Pelaporan Gubernur Jawa Timur, Tentang Kejadian 10 Nopember 1945


PELAPORAN GUBERNUR JAWA TIMUR RMTA SURYO
KEPADA PEMERINTAH PUSAT DI JAKARTA TENTANG
KEJADIAN PERTEMPURAN 10 NOPEMBER 1945 DI SURABAYA
PELAPORAN PERISTIWA 01 SURABAYA

I. Umum.

1. Pada tanggal 7-11-’45 sekira jam 11; Gubernur, Residen dan anggauta-anggauta Kontak Bureau datang di Markas Tentara Inggris di Jalan Betawi; sebagai perkenalan dengan pemimpin baru yalah Jendral Mansergh. (lampiran 1). Pada waktu itu kesan terhadap dirinya pembesar tersebut sudah tidak menyenangkan dan semata-mata menunjukkan tidak adanya penghormatan terhadap pembesar Indonesia.

2. Pada tanggal 8 – 11 – 45 Gubernur terima surat isinya sebagai terlampir.

3. Untuk memenuhi panggilan surat tanggal 8 – 11 – 45 No …… tersebut, pada tanggal 9 – 11 – 45 jam ± 11 .30 Residen sebagai wakilnya Gubernur datang di Markasnya Tentara Inggris dengan disertai tuan Kundan anggauta Kontak Bureau dan beberapa orang Polisi sebagai pengawal, dengan membawa surat Gubernur sebagai jawaban atas surat Jenderal Mansergh. Pada waktu itu diberitahukan kepada Residen tentang beberapa perintah-perintah dari pihak tentara Inggris yang harus kita jalankan. Pad a Residen diberikan pula tiga bungkusan surat-surat yang berisi perintah-perintah tersebut disiarkan kepada penduduk. Sekembalinya dari Markas Tentara Inggris, Residen datang Markas Tentara Keamanan Rakyat untuk memberi tahukan tentang perintah perintah tadi. Tetapi ternyata, Pusat TKR sudah mengetahuinya, karena dari udara pada jam 12 telah disebarkan surat selebaran itu.

4. Mengingat hal pentingnya tuntutan, maka Pemerintah mengadakan hubungan tilpun dengan Pemerintah Pusat di Jakarta.

5. Sambil menunggu buah usaha di Jakarta maka pada jam 8 malam Gubernur mengadakan pidato radio untuk menenangkan rakyat dan memberitahukan bahwa sedang dladakan hubungan dengan Jakarta.

6. Setelah mendapat kabar dari Jakarta, bahwa usaha tidak berhasil baik dan diserahkan kepada kebijaksanaan Pemerintah Daerah, maka pada jam 11 malam Gubernur berpidato lagi di muka radio untuk menerangkan buah perundingan dengan Jakarta dan untuk meneguhkan semangat perjuangan Kemerdekaan pada umumnya.

7. Sehabis pidato radio,’Gubernur, Doel Arnowo, Kepala Kantor Residen Bagian Kepolisian serta anggauta Stat lain-Iainnya pergi ke Markas TKR Karesidenan di Embong Sawo. Atas nasehat pimpinan TKR di situ, semua tinggal bermalam di Embong Sawo. Pada esok harinya Residen menyusul.

8. Pada pagi itu tanggal 10-11- 45 atas pertimbangan TKR diputuskan Gubernur, Residen, Kepala Polisi dan lain-Iainnya pindah tempat keluar kota Surabaya, untuk menjaga kemungkinan yang tidak menyenangkan bagi Pemerintah. Wakil RRI dan TKR Soengkono waktu itu juga ada. Sekira jam 11 dengan diiring oleh escorte TKR Gubernur, Residen dll. pindah ke Kawedanan Taman (Sepanjang) dan kemudian pada malamnya juga atas pertimbangan TKR berhubung dengan keadaan terus pindah ke Mojokerto.

9. Pada tanggal 10- 11-1945 sekira jam 9 didapat kabar, bahwa Tentara Inggeris sudah mulai masuk kota dengan tank dan mendapat perlawanan dari rakyat dan kira-kira pukul 10 dimulai dengan tembakan-tembakan hebat dari laut yang terutama mengenai Pasar· Turi, Kantor Besar Polisi (rusak hebat) dan Kantor Karesidenan. Tembak menembak berjalan terus sehingga sekarang. Tentara Inggris memakai kapal terbang, mortier-mortier dari laut, tank dan angkatan darat.

