Bubur Ayam, Surabaya


Hangatnya Pagi dalam Semangkuk Bubur Ayam

YA AMPUN TABURAN AYAM SUWIR DI ATAS BUBUR  HANGAT DIPADU DENGAN CAKUE,  KRUPUK DAN DAUN BAWANG, SIAPA YANG BISA MENOLAK?

Sebuah imajinasi sederhana. Sebelum berangkat ke kantor atau ke sekolah, menikmati semangkuk bubur ayam. Hangat. Dengan asap tipis yang terus mengepul dan membawa cita rasa luar biasa. Bagi penggemar sabu alias sarapan bubur ayam, sensasi yang ditawarkan makanan ini ya saat tersaji hangat. Selebihnya, kelezatan pelengkap di atas bubur yang membuat rasa dan tampilan bubur menjadi istimewa.

kering adalah bubur yang bumbunya tidak menggunakan kuah tambahan, artinya agar rasanya tambah mantep, hanya kecap manis dan asin. Sedangkan bubur ayam basah, memakai tambahan. kuah khusus yang biasanya bersantan tetapi ada juga yang berkuah bening. Sebagai pelengkap ada irisan cakue, seledri, kedelai goreng, kerupuk dan bawang goreng. Jika rasanya kurang pas tinggal tambah kecap manis atau asin.

BUBUR PENGAMPON
Lokasinya, sedikit menjorok masuk ke dalam, tapi hal ini tidak mengurangi minat pencmta bubur ayam untuk singgah ke jalan Pengampongang dua. Deretan mobil tampakmemenuhi depangang, jika hari Sabtu dan Minggu jumlahnya bisa melonjak dua kali lipat. Pegawainya terlihat sigap melayani pembeli, tak perlu menunggu . lama, karena dalam hitungan menit bubur hangat dengan asap yang masih mengepul sudah siap tersedia. Agar rasa tetap prima, bubur yang disajikan, terlebih dulu dipanaskan dalam pand kecil lalu potongan daging ayam dimasukkan, sehingga tercampur rata. Kemudian bubur tersebut, diletakkan di atas mangkok, kemudian diberi taburan irisan cakue, bawang merah, daun bawang, dan potongan bunga sedap malam yang sudah dikeringkan.

Seporsi dihargai Rp 10 ribu. “Dijamin puas dan kenyang, soalnya porsinya lumayan banyak,” komentar seorang pembeli. Kelezatan bubur ini, terletak dari rasa buburnya yang khas, menebarkan wangi daun sereh, buburnya juga pas, tidak terlalu encer atau kental. Selain itu, penjualnya juga tidak pelit memberikan potongan daging ayam, membuat bubur ini tidak pemah sepi sendiri. Meski namanya bubur ayam, tapi daging babi juga disediakan di sini. “Bedanya kalau daging babi, bentuknya bulat seperti bakso,” tutur seorang pegawai.

Sebelumnya, bubur ayam yang ramai setiap minggu pagi ini, menempati lokasi di depan gang di jalan Pengampon 11/3, menu yang populer saat itu adalah pangsit dan bubur ayam. Beberapa tahun kemudian, menurut penuturan masyarakat setempat, lokasinya

mundur dan menjorok ke dalam. Karena sudah mempunyai pelanggan loyal, lokasi yang menjorok ini tidak menjadi masalah bahkan pelangganya makin bertambah.

“Kalau sudah ramai, maka rumah di depannya juga dibuka untuk

BUBUR AYAM TEH LILIS

menerima pembeli,” jelas Halim warga di gang ini. “Bubur yang dibawa pulang, kami sediakan wadah· plastik yang bisa ditutup, irisan bawang dan cakue dipisahkan, jadi lebih tahan lama dan rasanya tetap lezat,” jelas penjualnya. Mengenai asal muasal berjualan bubur, rata-rata pegawai tidak tahu persis kapan mulai berjalan, sedangkan si pemilik bubur, kata pegawai tersebut sudah sangat tua dan tidak lagi terjun langsung ke dapur. “Sekarang giliran anak dan menantunya yang ngurusin,” jelas salah satu pegawai.

Bermodal tempat berdagang sederhana, di pinggir jalan taya Mayjen Sungkono, Sulistin pemilik bubur ayam Teh Lilis mencoba mempopulerkan hidangan khas Jakarta di Surabaya. “Orang Jakarta kalau pagi pasti cari bubur ayam,” terang wanita asal Bandung ini. Awal berjualan ia hanya mampu menjual tujuh mangkok dalam sehari. “Kayaknya orang Surabaya belum terbiasa sarapan bubur,” jelasnya. Lambat laun, bubur ayam miliknya mampu memikat banyak hati, setidaknya sekarang 100 mangkok laku terjual setiap harinya. Harga bubur ayam Teh Lilis terbilang murah hanya Rp 3500 seporsi.

