Tradisi Megalitik di Jawa Timur


Tradisi megalitik adalah suatu adat kebiasaan yang menghasilkan benda-benda atau bangunan dari batu yang berhubungan dengan upacara atau penguburan. Bangunan-bangunan monumental yang dihasilkan oleh tradisi megalitik ini biasanya berkaitan dengan usaha-usaha para pimpinan atau kepala desa, raja dan ketua adat untuk menjaga harkat dan martabat mereka. Pendukung tradisi megalitik percaya bahwa arwah nenek moyang yang telah meninggal, masih hidup terus di dunia arwah. Mereka juga percaya bahwa kehidupan mereka sangat dipengaruhi oleh arwah nenek moyang. Keamanan, kesehatan, kesuburan, dan lain-lain sangat ditentukan oleh bagaimana perlakuan mereka terhadap arwah nenek moyang mereka yang telah meninggal. Dengan perlakuan yang baik, mereka mengharapkan perlindungan sehingga selalu terhindar dari ancaman bahaya.

Ada yang mengatakan bahwa tradisi megalitik berasal dari daerah Laut Tengah, ada pula yang mengatakan dari daerah Mesir. Tersebarnya tradisi megalitik ke daerah timur dikarenakan adanya kegiatan untuk mencari kerang (mutiara) dan emas. Teori tentang asal tradisi megalitik yang sekarang diakui adalah teori Von Heine Geldern, yang mengatakan bahwa tradisi megalitik berasal dari daerah Tiongkok Selatan dan disebarkan oleh bangsa Austronesia. Migrasi bangsa Austronesia pada masa neolitik (bercocok tanam) dan pada masa perunggu besi menyebabkan tradisi mega litik tersebar ke daerah-daerah yang dilalui oleh migrasi bangsa tersebut. Daerah persebaran tradisi megalitik ini antara lain di Jepang, Formosa, Taiwan, Malaysia, Indonesia, bahkan diperkirakan sampai Pasifik.

Berdasarkan bentuk peninggalannya, tradisi megalitik dapat dibedakan menjadi dua yaitu: megalitik tua (older megalithic) dan megalitik muda (younger megalithic). Megalitik tua biasanya ditandai dengan bentuk menhir, dolmen, teras berundak dan batu datar. Sedangkan megalitik muda ditandai dengan bentuk arda, sarkofagus, keranda batu, kubur peti batu dan lain-lain.

Sedang berdasarkan masanya, tradisi megalitik dibedakan menjadi dua, yaitu tradisi megalitik yang berasal dari masa prasejarah (prehistorical megalithic tradition) yang biasanya merupakan monumen yang tidak dipakai lagi (dead monuments) dan tradisi megalitik yang masih berlanjut (living megalithic tradition). Megalitik dari masa prasejarah, antara lain ditemukan di daerah Bondowoso (Jawa Timur).

Tradisi megalitik yang berkembang begitu lama yaitu dari masa neolitik (6500 tahun yang lalu) sampai sekarang mengalami kemajuan pesat yang didukung oleh perkembangan lokal yang memberikan ciriciri tersendiri. Pemujaan arwah pada tradisi megalitik di Indonesia begitu menonjol sehingga aspek yang bersifat profan tidak begitu tampak. Hal ini dapat diketahui setelah dilakukan studi etnoarkeologi di berbagai wilayah di Indonesia. Hampir semua megalit digunakan dalam kaitannya dengan usaha mendekatkan diri kepada arwah nenek moyang. Baik pada tradisi megalitik prasejarah maupun tradisi megalitik yang masih berlanjut, megalit muncul karena digunakan untuk peribadatan atau penguburan. Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa peninggalan megalitik tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat sakral. Peninggalan yang berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari pun dapat disebut sebagai peninggalan megalitik. Misalnya batu-batu tegak yang dipergunakan sebagai batas kampung, susunan batu-batu besar untuk persawahan, lumpang batu yang dipergunakan untuk menumbuk biji-bijian dan lain-lain. Peninggalan tradisi megalitik di Indonesia dapat dijumpai juga daerah  Jawa Timur (Bondowoso, Bojonegoro), dan lain sebagainya.

Peninggalan-peninggalan tersebut mempunyai bentuk yang sangat beraneka ragam. Demikian pula ukurannya, ada yang pendek dan ada pula yang sangat tinggi (mencapai 7-8 m). Beberapa situs megalitik di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan lain-lain menunjukkan ciri-ciri khas.

