Perkawinan Adat Jawa, Gresik


Simbolisasi Piranti Perkawinan Adat Jawa
Pranata Cara Perkawinan Adat Jawa,
Tinggal di Wringinanom, Gresik
Oleh: Drs. Udik Siswanto

Mengapa di setiap hajatan pernikahan yang masih bernuansa kejawen selalu ada hiasan seperti janur kuning melengkung, tebu, cengkir, pisang raja dan sebagainya yang ditempatkan di depan rumah. Ada banyak makna yang tersimbol di balik semuanya. Ini pula yang membuktikan luhurnya Bahasa Jawa

 
Sebenarnya, dalam prosesi pernikahan pada acara temu atau panggih, sang pembawa acara atau pranatacara, telah memberi penjelasan secara wijang (jelas). Namun karena ungkapan yang dilakukan pranatacara itu dalam bahasa Jawa Kawi yang kerap digunakan dalam bahasa pedalangan, justru menyebabkan banyak orang Jawa yang tak memahami maksud yang terkandung di dalamnya.

Memang terkesan sangat naïf dan lucu apabila orang Jawa tidak memahami bahasanya. Namun kita juga bisa memakluminya. Penggunaan Bahasa Jawa Kawi ini sangat khas digunakan di acara pernikahan yang erat kaitannya dengan tatacara adat. Kekhasan ini pula yang membuat Alquran yang disampaikan dalam Bahasa Arab, namun tidak semua orang Arab bisa memahami Alquran. Diperlukan kajian yang mendalam. Kajian yang lebih dari sekadar memahami makna leksikalnya.

Banyak nasehat yang terkandung dalam acara prosesi pernikahan adat Jawa. Para pujangga dan leluhur Jawa yang telah menciptakan tradisi atau adat dalam acara pernikahan, tentu telah mengantongi nilai-nilai positif/lahiyah. Semua itu banyak dikemas secara simbolis dan perlambang. Hal ini tak lepas dari kebiasaan orang Jawa yang tak memberi nasi hat secara vulgar. Lebih sering digunakan pasemon (metafora, perlambang, simbolik dan sebagainya).

Makna simbolis yang terkandung dalam janur kuning melengkung yang berada di pintu gerbang sang tuan rumah pengantin. Kata Janur sendiri, berasal dari kiratha basa Jawa (Othak-athik mathuk), sejane neng nur (arahnya menggapai nur= cahaya Ilahi). Sedangkan kata kuning bermakna sabda dadi (kun fayakunNya Allah SWT) yang dihasilkan dari hati atau jiwa yang bening. Dengan demikian, janur kuning mengisyaratkan cita-cita mulia dan tinggi untuk menggapai cahaya Ilahi dengan dibarengi hati yang bening. Nampak, betapa tingginya filosofi janur kuning dalam prosesi pernikahan.

Filosofi yang tak kalah hebatnya nampak ketika mempelai pengantin laki akan dipertemukan dengan mempelai pengantin perempuan. Sebelumnya masing-masing mempelai telah dibekali dengan daun sirih (suruh) yang telah digulung untuk kemudian dilemparkan pada pasangannya masing-masing. Daun sirih ini memiliki simbol selaras, serasi dan seimbang. Pada saat tersebut sang pranatacara “Godhong suruh lumah lan kurebe, yen ginigit pada rasane”. Sebenarnya hal ini mengisyaratkan bahwa orang yang berumahtangga diibaratkan sebagai daun sirih. Dalam bahtera rumah tangga hendaknya pasangan mempelai selalu seiya-sekata serta mengerjakan kewajibannya masing-masing. Suami memberi nafkah lahir dan bathin, termasuk mendidik isteri. Sehingga dia menjadi pemimpin dalam mengurusi anak-anaknya, mengelola keuangan, menyiapkan makanan dan seterusnya.

Makna Simbolis Tebu, Cengkir dan Pisang Raja
Kalau kita mengamati di sebelah kiri-kanan “gapura janur kuning”, terlihat pula tebu, cengkir dan pisang raja yang diikat pada dua tiang di depan ruang pertemuan resepsi. Itu semua adalah simbolisasi nasehat yang diberikan para pujangga Jawa agar mempelai mempersiapkan masa depan kehidupannya secara sungguh-sungguh. Pertama, Tebu. Tebu bisa kita artikan sebagai mantebing kalbu (mantapnya hati atau kalbu). Tanaman tebu yang rasanya manis dan menyegarkan memang sering dipakai sebagai simbol atau lambang dalam acara tradisi Jawa lainnya. Hal ini bisa kita lihat pada acara mitoni (selamatan untuk anak yang berusia 7 bulan). Si anak lalu dipandu untuk menaiki anak tangga yang terbuat dari tebu tujuh tingkat. Hal ini dimaksudkan selain memperingati usia 7 bulan, juga dimaksudkan untuk mengingatkan secara simbolis tentang perspektif religius-spiritual: maqom tujuh dan martabat tujuh. Kedua, cengkir (buah kelapa yang masih muda). Maknanya adalah kencenging pikir. Dengan berbekal cengkir, sang mempelai diharapkan mampu melewati ujian kritis dalam mempertahankan pernikannya. Sehingga “kaya mimi lan mintuna” yang selalu bersama dalam menghadapi suka dan duka. Ketiga, pisang raja, maknanya sangat jelas sebagai simbol dari raja. Artinya pernikahan manusia adalah salah satu tahap yang paling penting dari tiga proses perjalanan: kelahiran, perkawinan dan kematian.  Diibaratkan dalam resepsi itu, pengantin adalah raja sehari yang disimbolisasikan dengan pisang raja yang ditempatkan di depan rumah. Mempelai pun didudukkan di singgasana rinengga dengan mengenakan pakaian ala raja dan permaisuri yang penuh aura kewibawaan.

