Sastra Ludruk


Akar Historis Sastra Ludruk 

Jika kita andaikan Pak Santik atau Cak Markeso adalah sosok seniman yang sekaligus memiliki kualitas intelektual sebagaimana Feng Menglon, tentu sejarah ludruk akan mampu berkembang lebih sophisticated’.

Oleh FAHRUDIN NASRULLOH

 

Jangkrik upo

Jangkrik upo

Rupaku ganteng

Irungku ombo

 

(Syair Cak Njoto)

GAGASAN ihwal “sastra ludruk” mulanya mencoba mengungkai perkara di luar teks pada ekspresi kehidupan orangorang ludruk, pada tradisi oral yang membentuk komunitas kesenian yang berpijak pada daya cipta seni rakyat demi pengukuhan eksistensi rakyat itu sendiri dalam ruang sosialnya. “Berituk” dan “isi” di dalamnya semisal pada parikan ( syair rakyat eli jalanan) hakikatnya adalah sebuah daya-budi untuk memaknai eksistensi dan historisitas mereka. Dari sinilah sejarah kesenian (ludruk) coba ditembus untuk pembacaan kembali dimensi sosial dan interaksi -interaksinya.

Sebagai cermin bandingan, karya-karya realisme magis di Amerika Selatan pada abad ke-20 lahir dan berikhtiar membangkitkan eksistensi historis mereka. Bahwa ada “kenyataan ajaib” di dalam kesejarahan yang mereka miliki sebagai sumur imaji Iiterer yang tiada habisnya.  Dari sanalah tersimpan “suara lain” yang

memberikan warna bagi kesusastraan dunia. “Kenyataan ajaib” atau “lo real marafilloso” dalam istilah novelis Kuba Alejo Carpentier merasuki dan membangkitkan kesusastraan Amerika Selatan pada dasawarsa 30-an, dengan munculnya tiga pengarang: Alejo Carpentier, Miguel Angel Asturias, dan Jorge Luis Borges. Pandangan itu selanjutnya bergentayangan dan menghantui karya-karya realism magis. Bagi Carpentier, sejarah adalah suatu pencarian terhadap firdails yang hilang, demi penebusan suatu identitas asali untuk masa depan.

Jika Amerika Selatan membangun sejarahnya dengan rnitologi di medan keberkaryaan, yang serentak juga membongkar akar-akar yang terbenam pada masa silam mereka, dunia ludruk yang lahir di Jombang pada kisaran 1900-an tak menghadirkan apa pun sebagai tilas selain semacam cerita-cerita penggalan: rombongan pengamen yang terdiri atas satu dua atau lebih yang dimulai Pak Santik, Pak Gangsar, PakPono, dan PakAmiryang berkeliling dari karnpung ke karnpung.

Kini, ketika keberadaanludrukter seok-seok eli tepi modernitas dan sementara pola kehidupan kapitalistis-konsumeristis kian  mengumpulkan kesadaran berbangsa akan kebudayaannya dalam konteks Indonesia yang masih “terus menjaeli” (istilah Y.B. Mangunwijaya), terlihat bahwa historisitas ludruk belumlah menjadi kesadaran kritis untuk memberikan am secara luas bagi khazanah kebudayaan bangsa.

Kita tahu bahwa kesusastraan merupakan wilayah eksperimen yang paling bebas di dalam bahasa. Maka, lahirlah sastra fantasi. Teologi dan filsafat hanyalah cabang darinya, sebagaimana yangkerap diulas kritikus Nirwan Dewanto dan Hasif Amini. Bagi mereka, ciri utama sastra fantasi sebenamya mempersoalkan dan melakukan subversi terhadap apa yang elisebut realitas, visi monologis, dan cara tunggal dalarn mempersepsikan dunia. Dunia seakan ditafsiri kembali, eligodok ulang. Sementara itu, teologi, sejarah, alam supranatural, bahkan sejarah JUhan dan penciptaanNya menjadi bumbu penyedap yang diproyeksikan semagis mungkin.

Pada abad ke-20, teks sastra fantasi kian berwatak non-referensial, dunia nyata “di luar teks” menjadi pertaruhan. Memulai ke sebentang arah: pencarian otonomi fiksional sebuah narasi. Sebuah sikap kosmopolitan yang ringan hati. Di Jawa Timur, misalnya, karya-karya Suparto Brata yang berbahasa Jawa, kendati kerap dicibir sebagian orang hanyalah karya si “tukang ketik” tanpa bobot, justru menjadi api spirit bagi sastra daerah pada waktu mendatang.

