Mengenal Warok dan Reog Ponorogo


Warok Tidak Harus Berwajah Seram dan Angker

 
Berbicara masalah warok, pikiran pasti langsung menbayangkan sosok lelaki yang bertubuh besar, kekar dan angker. Termasuk atribut yang terus dipakai setiap harinya yang serba hitam-hitam lengkap dengan kolor putihnya. Tak ketinggalan, lingkungan sekitar yang terkesan magis dan tak teratur dalam kehidupannya. Memang tak salah apabila begitu cepat menyimpulkan demikian. Itu sesuatu yang lumrah, bahkan sudah, bukan menjadi pembicaraan ranasia lagi bila sebutan warok yang terdapat di kota Ponorogo, banyak dinilai minor dalam kesehari-hariannya itu. Kepribadian warok yang oleh masyarakat dinilai sebagai warok sejati adalah lelaki dengan ilmu kedigdayannya.

Siapa sebenarnya yang pantas disebut warok atau hanya warokan saja. Nah, untuk warok dapat ditarik difinisi orang atau lelaki yang tidak suka senonjolkan kesaktiannya, terutama dengan ilmu yang dimiliki. Sedangkan warokan, hanyalah orang yang sering tampil sebagai pengiring saat ada pentas seni reog. Jumlahnya cukup banyak, bahkan sampai ribuan. Hingga saat ini warok yang masih dipercaya sebagai suhunya Ponorogo adalah Mbah Mardi Kutu (66), mantan Kepala Desa (Kades) Losari Jetis dan Kasni alias Mbah Wo Kucing (63), mantan Kasun Kauman-Sumoroto. Kedua warok sejati tersebut sudah malang melintang dalam ngangsu kawruh di beberapa pergutuan. Dan sudah beberapa guru yang terserap ilmunya.

Seperti yang dialami Mbah Wo Kucing, ternyata lelaki yang sudah kelewat uzur ini masih segar bugar. Begitu pula gaya dan penampilannya juga tak memperlihatkan orang tua lainnya yang sudah pikun atau kena penyakit tua lainnya. Menurut keterangan, Mbah Wo Kucing ini sudah menyerap ilmu kanuragan dari puluhan guru. Konon melalui semedi atau bertapa di beberapa tempat yang cukup dianggap keramat, hanya untuk mencari ilmu untuk membekali ilmu pasrah terhadap Gusti Pencipta Bumi ini. Kegunaan dari ilmu yang didapat sudah cukup banyak dan beraneka fungsi. Pada umumnya, ilmu itu hanya untuk memberikan pertolongan terhadap sesama yang sedang dilanda kesusuhan dan bahaya. Namun bila ada perlawanan, juga digunakan untuk membela diri. Dan sabuk kolor putih yang kadang melingkar di pinggulnya sebagai senjata untuk menghancurkan lawannya.

“Sudah lebih 40 guru yang saya datangi untuk mendapatkan ilmu khususnya dengan ilmu kanuragan,” kenang Mbah Wo Kucing yang berjenggot panjang putih. Lelaki bertubuh tiriggi kurus itu, kini menjadi pioneer setiap ada pentas budaya reog. Mengapa kok bisa dikatakan dan disebut warok? Ternyata ada sejarah dan artinya. Menurut KH Mudjab Tohir, tokoh masyarakat sekaligus Ketua Insan Taqwa I1ahi (INTI) Ponorogo, seyogyannya dapat membedakan antara warok dan warokan. Kendati saat berkumpul keduanya sulit untuk membedakan. Warok berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata Wira yang artinya jauhilah perbuatan yang tidak terpuji. “Pokoknya siapa saja yang bisa memenuhi unsur tersebut, yaitu yang disebut dengan warok,” kata Mudjab Tohir saat ditemui Memorandum di teras masjid DPD Golkar, belum lama ini.

Menurut Mudjab Tohir, dulunya orang yang menyebut dirinya warok sebenamya belum tentu itu warok sesungguhnya. Terutama di tahun 1965, kadang kala hanya dengan secuil i1mu yang telah didapat, ingin njajal keampuhannya. Dengan penampilannya seperti jagoan berjalan di tepi jalan dan membuka dadanya, seperti orang menantang. Tak heran bila setiap ada orang yang lewat langsung disapa. Sehingga terjadi selisih paham dan buntutnya berkelahi. Para warok muda yang belum berisi penuh ilmu kekebalannya langsung “pasang aksi”. Sehingga saat itu suasana jadi agak panas. Kendati berlangsung cukup lama hingga para warok tua harus turun tangan juga “Dengan wadah INTI, kami harapkan para warok bisa bersatu,” harap Mudjib. Lebih lanjut ia menambahkan sekarang ini INTI yang dibentuk tahun 1977, telah menghimpun sekitar 200 kelompok kesenian reog, dengan 77 warok yang dimaksudkan untuk menghindari perpecahan antar warok khususnya. (budi s/bersambung)

