10 Nopember 1945


LATAR BELAKANG SEJARAH 10 NOPEMBER 1945

Sebutan kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan tidak terlepas dari peristiwa berdarah yang terjadi seputar bulan September hingga bulan Nopember 1945. Selama tiga bulan itu, masyarakat Surabaya dan sekitarnya bersatu padu membulatkan tekad berjuang, melawan kepongahan tentara Sekutu yang diboncengi NICA.

Sebagai awal terjadinya perang besar di kota Surabaya, insiden bendera merupakan momentum sejarah yang sangat menentukan nasib bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baru saja memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Setelah tentara Sekutu yang memboncengi pasukan NICA berhasil melucuti pasukan Jepang yang merupakan salah satu tugasnya setelah pemerintah Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu, kekuasaan atas Indonesia beralih dari tangan Jepang ke tangan Sekutu. Berbagai macam cara ditempuh oleh Belanda untuk menjajah kembali bumi nusantara. Sebagai pimpinan NICA, van Mook berupaya mempengaruhi Panglima Wilayah Asia Tenggara, yang saat itu baru saja diserahkan kepada Laksamana Lord Louis Mountbatten oleh Jenderal Douglas McArthur. Sebagai pimpinan baru, Lord Louis Mountbatten tidak mengetahui bahwa Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Untuk menentukan langkah dan mengatur Strategi melucuti tcntara Jepang, Lord Louis Mountbatten hanya mengandalkan informasi dari van Mook. Kelemahan Lord Louis Mountbatten itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Van Mook yang amat berambisi mewujudkan cita-citanya agar pemerintah Belanda dapat menjajah Indonesia kembali.

Pertemuan van Mook sebagai pimpinan NICA dengan Laksamana Lord Louis Mountbatten di Kandy, India pada tanggal 1 Nopember 1945 menelorkan kebijaksanaan yang sangat merugikan bagi kelanjutan karir pasukan lnggris dalam pasukan Sekutu. Sikap meremehkan kaum pejuang di Indonesia mewarnai setiap langkah pasukan Inggris dalam menunaikan tugasnya melucuti pasukan Jepang di Indonesia. Bahkan ada kecenderungan membantu upaya Belanda mengembalikan kekuasaannya di Indonesia.

Hasutan van Mook termakan oleh Laksamana Lord Louis Mountbatten. Mountbatten mengira bahwa tugas melucuti tentara Jepang dan membantu NICA mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia akan berjalan mulus. Jumlah pasukan yang cukup besar dengan persenjataan yang lebih lengkap dan modern pasti dapat mengatasi segara rintangan dari para pejuang bangsa Indonesia; apalagi mengingat bahwa pengalaman bertempur dan persenjataan pejuang bangsa Indonesia sangat terbatas.

Dengan liciknya, van Mook, yang saat itu menjabat sebagai Letnan Gubernur Jenderal Netherlands East Indies (NEI), berhasil meyakinkan Laksamana Lord Louis Mountbatten, Panglima Wilayah Asia Tenggara yang baru. Pertemuan antara van Mook dengan Laksamana Lord Louis Mountbatten di Kandy, India pada tanggal 1 September 1945 sangal menentukan nasib pasukan Sekutu di kota Surabaya, terutama nasib pasukan inggris. Kepercayaan yang diberikan oleh Laksamana Lord Louis Mountbatten kepada van Mook ternyata diselewengkan untuk mewujudkan ambisinya menguasa Indonesia. Pendudukan Pulau Jawa yang semula diduga tidak akan menimbulkan masalah sebab hanya mencakup tugas melucuti dan menawan tentara Jepang, ternyata diselewengkan untuk membuat kekacauan sehingga terjadi insiden bendera di Hotel Oranje.