10. Penduduk yang terancam tempat tinggalnya mulai dengan sendirinya menyingkirkan diri. Sebagian dari kota sudah kosong, sedang sebagian terutama di sebelah pinggir Timur dan Barat penuh sesak. Tempat pengungsian luar kota yalah terutama Sidoarjo, Mojokerto dan sekitarnya.

II. Keadaan Pemerintahan.

1.  Semua kantor dan jawatan terpaksa terhenti dan keadaan kocar-kacir. Karena Kantor Besar Polisi rusak dan beberapa Kantor Seksi Polisi juga, maka Polisi mulai tanggal 11 – 11 – 45 mengadakan Pusat Baru dan menyusun tenaganya kembali. Begitu juga Pemerintahan kota memilih pusat baru dalam kota dengan membawa serta keuangan dan lain-lain yang dipandang perlu.

2. Kantor Gubernur dan Karesidenan disusun kembali sedapat mungkin dan dibagi menuruti keperluan dalam tiga bagian:
a. di Mojokerto (Pusat).
b. perwakilan di Taman.

c. perwakilan di kota, bersama-sama dengan Pemerintahan kota. Antara tiga bagian itu tiap-tiap waktu diadakan hubungan. Lain-lain jawatan mulai tersusun kembali.

3. Keuangan yang masih bisa dihindarkan dari musuh, maupun dari kebakaran bisa diselamatkan.

4. Makanan bagi penduduk dan tentara sudah diatur sebaik mungkin. Buat yang bertempur didatangkan makanan yang sudah masak dari luar kota Surabaya. Untuk itu di luar kota diadakan beberapa dapur umum. Pemerintahan kotaTKR dll. badan pembelaan membagi kepada tentara.

5. Bagi penduduk umum sedang diusahakan juga pembagian makanan, karena terasa makin sempitnya kemungkinan untuk masak sendiri.

6. Pemindahan penduduk.

a) buat penduduk umum diutamakan perempuan, anak-anak dan orang-orang tua. Orang-orang laki, sedapat mungkin harus tinggal di kota untuk membantu perjoangan.

b) orang-orang sakit dan luka-luka mulai dipindah ke luar kota, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang dan kalau perlu luar karesidenan.

c)  orang-orang Jepang semua sudah di luar kota Surabaya.

7. Pokok-pokok rencana pembagian pekerjaan.

III. Keadaan Pertempuran.
Hari Sabtu tanggal 10 – 11 – 45 sesudah surat sebaran tentara pendudukan tak diindahkan baik oleh fihak Pemerintah daerah maupun oleh penduduk, musuh pada pagi hari sudah mulai melakukan serangannya dengan mempergunakan segala alat senjatanya.
TKR yang sudah siap sedia dengan dibantu oleh lain-lain badan pembelaan sudah bertempur dengan mereka di sektor Kebalen.
Pada waktu itu mortier-mortier mereka dari laut dan kapal terbangnya mengadakan tembakan di kota bagian tengah, seperti Pasar Besar, Kantor Polisi Besar, Pasar turi dan Simpang.
Berkat semangat perju’angan pihak kita, musuh hanya dapat maju sedikit demi sedikit dan akhirnya pada tanggal 14 – 11 – 45 mereka sudah dapat menyusup ke Pasarturi di sebelah barat, belakang Kantor Gubernur sebelah tengah dan muka setasiun Semut di sebelah Timur.
Di dalam menghadapi musuh ternyata bahwa kita tak mempunyai cukup senjata berat (meriam besar).
Karena itu diusahakan bantu an dari Markas Besar Umum ialah TKR di Jokja (tgl. 14-11 – 45).
Buah perundingan utusan Surabaya dengan Markas Besar Umum ialah bahwa Markas tersebut :

  1. setuju untuk menyokong perjoangan ini.
  2. mengirimkan seorang instructuer (Kepala Sekolah Militer Ti nggi Jogya).
  3. mengir imkan 4 (empat) orang ahli meriam.
  4. mengirimkan meriam besar dari Solo denga n tenaganya dan mesiunya.

Esok harinya bantuan-bantuan datang di Surabaya. Oengan adanya bantuan ini tgl. 15/11 – 45 musuh dapat didesak mundur sampai di sekitar Dupak sebelah Barat, belakang Internatio bagian tengah dan Pegirikan bagian Timur. Keadaan ini tetap sampai pada esok hari tgl. 17/11 – 45 dua kapal perang kelihatan terbakar karena tembakan meriam kita dan tembakan yang jatuh di Madura mungkin bisa terjadi dari meriam kita sendiri.

