Menyibak Dolly


Obsesinya Menyibak Dolly

Ramai-ramai soal rencana penutupan dan pemindahan lokalisasi Dolly yang diusulkan Walikotamadya Surabaya Cak Narto, tampaknya tidak terlalu me”musingkan” Tjahjo Purnomo (38 th), alumnus Fisip Unair yang namanya mencuat gara-gara bukunya tentang kehidupan di seputar Dolly. “Kalau hanya menutup dan memindahkan saja gampang. Tapi persoalannya nggak semudah itu. Banyak hal yang harus dilihat, aspek sosial, birokrasi, kemanusian, dan banyak hal yang jelas sangat kompleks” tutur laki-laki yang, menyelesaikan kuliahnya dalain kurun waktu 4 tahun (1978-1982) itu.

“Di lokalisasi, yang muncul ke permukaan memang hanya kemesuman dan kemaksiatan saja. Tetapi di bawah kemesuman dan kemaksiatan tersebut sesungguhnya banyak yang menggantungkan hidupnya pada daerah tersebut, Rita bisa rinci, misalnya penjual keliling, pedagang yang membuka kios, tukang cuci, tukang parkir, warung makanan, rumah pondokan dan lain-lain. Bahkan mungkin beberapa industry minuman keras juga nggak begitu “rela” bila lokalisasi tersebut ditutup”. Ungkap Tjahjo yang menghasilkan skripsi setebal 14,5 cm dengan jumlah halaman 1500.

“Bagaimanapun juga dari dulu yang namanya pelacuran tidak mungkin dihilangkan dalam kehidupan manusia. Karena sejak munculnya pranata perkawinan, saat itu pula muncul perzinaan. Tapi bila penutupan Dolly tersebut didasari atas alasan lokasi yang berdekatan dengan pemukiman, itu mungkin ada benarnya” tambah Tjahjo yang menikah dengan Yuliwati Padarini, gadis Jawa alumnus Fakultas Filsafat UGM.

Tjahjo mengaku sampai saat ini masih punya banyak obsesi untuk menggali dan menyibak kehidupan di seputar Dolly. “Saya sebenarnya masih ada keinginan untuk meneliti lagi, tapi tidak lagi pada orientasi mikro seperti yang dulu. Namun saya ingin mencoba pemahaman antara teori-teori dengan fakta-fakta yang ada saat ini. Hanya saja masalah ‘menyisakan’ waktu untuk itu yang agak sulit”, ujar Redaktur Opini Surabaya Post yang secara rutin tiap hari hadir di kantornya pukul tujuh pagi dan pulang menjelang petang ini.

“Sebenarnya skripsi saya tentang Dolly tersebut, diawali dari keinginan saya untuk melihat “hal-hal lain” di balik suatu penampilan”, ujarnya sedikit berfilsafat, “Saya pikir apa yang dilihat banyak orang tentang kehidupan malam itu kan bukan yang sesungguhnya, karena para wanita itu harus mau berhubungan dengan sekian banyak laki-laki. Ini kan pekerjaan paling dekat dengan aspek hormonal dan psikologis. Nah bagaimana perempuan itu mampu me’manage’-nya, bagaimana ia mengaturnya, itu khan sangat menarik” lanjut Tjahjo yang beranak dua sejak perkawinannya di tahun 1989.

“Partisipan Observation yang saya lakukan dalam penelitian tersebut, sudah saya niati dari awal, sejak semester 2 saya sudah turun ke Dolly. Dan saya sudah tahu persis mengapa saya ada disitu, saya juga tahu persis kelemahan partisipan observation yang saya lakukan. karena mesti harus ada kehati-hatian dalam menjaga jarak. Tapi pada waktu itu mereka memandang saya sebagai konsumen biasa, sebagai pelanggan, karena tiap hari saya ada di sana. Saya kan harus tahu betul irama kehidupan mereka, dari matahari terbit sampai terbit lagi. Dan saya bisa diterima sebagai salah satu dari keluarga mereka, artinya saya khan tidak merubah interaksi sosial yang ada di sekitar mereka,” Tutur Tjahjo yang pengumpulan data kuantitatifnya dikerjakan dalam satu tahun dengan bantuan tiga orang teman kuliahnya.

Yang menarik dari proses penulisan skripsi tersebut, justru menjelang hasil tersebut diuji. “Kurang satu minggu ujian, skripsi saya sudah diminta Grafiti Press untuk diedarkan sebagai buku pertama yang dicetak penerbit tersebut. Mereka memaksa naskah diminta, tapi saya nggak mau menyerahkan. Saya bilang setelah selesai ujian baru saya serahkan. Dan saya sendiri pula yang meminta Ashadi Siregar untuk menjadi editornya“.(Nur)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Warta Unair, Nomor : 001, Tahun I, Juni 1995, hlm. 10

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sentra, Surabaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s