Pendudukan Indonesia oleh pasukan Inggris diawali dengan menerjunkan pasukan penerjun payung yang tergabung dalam Force 136/Mastiff pada tanggal 8 September 1945 di dekat Jakarta. Aksi ini disusul dengan pendaratan pasukan tempur di bawah pimpinan Laksamana Madya W.R. Petterson dari kapal komando HMS Cumberland. Pendaratan pasukan tempur ini diikuti sebuah frigat dan empat buah kapal penyapu ranjau pada tanggal 15 September 1945. Pada tanggal 16 September 1945 mendarat lagi sebuah frigat, dua buah kapal penyapu ranjau dan sebuah kapal Belanda bernama Tromp di Tanjung Priok. Laksamana Madya Petterson sangat terkejut memperoieh laporan dari Mayor A.G. Greenhalgh (komandan pasukan penerjun payung) dan Letnan Baron van Tuyll serta Letnan-kolonel van der Post (bekas tawanan perang) bahwa situasi di Indonesia tidak aman karena para pejuang bangsa Indonesia telah terorganisir dengan baik dan telah bertekad mempertahankan setiap jengkal lanah bumi nusantara.

Sebagaimana diketahui, pasukan Inggris yang lergabung dalam Sekutu telah menunjukkan ketangguhan yang luar biasa dan telah teruji baik saat menghadapi Jennan, Italia, maupun Jepang. Oleh karena itu, pendaralan pasukan lnggris di Jakarta membesarkan hati pasukan Belanda yang bersembunyi di balik NICA, termasuk mereka yang berada di kota Surabaya. Mereka merasa memperoleh dukungan  untuk mewujudkan ambisi mereka menanamkan kekuasaan Belanda di Indonesia setelah pasukan Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu. Mereka tidak mengakui bahkan meremehkan arti proklamasi kemerdekaan yang dikumandangkan oleh Soekamo-Hatta atas nama bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Merasa mendapat dukungan dari pasukan inggris, pasukan Belanda yang bermarkas di Hotel Oranje, Surabaya menunjukkan kesombongannya dengan mengibarkan bendera merah-putih-biru di pagi hari tanggal 19 September 1945. Mereka tidak pernah menduga bahwa akibat ulah itu, pemerintah Inggris harus menanggung malu selama-lamanya karena Inggris harus menebus dengan kematian seorang jenderal, padahal hal ini tidak pernah dialami sebelumnya walaupun dalam pertempuran melawan Jerman, Italia, maupun Jepang.

Berkibarnya bendera merah-putih-biru di Hotel Oranje pada tanggal 19 September 1945 mengejutkan dan memancing kemarahan arek-arek Surabaya. Pagi itu Hotel Oranje menjadi pusat perhatian masyarakat. Dari mulut ke mulut berita tentang pengibaran bendera Belanda di Hotel Oranje menyebar luas. Banyak warga kota Surabaya, terutama para pemuda, datang untuk menyaksikan keganjilan itu. Makin siang makin banyak orang yang datang dan suasana pun terasa semakin tegang. Perasaan heran lama-kelamaan berubah menjadi penasaran yang bercampur dengan rasa geram. Emosi masyarakat terpancing oleh sikap Belanda yang bernada sinis. Kepongahan pasukan Belanda menambah kemarahan masyarakat kota Surabaya. Para pemuda yang menyaksikan kejadian itu semakin gelisah menahan marah.

Menyaksikan kibaran bendera merah-putih-biru, seakan menantang siapa pun yang melihatnya, amarah arek-arek Surabaya lama-kelamaan tak dapat dibendung. Luapan emosi di dada para pemuda tidak dapat dikendalikan. Hal ini wajar sekali karena pada saat itu masyarakat Surabaya sedang bersemangat mengibarkan bendera merah-putih sebagai ungkapan rasa syukur dan gembira dalam menyambut proklamasi Kemerdekaan yang baru saja dikumandangkan sebagai tanda bcrakhimya belenggu penjajahan Belanda maupun Jepang. Ulah pasukan Belanda mengibarkan bendera merah-putih-biru di Hotel Oranje jelas-jelas melecehkan arti kemerdekaan bagi b.mgsa Indonesia.

Sementara para pemuda gelisah menahan emosi, mendengar laporan dari beberapa warga, Residen Sudirman menyempatkan diri datang ke Hotel Oranje. Untuk menghindari terjadinya keributan yang pasti akan menelan korban, Residen Sudirman meminta agar pasukan Belanda bersedia menurunkan bendera merah-pulih-biru itu. Namun dengan congkaknya, Belanda tidak menghiraukan permintaan itu. Di iringi pekik ‘merdeka’, dengan gegap gempita para pemuda mengamuk seperti ‘banteng ketaton’.