Cerita daerah maupun fiksi yang lahir dari lokal genius merupakansalah satu kekuatan penyanggah bagi identitas local yang mesti dipertahankan. Sebab, sejarah itu bangkit bersamanya, suatu upaya n menemukan kembali diri “rrianusia” lampau. Dalam sejarah China klasik hal itu dibuktikan dengan upaya pendokumentasian fiksi dan sejarah lokal yang telah berkembang bahkan sejak ratusan abad sebelum Masehi. Shuhui Yang dalam buku Kumpulan Kisah Klasik Dinasti Ming: Kisah Belut Emas, dikompilasi oleh Feng Menglon (l574-1646) serta diterjemahkan Shuhui Yang dan Yunquin CPT Gramedia Pustaka Utama, 2007, Jakarta), menyebutkan, Salah satu dari yang paling menarik dalam fiksi daerah China adalah retorika penutui cerita: ltu adalah bagian yang disebut Patrick Hanan sebagai ‘keadaan yang ditiru’ atau ‘keadaan sepotong fiksi ditularkan: Dalam cerita-cerita Sanyan (juga dalam fiksi daerah China lainnya), tiruan tersebuthampir selalu mengambil bentuk seorang penutur cerita lisan professional yang menyapa pendengarnya. Sang penutur cerita bertanya kepada pendengar yang ditiru, bercakap-cakap dengan mereka, membuat keterangan yang jelas untuk cerita-ceritanya, dan menyelingi ceritanya dengan syair dan puisi. Biasanya, sang penutur memulai ceritanya dengan satu atau lebih cerita pendahuluan atau puisi yang bertujuan menyediakan waktu bagi para pendengarnya untuk berkumpul. Kemudian, ia mempertunjukkan penampilan utamanya.

Jika kita andaikan Pak Santik atau Cak Markeso adalah sosok seniman yang sekaligus memiliki kualitas intelektual sebagaimana Feng Menglon, tentu sejarah ludruk akan mampu berkembang lebih sophisticated. Karangan yang berupa catatan-catatan cerita dan kompilasi-kompilasi sejarah di , daratan China sungguh banyak mendapat pujian dan menyumbang warisan tak ternilai bagi kesejarahan China dalam membentuk watak peradaban manusianya. Salah satu karangan Feng adalah tiga buku pegangan konfusian berjudul Kronik Musim Semi dan Gugur. Karena banyaknya buku yang dia susun, karyakarya itu seolah -olah jika ditumpuk sampai setinggi tubuhnya.

Feng adalah seorang patriot, si cabul yang jenaka, intelektual, pecinta yang romantis, orang yang hidup bebas, dan memiliki integritas yangtinggi dalam pengabdiannya pada kerajaan. Sebagian besar cendekiawan modern tak meragukan sumbangan Feng Menglon dalam kesusastraan daerah atau sastra rakyat, terutama’pengumpulan dan penyuntingannya pada 120 cerita pendek yang terkumpul dalam buku babon Sanyan.

Aliran itu kemudian disebut Huaben yang berkembang pada Dinasti Song (960-1279) dan Dinasti Yuan (1260-1368) serta mencapai kematangannya pada akhir masa Dinasti Ming (1368-1644)”. Feng meyakini cerita daerah menjadi satusatunya tonggak dalam melestarikan sejarah untuk masa depan sebuah kerajaan yang mencita-citakan kejayaan serta kemasyhuran. Apa yang disebut “proomt-book” adalah cerita yang berkembang di “pasar” pada Dinasti Song. Hal itu pula yang tak jauh dari pementasan-pementasan ludruk yang mempersoalkan kehidupan sehari-hari rakyat jelata, baik di pasar, di sawah saat petani menggarap sawahnya, di dalam rumah tangga, dan lain-lain.

Cak Supali, pelawak ludruk dari Mojokerto, mengatakan, ketika tokoh Besut muncul dalam perwnjudan Besutan, gendingan yang ajek yang mengiringinya adalah gendingan berlambar “Alas Kobong”: Konon, gending itu melambangkan percikan semangat baru bagi perjuangan hidup yang terus-menerus dilakukan tanpa menyerah. Tembang “Sambel Kemangi” yang diciptakannya adalah cerminan manusia Jawa yangmampu hidup dengan sumeleh, tidak serakah, gigih bekerja, dan mensyukuri apa yang terberi.

“Manusia ludruk” tidak anti-literasi. Tapi mereka dijauhkan dari sejarah (bias politik dan ekonomi). Bahkan, mereka sungguh tak tahu siapa dirinya yang sebenarnya dalam konteks ke-Indonesia-an yang terus bergerak. Barangkali gagasan “sastra ludruk” tidak memiliki akar historis secara literer yang memadai. Tak banyak catatan atau

karya yang kita temukan sebagai tolok-ukur kesusastraan. Namun, persoalan saat ini adalah bagaimana kita memulai pelacakan sejarah ludruk di Jawa Tirnur untuk menyingkap yang silam itu. Otentisitas kita ditantang untuk kembali mencari akarnya. bukan untuk memitoskannya, tapi bagaimana menumbuhkan dan memaknai kehadiran ludruk pada masa kini. (*)

*) Cerpenis, bergiat di Komunitas, Lembah Pring Jombang

 Jawa Pos,  Minggu 3 Juni 2012, hlm 6

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Seni Budaya dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s