Bentuk peninggalan tradisi megalitik di Indonesia antara lain terdiri dari:

  • Kubur batu: wadah penguburan mayat yang  dibuat dari batu. Bentuknya antara lain kubur peti batu, dolmen, sarkofagus, kalamba, waruga, dan pandusa.
  • Menhir: biasa disebut batu tegak, batu alam yang telah dibentuk tangan manusia untuk keperluan pemujaan atau untuk tanda penguburan.
  • Dolmen: biasa disebut meja batu, terdiri dari sebuah batu yang ditopang oleh batu-batu kecil lainnya sebagai kaki.
  • Kalamba: kubur batu berbentuk silinder, kebanyakan ditemukan di daerah Sulawesi Tengah.
  • Pandusa: kubur batu yang ditopang batu-batu lain sebagai dinding kubur, banyak ditemukan di Bondowoso.
  • Sarkofagus: kubur batu yang terdiri dari wadah dan tutup yang pada ujungnya biasa terdapat tonjolan. Biasa ditemukan di Bali.
  • Lumpang: batu batu berlubang untuk menumbuk biji-bijian atau segala sesuatu yang perlu ditumbuk.
  • Batu berlubang: batu yang permukaannya berlubanglubang. Biasanya digunakan untuk upacara.
  • Batu bergores: batu yang di permukaannya terdapat goresan-goresan. Biasanya juga digunakan untuk upacara.
  • Teras berundak: susunan batu dari balok-balok atau batu kali yang biasanya sebagai sarana upacara.
  • Waruga: kubur batu yang bentuknya seperti rumah, ditemukan di daerah Minahasa (Sulawesi Utara).
  • Arca megalitik: pahatan berbentuk manusia atau binatang yang berkaitan dengan kepereayaan megalitik.
  • Arca menhir: pahatan berbentuk antropomorpik tanpa kaki yang hanya terdiri dari kepala, leher dan badan.
  • Ksadanhalaman: berbentuk bulat yang dibatasi susunan batu sebagai dinding. Biasa digunakan untuk upacara dan ditemukan di daerah Timor Barat.
  • Bosok: susunan batu yang biasanya digunakan untuk upacara, ditemukan di Timor Barat.
  • Areosali: suatu teras yang biasa dipergunakan untuk memutuskan sesuatu perkara atau untuk mengesahkan perundangan yang berlaku di daerah Nias.
  • Neogadi: pahatan menyerupai meja batu berbentuk bulat yang biasa digunakan untuk menari pada waktu upacara di Nias.
  • Neoadulomano: neogadi berukuran kecil.
  • Sitilubagi: pahatan berupa binatang dengan badan pipih horizontal yang biasa digunakan untuk tempat duduk pada upacara perkawinan di daerah Nias.
  • Lasara: pahatan berupa kepala binatang khayal yang dianggap sebagai binatang pelindung.

Tradisi Megalitik di Jawa Timur

Peninggalan megalitik di daerah Jawa Timur ditemukan di daerah Bondowoso, Bojonegoro, Tuban dan daerah Magetan. Peninggalan di Bondowoso telah diteliti oleh berbagai ahli antara lain oleh Willems, Van Heerkeren, Steinmetz dan lain-lain.

Peninggalan tersebut terdiri dari berbagai macam megalit antara lain arca menhir, kubur pandusa, kubur sarkofagus, lumpang batu, batu kenong dan menhir. Peninggalan tersebut tersebar di beberapa kecamatan antara lain di Wringin, Maesan, Grojogan, dan Klabang. Sarkofagus di Bondowoso mempunyai bentuk yang besar-besar bahkan ada yang meneapai panjang 195 cm dan garis tengah tutup 145 cm. Kubur-kubur ini kebanyakan telah rusak dan telah digali oleh penggali liar. Sarkofagus ini biasanya polos tidak berhias.

Temuan yang langka dan mungkin hanya satu-satunya di Indonesia adalah “batu kenong”. gatu kenong ditemukan di Pakuniran kecamatan Maesan. Batu-batu kenong ada yang di susun dengan penampang persegi panjang dan ada pula yang di susun dengan penampang membulat. Dari nasil penelitian etnoarkeologi di berbagai daerah dapat diketahui bahwa batu-batu kenong kemungkinan dipergunakan sebagai umpak dari bangunan-bangunan untuk hunian.

Dolmen di daerah Bondowoso diperkirakan sebagai sarana penguburan, namun dari penggalian yang dilakukan belum diperoleh bukti-bukti yang nyata tentang fungsi dolmen di daerah ini. Demikian pula dari penggalian sarkofagus atau pandusa belum diperoleh sisa- sisa kerangka manusia yang lengkap.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: ALBUM TRADISI MEGALITIK DI INDONESIA

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Seni Budaya dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Tradisi Megalitik di Jawa Timur

  1. Akbar berkata:

    artikelnya bagus gan, smoga artikel saya dapat saling melengkapi
    .
    MARKIJAR.Com – Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Praaksara dan Masa Aksara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s