Saat itu mereka harus memilih antara hidup di bawah cengkeraman Belanda atau mati berkalang tanah sebagai kusuma bangsa. Perkelahianpun tidak dapat dihindarkan di satu pihak, Belanda, yang merasa mendapat dukungan penuh dari tentara Inggris dengan persenjataan modem dan di lain pihak, arek-arek Surabaya, yang bersenjata scadanya, letapi mcmiliki semangat yang berkobar-kobar. Dengan tulus, mereka rela berkorban untuk mempertahankan kemerdekaan.

Dalam kemelut di Hotel Oranje ini, Belanda terpaksa mengorbankan Mr. Ploegman. Kematian Mr. Plogman sedikit banyak mempengaruhi keberanian pasukan Belanda. Sementara itu, tentara Jepang yang saat itu berada di Hotel Oranje, walaupun bersenjata, seakan terbius oleh semangat para pejuang. Mereka hanya berdiri mematung tanpa berbuat apa-apa kecuali menonton kekacauan itu.

Dalam kemelut itu, masyarakat berjuang menghadapi pasukan Belanda yang tetap berusaha mempertahankan diri dari amukan masyarakat. Beberapa orang berupaya menaiki atap hotel dengan satu tekad: menurunkan bendera merah-putih-biru dan mengibarkan bendera merah-putih. Berbagai cara dilakukan untuk menaiki atap hotel. Untung, datang pula beberapa orang membawa sebuah tangga. Dengan tangga itu, mereka naik ke atas atap. Sorak-sorai yang diiringi pekik ‘merdeka’ berkumandang membakar semangat mereka yang berada di atas atap hotel. Dengan cekatan dan penuh semangat bendera Belanda diturunkan. Dengan sigap pula, bagian bendera Belanda yang berwama biru disobek sehingga tinggal wama merah dan putih. Sang dwiwarna bekas sobekan bendera Belanda dengan khidmad dikibarkan. Tanpa diperintah lagi, masyarakat yang ada mengiringi dengan pekik ‘merdeka’, dengan gelora jiwa yang membahana memenuhi angkasa kota Surabaya.

Peristiwa demi peristiwa sebagai kelanjutan insiden bendera di Holel Oranje, Surabaya, melengkapi lembaran sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Kedatangan tentara Sekutu yang didominasi oleh pasukan Inggris dan Belanda langsung mendapat perlawanan para pejuang kemerdekaan. Kesigapan para pejuang menghadapi tentara Sekutu benar-benar di luar dugaan. Selaku pimpinan pasukan Inggris, W.R. Petterson tidak mau mengambil resiko sehingga ia segera mengirim kawat ke markas besar pasukan Inggris di Malaya untuk meminta bantuan sedikitnya dua brigade (8000 orang). Permintaannya dipenuhi. Satu brigade dikirim langsung ke Jakarta pada tanggal 1 Oktober 1945 dan satu brigade lagi langsung dikirim ke Surabaya di bawah pimpinan brigadir Mallaby. Sebetulnya Mallaby sudah berpangkat Jenderal pada waktu itu, namun karena akan memimpin brigade, pangkatnya diturunkan untuk sementara. Di samping itu, untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi, Laksamana Lord Louis Mountbatten menugasi Letnan-jenderal Sir Phillips Christison untuk berangkat ke Jakarta menggantikan W.R. Petterson. Laksamana Lord Louis Mountbattcn menyadari bahwa perlawanan para pejuang kemerdekaan tidak bisa dianggap remeh. Letnan Jenderal Sir Phillips Christison diperintahkan untuk:

  1. mengisi kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan Jepang;
  2. membantu menyiapkan pemerintahan NICA;
  3. meluculi tenlara Jepang;
  4. menyelamatkan para tawanan perang, dan
  5. menjaga keamanan di kota-kota penting di Pulau Jawa seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya serta kota-kota Padang, Medan dan Palembang di Pulau Sumatra sampai saatnya kota-kota itu dapat diserahkan kembali kepada Belanda.