Bobot, Bibit, Bebet
Gegarane wong akrami dudu bandha dudu rupa, amung ali pawitane, luput pisan kena pisan, yen angel angel kelangkung tan kena tinumbas arta (Rambu rambu pernikahan bukan soal harta dan bukan karena wajah. Hanyalah hati yang menjadi modal pertimbangannya, Jika sekali salah jika benar pun sekali. Jika terlanjur sulit, maka sulitnya luar biasa, tak bisa dibeli dengan harta). Demikian ungkapan atau refleksi pujangga Jawa mengenai gegarane wong akrami.

Betapa pentingnya ramburambu pernikahan ini. Karena pernikahan bukan sekadar hubungan lelaki dan perempuan berdasar naluri seksual. Pernikahan merupakan perjanjian yang sangat kokoh (mithaqan ghlizan). Perjanjian lahir dan batin seorang lelaki dan perempuan untuk membentuk keluarga bahagia dan sejahtera sesuai dengan ketentuan sang pencipta dalam rangka berbakti dan beribadah kepada-Nya.

Berawal dari kehati-hatian menghadapi perkawinan itu pula, pujangga Jawa memberi rambu dalam memilih jodoh. Orang Jawa harus melihat dan  mempertimbangkan obor-obor atau dom sumusupe banyu. Ada tiga hal penting yang menjadi pertimbangan itu. Pertama, Bobot. Yakni menyeleksi kualitas calon pasangan pengantin. Hal ini sangat ditekankan terutama untuk calon pengantin laki-laki. Karena bahagia atau tidaknya seorang isteri sangat dipengaruhi oleh tingginya kualitas pendidikan dari sang suami. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kestabilitasan sosial ekonomi rumah tangga yang akan dijalaninya.

Kedua, Bibit. Yakni pertimbangan berdasarkan keturunan atau keadaan orang tua sang calon pengantin. Keturunan ini pula yang nantinya sangat berpengaruh pada keadaan social kemasyarakatan dalam rumah tangga yang akan dijalani oleh sipengantin. Tentu ada beban psikologi sosial yang tinggi seandainya sang calon pengantin memiliki latar belakang kehidupan yang cacat dari sudut pandang sosial masyarakat.

Ketiga, Bebet. Perangai dari sang calon pasangan mempelai perlu dipelajari untuk menjadi bahan pertimbangan yang sangat matang sebelum menuju ke jenjang pernikan. Orang yang baik bisa dilihat dari ketercapaian hasil pada suatu proses sosialisasi di keluarga.

 Bahasa Jawa dan Muatan Filsafatnya
Jelas sekali bahwa Bahasa Jawa sebagai salah satu simbol budaya memiliki satu derajat yang membanggakan, dikatakan edi peni (penuh dengan nilai estetis) dan adi luhung (luhur dan bermartabat). Hal ini yang selama ini masih membekaskan rasa bangga pada diri kita semua adalah bahasa Jawa telah mampu bertahan dan terbina selama berabad-abad. Menjadi langkah yang menyedihkan kalau pada akhirnya kita kehilangan keedipenian serta keadiluhungan bahasa Jawa. Oleh manusia, bahasa digunakan untuk menyatakan perasaan, keinginan dan kebutuhan atau untuk mendapatkan keterangan. Penggunaan bahasa lebih kompleks dan maju adalah menyatakan reasoning, menerangkan sebabakibat, yaitu satu corak pemikiran khas yang dimiliki manusia dari pengetahuan yang ada untuk memperolah pengetahuan lainnya. Maka lahirlah berbagai bentuk filsafat nan anggun dan indah penuh dengan muatan tuntunan hidup yang pada akhirnya akan membawa manusia pada jalan hidup yang cerah. Dengan kata lain, berfilsafat adalah suatu aktifitas untuk menggunakan akal dan budi, sedalam-dalamnya dengan penuh tanggung jawab untuk mengungkapkan misteri masalah kehidupan sebelum akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang universal.

Ada pepatah yang berbunyi, “Wong Jawa nggoning rasa, pada gulange ing kalbu, ing sasmita amrih lantip, kuwana nahan hawa, kinemat mamoting driyo”. (Orang Jawa itu tempatnya di perasaan, Mereka selalu bergulat dengan kalbu dan suara hati, agar pintar menangkap maksud yang tersembunyi, dengan jalan menahan hawa nafsu sehingga dapat mengetahui apa sebenarnya maksud yang tersembunyi). Perasaan atau intuisi memegang peranan yang sangat penting di samping keberadaan jiwa dan akal. Dengan merunut penggunaan istilah bahasa yang dipakai, Nampak sekali tradisi dan tindakan orang Jawa selalu berpegang teguh pada etika hidup yang menjunjung tinggi moral dan derajat hidup. Orang Jawa menempatkan kemuliaan hidup di atas segalanya Keberadaan filsafat Jawa ini diakui oleh sarjana Barat, Robert Jay seorang peneliti dalam bukunya Religion and Politics in Central Rural Jawa. Dikatakannya bahwa pemikiran Jawa tradisional menerangkan sistim filsafat lengkap dan pengindahan hid up yang menyentuh hati. ***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BENDE media Informasi Seni dan Budaya, Edisi 87, Januari 2011 hlm. 51.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Gresik, Seni Budaya dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s