Pembangunan Jembatan Suramadu, Gubernur Minta Dukungan DPR-RI


Upaya Gubernur Jawa Timur Imam Utomo S. untuk membangun daerah Jawa Timur dan mensejahterakan masyarakat di propinsi ini tampak tidak ada hentinya. Kesan tersebut juga muncul saat ia menerima sembilan orang anggota Komisi IV DPR RI asal Jawa Timur di ruang kerjanya di Jl. Pahlawan 110 Surabaya (24/3).

Kesembilan anggota Kornisi IV DPR RI itu adalah H. Hardi Soesilo, Sajarwo Sukardiman, Haryanto, KH Ismail Muzaki, Amin Said Husni, Hj. Umroh M Tolhah Manzur, Ansor Kholil, Nono Sukarno dan Indra Prajitno. Kunjungan dalam masa reses ini dimaksudkan untuk menyerap aspirasi dan kemajuan daerah guna persiapan Sidang Tahun 2002. Juga, sebagai komitmen para wakil rakyat terhadap daerah asalnya, Jawa Timur.

Dalam kesempatan ini, Imam Utomo meminta dukungan DPR RI, khususnya asal Propinsi Jatim dalam merealisasikan pembangunan jembatan Surabaya-Madura (Suramadu). Dukungan tersebut sangat diperlukan karena dalam pembangunan jembatan ini Pemerintah Pusat direncanakan menanggung pembiayaan sebesar Rp 1 trilyun.

Langkah ini sesuai dengan anjuran Menkimpraswil kepadanya. Apalagi, Tim Kuwait yang akan memberikan pinjaman untuk pembiayaan jembatan Suramadu sudah merencanakan akan mengunjungi Jatim guna pengkajian kelayakannya. Kuwait direncanakan akan memberikan bantuan pinjaman dana sebesar Rp 1,5 trilyun.

Menurut mantan Pangdam V Brawijaya ini, dalam pembangunan jembatan Suramadu, Pemerintah Pusat tidak perlu sepenuhnya tergantung dari pinjaman Kuwait. Alasannya, kontribusi Jatim ke Pusat sangat besar.

Tahun lalu, propinsi ini menyumbang ke Pusat sebesar Rp 35 trilyun dan tahun ini ditargetkan sebesar Rp 38 sampai dengan Rp 40 trilyun. Diyakininya, alokasi dana sebesar Rp 1 trilyun kepada Jawa Timur tidak akan memberatkan Pusat.

“Saat ini masyarakat Madura menunggu pemancangan pondasi jembatan Suramadu,” ucapnya. Ia menambahkan, Tim Pembangunan Jembatan Suramadu sudah terbentuk dan rencana pembangunan jembatan tersebut tidak mendapatkan kendala berarti.

Di Surabaya, tanah yang sudah dibebaskan seluas 9 ha dan dan di Madura 5,5 ha. Sisi Surabaya, lanjutnya, hanya kurang 2,5 hektar. Tanah tersebut diperuntukkan akses jalan menuju jalan Lingkar Timur.

Di Madura lahan yang dibutuhkan masih kurang 40 hektar. Menurutnya, pembebasan lahan tersebut tidak menjadi masalah karena sebagian besar merupakan tanah rawa.

Proyek Pendukung
Dalam kesempatan yang sarna, Gubernur Imam Utomo menjelaskan, Jawa Timur saat ini sedang membangun berbagai proyek skala besar seperti pembangunan bandara baru Juanda, jalan Jatim Lintas Selatan, dan pembangunan berbagai jalan tol. Di antaranya Lingkar Timur Surabaya dengan prioritas ruas Waru-Juanda, Surabaya-Kertosono dengan prioritas Surabaya-Mojokerto, Gempol-Probolinggo dengan prioritas Gempol-Pandaan.

Pembangunan proyek skala besar tersebut diyakini akan mendukung percepatan pengembalian dana pinjaman swasta, yang ikut berperan dalam membangun jembatan Suramadu. Alasannya, proyek skala besar tersebut mempercepat pertumbuhan ekonomi Jatim.

Pertumbuhan ekonomi Jatim diperkirakan akan meningkat seiring dengan penemuan ladang minyak dan gas di Jatim, antara lain di Bojonegoro dan Ngawi. Ia mencontohkan ladang minyak di Ngawi merupakan penemuan terbesar oleh Exon Mobil selama ini dengan produksi sebesar 150 ribu barrel/hari.

Karenanya, penemuan ini ditindaklanjuti dengan pembangunan kilang minyak di Tuban. Kilang minyak tersebut akan menghasilkan 30 jenis hasil minyak tambahan yang akan melibatkan lebih dari 100 perusahaan. Menurutnya, pembangunan tersebut juga akan mengurangi pengangguran di Jatim yang sampai saat ini mencapai 970 ribu tenaga kerja.

Pengembalian dana swastajuga akan dipercepat dengan dipindahnya terminal petikemas ke P. Madura. Lalu lintas petikemas di Jatim yang tidak kurang dari 1.2 juta/tahun akan memberikan kontribusi signifikan bagi pendapatan jalan tol. Dan pemindahan ini telah disetujui Menko Ekuin Dorodjatun Kuntjoro-djakti.

Mengenai pertumbuhan ekonomi Jatim, diakuinya pada tahun 2000 dan 2001 lalu relatif tidak naik secara fundamental. Hal tersebut disebabkan krisis Politik dan perdagangan pada tahun-tahun tersebut. Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tahun 2000 sebesar 3.25% sedang 2001 sebesar 3,32% atau naik hanya sebesar 0,07%.

Pembangunan Suramadu
Pembangunan Suramadu akan dilakukan secara gabungan an tara PT Jasa Marga/investor swasta, Pemerintah Pusat, Pemda dan partisipasi swasta. PT Jasa Marga dibebani Rp 300 milyar, Pemerintah Pusat Rp 1 trilyun, Pemda (Prop. Jatim, Pemkab se-Madura dan Kota Surabaya) dibebani Rp 558,7 milyar dan partisipasi masyarakat sebesar Rp 350 milyar.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya terbaik agar tarif tol dapat terjangkau oleh masyarakat, beban Pemerintah untuk biaya pembangunan berkurang dan operasional angkutan penyeberangan atau ferry dapat bertahan. (Ben)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
Mimbar Jatim, April 2002, hlm, 30

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Bangkalan, Madura, Surabaya, Wisata dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s