Langkah yang diambil Laksamana Lord Louis Mountbatten jelas menyalahi misi tentara Sekutu untuk melucuti tentara Jepang. Dengan mengandalkan kekuatan pasukannya, Laksamana Lord Louis Mountbatten yakin dapat menumpas perlawanan para pejuang kemerdekaan. Pengiriman pasukan Inggris ke kota Surabaya tidak terlepas dari terjadinya peristiwa bendera di Hotel Oranje. Dari kejadian itu terbukti bahwa para pejuang di kota Surabaya secara terang-terangan menolak dan siap menghadapi kedatangan pasukan Belanda.

Sebetulnya, Letnan-jenderal Christison pemah diperingatkan oleh Mr. Lawson, Menteri Peperangan Inggris bahwa pasukan Inggris tidak boleh digunakan untuk membantu Belanda mengembalikan kekuasaanya di Indonesia. Peringatan Mr. Lawson ini tidak dihiraukan. Christison hanya memperhatikan perintah atasan langsungnya, Lord Louis Mounlbatten. Christison terkejut melihat kenyataan yang ada di Jakarta. Kedatangan pasukan yang dipimpinya langsung mendapat perlawanan dari para pejuang kemerdekaan. Christison bahkan tidak menduga bahwa di Indonesia telah berdiri pemerintahan di bawah pimpinan Soekamo-Hatta. Slogan-slogan ‘merdeka atau mati’ tampak di mana-mana. Kemarahan bangsa Indonesia dapat sedikit diredam dengan diumumkannya pemyataan Ratu Juliana dari Negeri Belanda (diumumkan pada tanggal 6 Desember 1942, dua hari sebelum pasukan Jepang mendarat di Pulau Jawa) bahwa bangsa Indonesia akan diberi pemerinlahan sendiri. Beberapa kelompok, khususnya kelompok moderat, menerima baik pemyalaan ini. Akan telapi, kelompok lain, kelompok revolusioner, menanggapinya sebagai tipu daya saja. Kelicikan Belanda telah dikenal oleh bangsa Indonesia.

Pernyataan yang diumumkan oleh Dr. C.0. van der Plas sebagai wakil gubemur Hindia Belanda, yang datang bersama Laksamana Madya Petterson, ternyata memang merupakan tipuan belaka. Hal ini terbukti pada tanggal 7 Oktober 1945 ketika Van Mock lengkap dengan anggota pemerintahan NICA mendarat di Jakarta, berseragam militer. Tanpa berkonsultasi dengan pimpinan pasukan Inggris ataupun wakil gubemur jenderal Hindia Belanda, dengan berani Van Mock sampaikan bahwa kedatangan pasukan Inggris atas nama tentara Sekutu hanyalah untuk melucuti tentara Jepang dan bila perlu, mereka akan menjaga keamanan serta ketertiban di kota Surabaya. Yang disampaikan oleh Mallaby sesuai dcngan tugas tentara Sekutu yang digariskan oleh Jenderal Douglas McArthur, tetapi Laksamana Lord Louis Mountbatten telah melangkah lebih jauh. Saat Sir Phillips Christison ditunjuk untuk menggantikan Petterson sebagai pimpinan pasukan Sekulu, ia dengan legas menyalakan bahwa tugas pasukan di bawah Christison adalah mengisi kekosongan kekuasaan setelah ditinggalkan oleh Jepang dan membantu menyiapkan pemerintahan NICA di samping melucuti tentara Jepang dan menyelamatkan para lawanan. Dengan demikian, sebagai bawahan Mountbatten, sebetulnya Mallaby mengemban tugas yang sama dengan tugas yang diberikan kepada Christison.