Karena tembakan-tembakan mereka dari laut dan serangan dari udara terjadi banyak kerusakan di kampu ng-kampung dan juga di sementara gedung yang besar .seperti kantor Besar Polisi, kantor Gubernur, Proviciale Waterstaat, bekas R.V.J. Hotel Simpang, Zwembad Kaliasin dan Tunjungan (toko-toko).

Demikian juga musuh mulai tgl. 1-5/11-45 telah menembaki stasiun Semut, Gubeng, Wonokromo, Gedangan dan Sidoarjo. Rupanya dengan maksud mengacaukan perhubungan, sampai sekarang sudah ada 4 locomotif yang rusak. (diakui dan mempunyai gezag). Karena perjoangan ini pada azasnya semata-mata perjuangan rakyat.

Dengan adanya serangan tersebut dikalangan penduduk banyak yang menjadi korban, walaupun demi kian semangat perjuangan mereka tetap berkobar-kobar. Tentara penyerbuan kita y ang terdiri dari beberapa badan seperti TKR, PRJ, Barisan  Pemberontak, BBJ dll. Rupa-rupanya tidak dibawah satu pimpinan, sehingga ada kalanya tindakan-tindakan yang demikian merugikan satu sama lainnya. Di sini terasa perlunya memperbaiki koordinasi.

Dalam pada itu perjuangan kita dapat rintangan juga dari mata-mata musuh terdiri dari semua golongan bangsa Indonesia yang mengadakan tembakan dari belakang dan memberi tanda-tanda tembakan untuk menunjukkan tempat sasaran mereka. Perlu juga diterangkan, bahwa tembakan dari belakang .itu mungkin juga terjadi karena salah fahafn (tidak adanya hubunganantara satu satunya pasukan). Banyak mata-mata musuh yang sudah dibunuh seketika itu juga. Umpamanya saja di Sidoarjo pada tanggal 15-11-45 ada 20 orang mata-mata musuh dibunuh, diantara mana 2 orang dibakar.

Mengingat banyaknya kesukaran-kesukaran dan untuk menyempurnakan jalannya perjoangan, telah dibentuk gabungan pembelaan, yang mempunyai Markas di bawah pimpinan tuan Jonosewojo (TKR) dan wakil-wakil Pemberontakan, PRI, BBI, Polisi dll.
Markas tersebut mempunyai bagian-bagian seperti : 1) Staf Pembelaan, 2). Urusan Makanan, 3) Urusan Pengangkutan, 4) Bagian Penyelidikan, 5) Pengadilan Tentara (Krijgsraad) dan 6) Penyiaran.

IV. Pemerintahan Pusat Daerah yang berada di luar kota Surabaya mulai tersusun baik yang mengenai penyelenggaraan bantuan bagi garis muka.

Walaupun hal pemindahan Pemerintahan ini mendapat celaan dari sebagian f ihak, tetapi ternyata dengan adanya di luar kota itu bisa lebih bermanfaat dalam hal bantuan dari pada bila ada di dalam kota.

Hal perjuangan kemiliteran ternyata tidak mengecewakan, bahkan bahwa semangat dan keberanian dan dibanggakannya, bila dibandingkan dengan al at-alat tentara pendudukan.
Hanya saja hasil perjuangan mungkin bisa lebih disempurnakan, bila pasukan-pasukan yang terdiri dari beberapa badan itu berada di bawah satu pimpinan yang berpengaruh untuk usaha kemerdekaan dan sekali-kali bukan untuk menentang Sekutu. Maka sangat diharapkan supaya Pemerintah Agung mengusahakan agar supaya dunia luar dapat menaruh perhatian seperlunya, sehingga peristiwa Surabaya ini dapat diselesaikan dengan tidak merugikan pihak kita. •

Mojokerto, 17 – 11 – 1945

Gubernur Jawa Timur

R.M.T.A. Soerjo

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: PERTEMPURAN 10 NOVEMBER 1945  : Citra Kepahlawanan Bangsa Indonesia di Surabaya, Panitia Nilai-nilai Kepahlawanan 10 November 1945 di Surabaya, Surabaya, 1986

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Surabaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s