Madura terutama batik Gentongan. Bagi Mai, Batik Gentongan adalah batik yang sangat eksotis. Selain membuatnya butuh waktu sangat lama, pewarnaannya merupakan warna-warna alami. “Batik gentongan adalah batik Madura yang menyajikan sebuah seni khas Madura dengan teknik spesialisasi pencelupan ke gentong yang berumur ratusan tahun. Dengan teknik ini warna semakin matang dan bersinar. Inilah yang membuat saya tertarik,” kata Mai. Menurut Mai, ada lebih dari 200 motif Batik Gentongan, antara lain Cokeh, Cu’ung, Tarpoteh, Panjisusi, Tasikmalayo, Panji Tokol, Rawan, Sabut dan masih banyak lagi.

Pasar
Tepatnya sejak 1997 Maimonah mulai membuat batik gentongan, namun karyanya hanya dijual untuk kalangan sekitar. Kemudian pada tahun 1999 dia mulai memproduksi dengan jumlah banyak dan dijual hingga ke luar Madura. Pada awal usahanya Mai hanya dibantu keluarga, namun kemudian dapat mempekerjakan masyarakat sekitarnya terutama perempuan.

Pasar terluas dari produknya adalah Negara Jepang. Menurut dia, Jepang adalah negara dengan masyarakat yang sangat mengagumi seni. Mereka suka sekali dengan batik meski harga yang dipasang tidak murah. Maklum harga batik gentongan berbeda-beda tergantung lama proses pembuatannya.

Untuk proses pembuatan 2-4 bulan harganya sekitar Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta. Sedangkan yang prosesnya membutuhkan waktu 6 bulan hingga 2-3 tahun harganya hingga mencapai Rp 6 juta. Namun sukses di Negeri Sakura tidak berarti sukses pula di negara lainnya. Mai mengaku pernah gagal dalam memasarkan produknya ke Roma. Menurut Mai, itu karena dia tidak bertemu langsung dengan pengusahanya melainkan melalui perantara. “Beda dengan orang Jepang, di Roma tidak berani dengan harga yang saya pasang, mereka meminta harga jauh lebih rendah;’ katanya. Sementara di tanah air, peminat produk dari Pesona Batik Madura ini banyak dari Jakarta dan Bali. “Di Jawa Timur peminatnya tidak sebanyak di Jakarta, saya punya beberapa gerai di sana. Masyarakat bisa mendapatkan produk saya di Pasar Raya Jakarta, Pendopo Kemang, Cipete, Pacific Place dan masih ada lagi. Sebentar lagi saya juga akan buka gerai di Hotel Marriot di Kuningan, saya sudah bekerjasama,” ujar Mai.

Impian
Sejak tahun 2004, Mai berkesempatan menggelar pameran di berbagai daerah di Indonesia dan manca negara. Antara lain di Australia, Jepang, Italia, Prancis, dan Muscat Festival, Oman, atas undangan Kesultanan Oman. Ia juga berkesempatan berpameran di Xian Si China bersama 75 pengrajin. Kecintaannya pada batik membuahkan penghargaan Seal Of Excellence For Handcraft Product In Southeast Asia dari UNESCO. Dia juga mendapat penghargaan Smesco Festival dari Kementerian Koperasi dan UKM serta beberapa penghargaan lainnya. Mai pun mempunyai impian membuat sebuah galeri di kotanya. Galeri ini akan dibangun tidak hanya karena kecintaaannya pada seni Batik Madura, namun juga untuk menarik minat wisatawan agar berkunjung ke Pulau Madura dan melihat bagaimana seni, kultur dan masyarakat Madura. “Saya hanya ingin melestarikan,’ ujarnya.

Dia ingin sekali mewujudkan impian ini. Dalam bayangannya, galeri akan disajikan buah karya seninya dan leluhurnya. Dia ingin memperkenalkan aneka macam motif dan jenis batik Madura. “Galeri saya nanti hampir mirip Mirota milik orang Yogjakarta, namun mungkin sedikit berbeda karena saya akan menempatkan para pembatik di galeri itu, sehingga pengunjung bisa tahu dan belajar bagaimana cara membuat batik, saya tidak sabar mewujudkannya,” ujarnya dengan wajah berbinar.(sti)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Potensi Jawa Timur, Tiada Hati Tanpa Informasi, Dinas Komunikasi Dan Informatika Provinsi Jawa Timur Edisi  05, Mei 2011, Surabaya, 2011, hlm.12.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Madura, Seni Budaya, Th. 2011 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s