Wakil-wakil dari pihak Indonesia tetap waspada, dalam hati ada keraguan mengenai kebenaran pernyataan Mallaby itu. Sehari sebelumnya, Mallaby sendiri telah menunjukkan sikap licik dalam memerintahkan pasukannya memasuki kota Surabaya, walaupun pertemuan antara L.H.O. Pugh (yang mewakili Mallaby) dengan wakil-wakil dari Indonesia masih berlangsung di Hotel Oranje. Namun demikian, kedatangan tentara Inggris atas nama tentara Sekutu masih diterima baik oleh wakil-wakil pihak Indonesia dan para pejuang.

Apa yang ditakutkan pihak Indonesia ternyata memang benar. Berdasarkan hasil kesepakatan pertemuan antara Mallaby dengan wakil-wakil dari pihak Indonesia, tanggal 27 Oktober 1945. Mallaby dan anak buahnya mulai melaksanakan tugas. Pelaksanaannya berlangsung dengan baik, bahkan sebuah resepsi untuk menyambut para tawanan perang direncanakan pula di Rumah Sakit Darmo. Satu detasemen brigade 49 ditugaskan mengawal bekas tawanan itu. Rencana ini gagal karena pada hari itu juga, pukul 11.00 WIB sebuah pesawat Dakota dari Jakarta terbang ke Surabaya atas perintah Markas Komando Divisi. Pesawat itu menyebarluaskan selebaran yang berisi pernyataan bahwa pemerintahan militer Inggris akan menggantikan pemerintahan Republik Indonesia dan semua senjata yang berada di tangan para pejuang harus diserahkan, yang tertangkap membawa senjata akan langsung ditembak mati.

Selebaran yang melecehkan keabsahan Pemerintah Republik Indonesia dan bernada mengancam itu tidak membuat para pejuang gentar, sebaliknya, hal itu menjadi pemicu dan pembakar semangat mereka. Penyebaran selebaran ini membatalkan kesepakatan yang baru saja dibuat dengan Mallaby. Mallaby menyatakan dengan tegas kepada Dr. Moestopo bahwa ia dan pasukannya tetap patuh pada perintah markas besarnya di Jakarta. Masyarakat dan pejuang di kota Surabaya sangat marah. Radio di Surabaya terus mengumandangkan pidato-pidato untuk membakar semangat para pejuang. Nampaknya para pejuang sudah siap karena yang dihadapi itu memang sudah diduga sebelumnya. yaitu akan terjadi perang melawan kaum penjajah yang berniat mengembalikan kekuasaannya di bumi Indonesia. Malam harinya, tanggal 29 Oktober 1945, serangan terjadi di mana-mana. Mulai saat itu, Surabaya menjadi lautan api.

Malam tanggal 29 Oktober itu, keadaan kota Surabaya sangat menyeramkan. Sebuah gedung dibakar menambah suasana seram kota itu. Dengan dukungan seluruh lapisan masyarakat, para pejuang mengamuk bagai ‘banteng ketaton’. Perlawanan arek-arek Surabaya ini sama sekali tidak diduga oleh pasukan Inggris. Mereka mengira bahwa para pejuang akan menyerah karena ancaman di dalam selebaran. Yang terjadi adalah sebaliknya. Kecerobohan pimpinan pasukan Inggris di Jakarta harus ditebus dengan nyawa beberapa anggota pasukan mereka. Pasukan Inggris yang bertugas menyelamatkan para tawanan perang tidak dapat berbuat banyak kecuali mempertahankan diri menghadapi para pejuang yang dengan gagah berani menyerang mereka.

Perlawanan para pejuang yang tak terduga ini betul-belul menyulitkan pasukan lnggris. Para pejuang mengamuk dengan semboyan: lebih baik mati dari pada harus dijajah kembali. Markas besar divisi 23 di Jakarta terpaksa meminta bantuan Soekarno untuk meredam perlawanan itu. Soekarno, tiba di Surabaya sore hari tanggal 29 Oktober itu, didampingi oleh Jenderal Hawthorn dan Mallaby. Mereka berhasil bertemu dengan pimpinan setempat. Mereka bersepakat untuk menghentikan pertempuran dan Inggris akan diizinkan menduduki lapangan udara serta wilayah Darmo dan Tanjung Perak. Untuk mengamankan persetujuan ini. Mallaby mengirim seorang mayor dan beberapa perwira untuk mengadakan kontak dengan markas besar para pejuang. Pertemuan antara Soekarno, Jenderal Hawthorn, Mallaby dengan pimpinan setempat terdiri dari Sudirman, Sungkono, Muhammad, gubernur Soerjo dan Sutomo memang dapat meredakan suasana sedikit.