Mengenal Warok dan Reog Ponorogo, Yang Sejati Masih Tetap Hidup
 Hingga sekarang, perkembangan zaman terus melaju. Seiring dengan itu, keberadaan warok juga mulai memudar. Khususnya berkenaan dengan jatidiri warok yang sebenarnya. Jika dulu warok selalu dicari dan dinanti kehadirannya, kini mulai ditinggalkan. Yang jelas dewasa ini banyak yang pilih menggandrungi kesenian reognya untuk menyalurkan darah seninya dengan mendirikan grup reog untuk pentas. Disamping menjadi pemimpin warga untuk kelangsungan hidup dalam suatu jabatan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi. Banyak sebab dan latar belakang yang mempengaruhinya. Selain lingkungan, juga generasi warok yang terus menyusut. Entah mengapa, sampai sekarang ilmu kanuragan terutama mengenai ilmu tidak ada yang meneruskan. Kalau toh ada, hanya minim sekali. Itupun hanya satu dua warok tanpa memperlihatkan·kepada khalayak.

Bukan itu saja, semakin lama kesenian reog juga agak “terkikis” untuk mengalami renovasi sebagai pembaharuan khas seni. Sehingga mau tidak mau keberadaan warok juga agak tenggelam. Namun warok sejati masih tetap hidup, tak akan lekang ditelen perubahan dan pembenahan kesenian reog yang menjadi simbul keberadaannya. Warok yang terkenal dan sudah punya nama, memang sangat mudah untuk mengumpulkan massa. Termasuk untuk dijadikan dalam menduduki jabatan tertentu. Sehingga tak heran dari sekian warok kebanyakan sekarang menjadi abdi negara. “Saya menjabat sebagai kepala kelurahan disini, ya disamping sebagai tokoh reog juga atas kehendak warga disini,” tutur H Achmad Tobroni, tokoh masyarakat dan sekarang menjabat kepala Kelurahan Cokro Menggalan saat ditemui Memorandum di beberapa kesempatan pentas reog di ponorogo.

Tobroni yang sukses mengantarkan kesenian khas Ponorogo Keliling dunia termasuk di negara “Jawa” Suriname, menjelaskan, jika soal warok saat ini memang perlu mendapat perhatian. Hal ini mengandung maksud sebagai langkah agar keberadaannya bisa duduk dan tidak dikonotasikan yang bersifat negatif. Misalnya seorang warok biasanya mempunyai gemblak (lelaki yang dirias sedemikian ayu yang menjadi pasangan hidupnya, red). “Kalau sekarang ada wadah INTI (Insan Taqwa Ilahi, red) memang saya sangat setuju sekali,” jelas bapak tujuh anak yang kini masuk daftar calon legeslatif (Caleg) DPRD dari FKP”. Jadi kalau ngomong soal reog, ya harus ada kaitannya dengan kesenian ngerjakan yang baik dan meninggalkan kejelekan. Sehingga apabila saat pentas reog seorang pemain dan merasa dirinya sebagai warok, kok masih minum-minuman keras dan berbuat asusila, sudah termasuk orang yang mursal.

“Memang aneh jika minum-minuman keras sekarang ini dianggap barang yang trandy dan pelengkap dalam pentas reog,” jelas RTM Sindu diningrat, pengamat dan peneliti budaya Ponorogo. Cucu Raden Batoro Katong pendiri kota Ponorogo ini menimpali lagi agar kebiasaan mabuk-mabukan segera dapat dihentikan jika tak ingin kelestatian budaya nenek moyang kita namanya tercoreng. Sumber Memo randum dari para sesepuh, soal minum-nimuman keras dipandang tidak berbahaya. Ada cerita yang mengatakan orang termasuk warok itu sendiri, tidak akan mabuk bila meneguk minuman keras. Soalnya ada yang mempunyai jimat berupa Katak Gadung atau Aji Bandung Bondowoso (Bolo sewu).

 ltulah sebabnya beberapa  pengirin reog masih mempunyai aji jaya kawijayan seperti itu. Namun jimat Bolo Sewu tersebut kini tidak akan digunakan dan ditonjolkan,j ika tidak terpaksa atau disepelekan orang lain. Sedangkan Aji Kalak Gadung konon hanya berfungsi/untuk menawarkan dan mengebalkan diri dari keracunan. Bagi seorang warok sendiri, agar mempunyai badan dan kekuatan gaib memang banyak caranya. Hanya saja. Untuk mencapai dimensi gaib itu orang Jawa mempunyai cara melalui kebathinan Jawanya. Dan itu bukan klenik, dengan alasan ilmu kejawen memang kadang sulit dijelaskan dengan nalar.