 
Bubur ayam ini disajikan dengan potongan ayam, cakue, bawang goreng, kerupuk, emping dan kedelai goreng. “Bubur khas Jakarta selalu memakai kedelai goreng atau kacang tanah,” tutur Lilis yang membuka cabang di belakang Darmo Trade Center. Pelanggannya kebanyakan bukan orang asli Surabaya, alasannya orang Surabaya lebih memilih sarapan pecel ketimbang bubur ayam. Di luar jualan

rutin, Lilis juga sering menerima pesanan bubur ayam untuk acara jalan sehat, rapat pagi atau pesta taman.Buka pukul lima pagi, warga Dukuh Pakis ini mulai memasak pada pukul tiga pagi dan dilakukan untuk buat bubur saja, sedangkan bahan lainnya sudah disiapkan sore hari. “Bubur itu paling enak dinikmati pagi hari,” ujarnya. Karena alasan inilah ia membatasi waktu berjualan.

“Pokoknya, habis atau tidak, pukul 11 siang ya pulang,” terangnya. Jika masih ada sisa, buburnya terpaksa dibuang karena  memang memang tidak tahan lama dan rasanya pun juga berubah.

BUBUR AYAM NGAGEL
Salah satu penjual bubur ayam yang cukup laris di Surabaya, adalah bubur ayam Jakarta di daerah Ngagel tepatnya di depan Bank Amin. Jika pagi hari melintasi jalan ini, tampak deretan mobil dan sepeda montor ramai membeli. Tak jarang, orang kantoran dan murid sekolah singgah dulu untuk sarapan dengan bubur ayam. “Sekarang langganan mulai banyak,” jelas Nanang yang . mulai berjualan tahun 2002.

Awal berjualan ia mengalarni cerita sedih, bubur ayam ternyatakurangpopuler diSurabaya, beda denganJakarta dan Jawa Barat yang banyak bertebaran penjual bubur ayam.” Awalnya sulit sekali jualan bubur, orang masih beranggapan bubur itu makanannya orang sakit,” tuturnya. Pandangan ini jelas dianggap keliru oleh Nanang karena bubur ayam lebih nikmat karena ada tambahan ayam,cakue, kacang kedelai dan kacang tanah. “Mestinya, lihat terus cicipi dulu, baru deh tahu kalau bubur ayam itu enak banget,” ujar lelaki asal Tasikmalaya ini. Waktu berjualannya relatif singkat, buka pukul enam pagi dan tutup pukul delapan.

“Lumayan minimal bisa laku 100 porsi,” ungkapnya. Sabtu dan Minggu dagangannya bisa lebih cepat lagi terjual. Yusuf salah satu pembeli menuturkan, keunggulan bubur ayam ini dari rasa buburnya yang gurih . “Rasa suwiran daging ayamnya juga enak,” kata Yusuf yang lebih sering membeli untuk dimakan di kantor. Soal porsinya, pria asal Delta Sari ini menyatakan ukurannya sesuai, tidak terlalu banyak atau sedikit.

Minimnya tempat duduk dan antrian yang panjang membuat banyak pembeli memilih dibungkus untuk dibawa pulang. “Tetap enak kok, karena bubur, kerupuk dan sambalnya dipisah kok,” jelas Nanang. Jika rasanya dirasa kurang pas, tinggal menambahkan kecap atau sambal.

Orang Jakarta kalau pagi pasti cari bubur ayam. Kayaknva orang Surabaya belum terbiasa sarapan bubur …

BUBUR AYAM PRlMARASA
Rumah makan ini dikenal dengan sajian ikan dan ayamnya, tapi untuk menu pagi Primarsa mengenalkan tiga menu sarapan pagi, yaitu nasi pecel, nasi kuning dan bubur ayam. Santi pemilik Primarasa menuturkan, awal menjual bubur ayam karena permintaan pelanggannya yang ingin makanan yang tergolong ringan untuk makan pagi. Akhirnya, pada akhir tahun 2005, menu bubur ayam, ditampilkan dalam daftar sebagai salah satu menu pilihan sarapan pagi.

Hasilnya, bubur ayam Lilis mendapat tempat di para pembeli yang rata-rata adalah pelanggan Primarasa. “Biasanya, habis olahraga mereka mampir ke sini untuk sarapan bubur,” ujar Santi. Tak jarang, bubur, ayam yang buka mulai 07.00-10.00 dipadati pembeli, apalagi jika hari Sabtu dan Minggu. Jika tidak ingin makan di tempat, ia menyiapkan kemasan praktis. “Kami sediakan cup khusus, jadi kalau mau makan tinggal dipanaskan di microwave,” ujanya. Sajian bubur ayam Primarasa ini berbeda dengan bubur Jakarta atau daerah lainnya, karena disajikan bersama telur dadar dan kacang goreng. “Telur dadarnya istimewa, karena ada potongan chiapo,” tuturnya. Chiapo ini diiris kecil-kecil lalu dicampur dalam telur dadar. “Ada rasa asin dan gurih, pas kalau dimakan dengan bubur,” jelasnya. Selain telur dadar, adapula kacang goreng, taburan daun bawang dan bawang goreng.

“Bubur memang paling pas buat sarapan pagi karena tidak membuat perut terlalu kenyang,” kata Santi yang memberikan 35 persen untuk menu sarapan pagi. Makan di sini memang murah meriah memang karena semangkuk bubur ayam hangat dengan telur dadar hanya Rp 4300 seporsi. _ manda roosa/foto: an kusnanto

 
Mosaik, maret 2006, hal. 99

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Surabaya, Wisata Kuliner dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s