Sementara pertemuan itu berlangsung, batalion 6 Mahrattas, yang didukung pasukan bersenjata lengkap, sedang berjuang mati-matian. Sekitar 500 pasukan Indonesia dengan gagah berani mengepung mereka. Pertempuran antara dua kekuatan ini berlangsung cukup lama. Pasukan Inggris yang tergabung dalam batalion 6 Mahrattas kesulilan menghadapi gempuran para pejuang. Mallaby, dikawal oleh kaplen R.C. Smith keluar dari kantor gubemur menuju sebuah bonk, yang berjarak kira-kira 200 m, di sebelah barat Kali Mas. Di sanalah pasukan yang tergabung dalam batalion 6 Mahrattas sedang menghadapi serangan para pejuang. Saat Mallaby dan Smith tiba, para pejuang sedang bertengkar dengan pimpinan pasukan Inggris. Para pejuang menuntut agar pasukan Inggris segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke markas mereka. Kedatangan rombongan Mallaby membuat para pejuang semakin beringas. Mereka menuntut agar pasukan Inggris yang berada di dalam bank segera menyerahkan diri dan menyerahkan senjata mereka. Bila tuntutan ini dipenuhi, Mallaby dan rombongannya akan dibiarkan kembali ke markas dengan selamat. Kapten Shaw menerima baik tawaran itu, tetapi Mallaby malahan bersikukuh bertahan. la bahkan memerintahkan kapten Shaw untuk memasuki gedung dan memberi perintah penyelamatan terhadap rombongannya. Sikap keras Mallaby ini membuat para pejuang scmakin marah, apalagi setelah mendengar letusan senjata dari gedung bank itu. Para pejuang semakin beringas menghadapi serangan pasukan Inggris yang ditujukan kepada mereka. Tanpa diduga, sebuah granat dilemparkan kepada para pejuang dari arah rombongan Mallaby.

Dua orang kapten, yaitu kapten Smith dan Laughland berhasil meloloskan diri dari kancah pertempuran itu. Dalam kemelut itu, brigadier Mallaby terbunuh. Jenazahnya diserahkan kepada pihak Inggris oleh Dr. Sugiri. Pada hari itu, jenazah Mallaby dikebumikan di makam Kembang Kuning Surabaya dengan upacara mililer. Pemakaman itu dihadiri pula oleh Laksamana Madya Petterson dan Mayor Jenderal Mansergh. Kerangka Mallaby kemudian dipindahkan ke pemakaman Menteng Pulo di Jakarta.

Tewasnya Mallaby sebenamya tidak terlepas dari sikap Mallaby yang meremehkan kekuatan para pejuang. Kebencian para pejuang terhadap pasukan inggris tidak terlepas dari sikap pimpinan tertinggi pasukan Inggris di Asia Tenggara, sedang sikap Lord Louis Mountbatten sangat dipengaruhi oleh van Mook yang berambisi mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Penyelewengan tugas pasukan Inggris yang mengarah pada upaya membantu Belanda menguasai kembali Indonesia harus dibayar dengan tewasnya seorang jenderal.

Pimpinan tertinggi pasukan Inggris sangat terpukul dengan tewasnya Mallaby. Sebagai balasan, mayor jenderal Mansergh diperintahkan untuk memimpin penyerangan ke kota Surabaya. Di mata Mansergh, kota Surabaya merupakan sarang kaum teroris fanatik dan harus dihancurkan. Tugas Mayor Jenderal Mansergh cukup berat yaitu:
1. mengamankan kota Surabaya secepatnya;
2. mengambilalih komando pasukan Sekutu di Surabaya;
3. menguasai lapangan udara;
4. mengamankan pelabuhan;
5. melucuti senjata para pejuang;
6. mengupayakan perundingan dengan pimpinan Indonesia;
7. membentuk komisi penghubung; dan
8. menentukan batas waktu peluculan senjata.

