Industri Perhiasan di Jawa Timur


Kegiatan Surabaya International Jewellry Fair (SIJF) 2010. Sangat tepat dilaksanakan karena sangat linier dengan program Gemopolis yang akan menjaqikan Surabaya sebagai pusat industry dan perdagangan perhiasan skala internasional.

Selain itu Jawa, Timur merupakan barometer industry perhiasan nasional. Menurut ketua APEPI, dari sekitar 45 ton perputaran em as Indonesia tahun 2003, ± 70 % berada di Jawa Timur khususnya Surabaya. Disamping itu Jawa Timur memilki 43 sentra industri perhiasan, tersebar di 16 Kab/Kota dengan jumlah unit usaha sebanyak 1.378 unit dan menyerap tenaga kerja.4.451 orang serta ditunjang oleh 123 IK (non sentra) dan 19 IMB.

Nilai dan negara tujuan ekspor industri perhiasan Jawa Timur tahun 2006 meneapai nilai US$ 48.745.039 ke 104 negara tujuan ekspor tetapi nilai dan negara tujuan ekspornya masing-masing meningkat 61,29% dan 9,47% dibandingkan tahun 2005 yang berjumlah US$ 30.221.681 ke 95 negara tujuan. Sementara impor produk industri perhiasan Jawa Tirnur tahun 2006 sebesar 1.000.540 kg, meningkat 82,55 % dibandingkan tahun 2005 yang berjumlah 548.098 kg.

Meski share ekspor perhiasan terhadap total ekspor non migas Jawa Timur relatif masih keeil, namun nilainya terus menunjukkan peningkatan dilihat dari seluruh potensi perhiasan Nasional (total ekspor), Jawa Timur mampu memberikan share lebih kurang 30%.

Jawa Timur juga memiliki potensi bahan baku jewellry dan gems cukup tersedia di dalam negeri (basis bahan baku nasional sangat besar), namun belum tereksploitasi secara optimal, tenaga kerja terampil berbakat serta teknologi sederhana bersifat padat karya.

Negara pesaing utama ekspor produk perhiasan Jawa Timur di pasar internasional datang dari Negara Belgia, Israel, Inggris dan India untuk perhiasan batuan permata (gems) dan Negara Italia, RRC, Swiss dan Thailand untuk produk perhiasan logam mulia (Jewellry).

Selain harus menghadapi kompetitor dari Negara lain industri perhiasan masih terbelenggu dengan permasalahan dan hambatan seperti kemampuan pengembangan desain dan penguasaan teknologi masih terbatas, produktivitas relatif rendah, kurang menguasai jaringan pasar domestik dan ekspor, minimnya alokasi anggaran untuk promosi, belum memiliki fasilitas untuk standardisasi dan HKI karat emas yang diakui pasar internasional, kurangnya fasilitas laboratorium untuk pengujian bahan baku serta meningkatnya upah minimum regional (UMR) tenaga kerja tanpa diimbangi dengan peningkatan produktifitas.

Untuk menangkap peluang pasar produk perhiasan di pasar ekspor serta didukung potensi sumber daya alam, pemerintah Provinsi Jawa Timur menerapkan strategi peningkatkan daya saing melalui peningkatan mutu, kemampuan produksi, desain dan standar pengasahan perhiasan, mengikuti pameran-pameran di dalam negeri maupun di negara-negara pusat produksi dan perdagangan dunia, pengembangan sentra perhiasan dan batu mulia potensial, pengembangan teknologi pengolahan, pengmitan dan pengembangan klaster perhiasan melalui pembangunan pusat perdagagan emas Jawa Timur (empire pelace) serta program Gemopolis yang akan menjadikan Surabaya sebagai pusat industry perhiasan dunia. Son

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Indag, No. 19, September 2010, 27

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Beranda dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s