Mengenal Warok dan Reog Ponorogo, Ada yang Memilih Profesi
Kesenian reog yang lahir sejak 501 tahun lalu, dalam perkembangannya,  terus men gal ami perubahan tanpa menghilangkan ciri yang dikandungnya. Termasuk daya magis yang dimiliki para warok seakan-akan semakin luntur, terbawa arus modernisasi. Benarkan demikian? Memang tidak bisa dihindari dan disalahkan, jika ada para dedengkot reog termasuk warok, naik dan bergulat di pentas politik dan pemerintahan. Mereka kemungkinan juga mempunyai pandangan masa depan tanpa meninggalkan darah seninya yang sudah melekat itu. Namun demikian masih ada yang tetap di jalur semula untuk memperdalam ilrnu keguruan yang akan disebarluaskan ke beberapa anak cucunya.”Menurut kami sangat wajar dan tak ada masalah jika para warok memilih untuk menjabat dalam perintahan.

Asalkan kepribadian dan darah dagingnya masih tetap sebagai warok,” jelas salah seorang tokoh warok. Namun, tambah tokoh tadi, jika sudah menduduki jabatan dan lupa dengan statusnya, itu sudah keterlaluan dan sangat disayangkan. “Malah harus sebaliknya, lewat pemerintahan dan politiknya dapat dijadikan greget  untuk memajukan kesenian yang telah kesohor ini,” papamya. Seperti yang dialami Mbah Mardi Kutu, warok dari Jetis sekaligus cucu dari Ki Ageng Kutu atau Demang Suryongalan jni, contohnya tetap eksis dan kukuh. Bahkan dirinya rela untuk melepas jabatan sebagai Kades untuk “mendapatkan” diri sebagai warok dengan peguron saja. Boleh dibilang, Mbah Mardi Kutu seorang warok sejati yang menginginkan kehidupannya betul-betul sebagai warok. Bukan sebagai warokan. Sementara Mbah Wo Kucing sendiri juga lebih banyak ngopeni ilmu yang sudah didapatkan dalam pengembaraannya semasa masih muda.

Dengan memilih ilmu kapribaden, yakni mengenai ketuhanan untuk hubungan sesama manusia dirinya juga telah bergabung dengan ilmu kejawen, Purwo Ayu Mardi Utomo. Sehingga harapnya apa yang selamadidapatkan tidak akan sia-sia dan hilang begitu saja Sehingga anak cucunya kelak bisa meneruskan sebagai warisan leluhur. “Saya sendiri juga punya harapan seni reog terutama waroknya bisa terus berkembang,” jelas Mbah Wo Kucing ketika ditemui disela-sela acara pun cak Grebeg Suro belum lama ini.

Semen tara pihak Pemda sendiri juga terus berpacu untuk mengangkat kesenian reyog. Tak ketinggalan kehi dupan para warok yang boleh dikatakan agak tersisih, kurang perhatian. Lebih banyak tercurah dengan reog yang akan ditawarkan sebagai produk kesenian lokal  ke tingkat internasional.

“Kalau dulu reog kita angkat untuk memperkenalkan ke event Internasional, sekarang ini rnempunyai tujuan bagaimana kesenian yang ada tidak berkonotasi negatif dimata pemirsa,” jelas Bupati Drs Markum Singodimedjo saat dijumpai Memorandum di pringgitan agung. Menurut Bupati yang mulai kesengsem seni tayub ini, reog sudah waktunya untuk ajang promosi. Khusus penari jatilan yang kini mulai diperankan oleh Perempuan, menurutnya hanya berpedoman pada pakem yang ada. Sehingga nanti  tidak ada- salah tafsir yang macarn-macam dengan status penari jatilan yang dulu dilakukan laki-Iaki. “Kalau diperankan perempuan kan lebih luwes”. Untuk memperkaya dan melestarikan kesenian reog, saat ini di setiap desa kelurahan diwajibkan mempunyai grup reog. Berikut penari yang terdiri dari dadak merak plus barongan-nya, perangkat baju Klono Sewandono, jatilan,  pujangganong dan para warok pengiring serta penabuhny. (budi s).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
Memorandum……

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Ponorogo, Sejarah, Seni Budaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Mengenal Warok dan Reog Ponorogo

  1. joko pamungkas berkata:

    Tolong minta alamat lengkat mbah mardi kutu dan mbah wo kucing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s