Di sisi lain, Mansergh harus menghadapi kenyataan bahwa yang dihadapinya sebenarnya bukan hanya para pejuang yang disebutnya teroris atau ekstremis saja. Ia juga harus menghadapi kelompak kekuatan yang telah tertata rapi, yaitu kelompak kekuatan yang didukung kaum intelek, kelompok kekuatan yang didukung para pejuang fanatik bekas tentara Peta dan Heiho, serta kelompok kekuatan yang terdiri dari masyarakat yang secara aktif mendukung perjunngan. Ketiga kelompok itu bersatu saling mendukung dan bahu-membahu menghadapi penjajah yang hendak merampas kemerdekaan mereka.

Upaya merebut kota Surabaya dari kekuasaan para pejuang diawali dengan dikeluarkannya ultimatum bahwa para pimpinan Indonesia harus datang ke markas besar pasukan loggris dan menyerahkan senjata mereka selambat-lambatnya tanggal 9 November 1945. Ultimatum ini tidak dihiraukan oleh para pemimpin dan pejuang. Mansergh tidak mau mengambil resiko kegagalan seperti yang dialami Mallaby maupun pasukan Belanda yang tidak berhasil mengibarkan bendera mereka di Hotel Oranje pada tanggal 19 September 1945. Seluruh kekuatan mereka di darat, laut maupun udara dikerahkan untuk merebut tempat-tempat yang telah diduduki para pejuang. Perintah penyerangan itu dikomandokan Mansergh pada pukul 6.00 wib tanggal 10 Nopember 1945.

Pagi hari itu, tanggal 10 Nopember 1945. pasukan dari brigade 123 diperintahkan untuk menyerang tempat-tempat yang diduduki para pejuang. Pada saat yang hampir bersamaan, pasukan yang tergabung dalam brigade 9 diperinlahkan untuk melakukan penyerangan kawasan timur Kali Mas. Para pejuang yang telah memperkirakan adanya serangan itu dengan gagah berani menyambut dengan perlawanan yang gigih, walaupun mereka harus mengorbankan nyawa untuk itu.

Korban nyawa dari kedua belah pihak tidak dapal dihindarkan. Para pejuang yang kalah pengalaman dan persenjataan sedikit demi sedikit dapat dikalahkan pasukan Inggris, namun semangat tempur para pejuang membuat pasukan Inggris kewalahan. Terjadinya peristiwa berdarah inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan, hari bersejarah untuk mcngenang jasa para pahlawan yang rela berkorban untuk kejayaan nusa dan bangsa.

Peristiwa bersejarah yang terjadi pada tangal 10 Nopember 1945 itu merupakan puncak peristiwa dari rentetan peristiwa yang terjadi sebelumnya dan bermuara dari insiden bendera di Hotel Oranje, Surabaya. Hotel Oranje merupakan saksi sejarah terhadap peristiwa berdarah tanggal 10 Nopember 1945. Kelancangan pasukan Belanda mengibarkan bendera merah-putih-biru merupakan ujian bagi masyarakat kota Surabaya. Membiarkan bendera Belanda tetap berkibar di Hotel Oranje berarti memberi kesempatan kepada pasukan Belanda untuk menjajah kembali bumi nusantara tercinta. Mengurungkan niat itu, walaupun harus mengorbankan darah para pejuang berarti kemenangan. Masyarakat kota Surabaya, terutama para pemuda, memilih menggagalkan usaha pasukan Belanda itu dengan menanggung resiko bertempur mati-matian menghadapi keganasan pasukan Inggris yang membabi-buta menyerang Surabaya tanpa mengenal batas kemanusiaan.(*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Hotel Mojopahit dan Perjuangan Arek-arek Suabaya Pada Tahun 1945, Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, DIRJENKEBUD DEPDIKBUD, Jakarta, 1996/1997, hlm. 3-17

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Surabaya dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke 10 Nopember 1945

  1. Ping balik: Selendang Biru Malang - Fashion dan Belanja Jadi Satu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s