Melongok Daerah Pacitan


Wilayah Pacitan yang memiliki luas daratan sekitar 1.419.44 w Km terdiri dari gugusan perbukitan kapur dan hanya sebagian kecil terdiri lahan pertanian dan letaknya dari pusat Ibukota Propinsi Jawa Timur sekitar 275 Km. Melihat kenyataan yang ada kondisi alam wilayah Pacitan dapat disebut tidak begitu ramah bagi masyarakatnya. Dan ini merupakan suatu tantangan tersendiri bagi masyarakat daerah Pacitan untuk menaklukkan ketidak ramahannya. Mereka saling bahu membahu mencurahkan semangat kebersamaan guna mencari seberkas cahaya kehidupan yang terbentang luas merawang di hadapannya. Walaupun semua harapan keberhasilan tidak dapat mereka raih sesuai yang diharapkan, paling tidak upaya ini merupakan pembuka jalan bagi generasi mendatang.

Dari kondisi alam inilah yang membuat perckonomian daerah Pacitan nampaknya masih belum sejajar dengan daerah lain di wilayah Jawa Timur. Untuk mengentas masyarakat dari kekurang beruntungan sejak lama pihak Pemerintah Daerah Jawa Timur melakukan kerjasama dengan Propinsi Jawa Tengah dengan istilah PAWONSARl (PacitanWonogiri dan Wonosari) untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian di wilayah daerah Pacitan agar tidak tertinggal dengan daerah tingkat II lainnya.

Terisolimya wilayah Pacitan yang memang tidak pada jalur ekonomi, serta kondisi alrun yang tandus dan gersang ini sehingga sulit untuk mengembangkan dan mengangkat kondisi perekonomiannya. Oleh karena itu dibutuhkan upaya penanganannya dengan memberikan motivasi yang kuat tcrhadap para investor guna menanrunkan sebagian modalnya di Pacitan. Sekarang ini minat investor memasuki wilayah Pacitan masih kurang karena kondisi alam yang gersang, prasarana dan sarana yang tidak mendukung. Dari kenyataan inilah perlu upaya-upaya terobosan dari jajaran Pemerintah Daerah Pacitan untuk manarik investor masuk ke Pacitan.

Sementara ini perkembangan ekonomi di Pacitan hingga akhir tahun 1991/ 1992 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp. 214.965,39 juta, sedang pendapatan regional sebesar Rp. 202.239,43 juta, dan pcndapatan pcrkapitanya scbcsar Rp. 393.648,00. Scdangkan Kcbutuhan Fisik Minimum (KFM) sebesar Rp. 256.777,00 yang untuk Pendapatan Asli Daerah Pacitan sebesar Rp. 1.007.785 .700. Scmentara kekuatan APBD Pacitan hanya sebesar Rp. 1,5 miliar.

Pertumbuhan perekonomian Pacitan sctiap tahunnya mengalami kcnaikan rata-rata 5 %. Jumlah ini akan meningkat jika didukung oleh peran swasta. Potensi Pacitan yang dapat diharapkan untuk menunjang pertumbuhan ekonominya di sektor industri kerajinan rakyat, seperti industri Gula Kelapa produksinya telah mencapai sekitar 566.383 ton per tahun, Sale Pisang sebanyak 97.100 kg per tahun, emping mlinjo 157,8 ton setiap tahun, batu mulia/batu aji mencapai produksi 2.654.200 biji per tahun. KHUSUS untuk batu aji ini produksinya telah memenuhi pasaran eksport ke Arab Saudi, Mesir, Eropa. Sedang industry kerajinan bordir sekitar 10.400 meter per tahun dan batik tulis sekitar 804. meter per tahun. Disektor pertanian memang tidak dapat diharapkan, namun disektor perkcbwlan, peternakan, dan perikanan, seperti sektor petcrnakan di Pacitan sudah tcrdapat sekitar 772.835 unggas, sapi sebanyak 42.206 ekor, kambing sebanyak 61 .533 ekor, sector perikanan laut diproduksi sekitar 2.395 ton per tahun. Jumlah ini belum dikembangkan secara optimal karena para nelayannya masih mengelola dengan sistem tradisional, produksi ikan dar at sekitar 559 ton per tahun, dan untuk pengembangan rwllput laut Pacitan telah berhasil memproduksi sekitar 171 ton per tahunnya.

Potensi galian bahan tambang yang saat ini dimiliki selain batu aji dari hasil penclitiandan pengamatan dari Direktorat Eksploitasi Mineral dan Batuan Dcpartcmcn Pcrtambangan dan energy di Wilayah Pacitan terdapat 22 jenis bahan galian tambang yang memiliki prospek yang Cukup baik bila digali secara baik diantara bahan galian Golongan C scperti Bentonit, terdapat di dcsa Punung, Tegal Ombo, Nawangan dan Donorejo, galian Kalsiet terdapat di Pringkuku, Marmer tcrdapat di wilayah Tulakan, sedang Batu mulia terdapat diwilayah Tegalombo dan Pacitan. Untuk saat ini Pacitan juga mengembangkan tanaman keras seperti Kakao, Kopi Arabica.

Semen tara itu guna memasarkan hasil-hasil yang diproduksi Kabupaten Pacitan didalam menggerakkan roda perekonomian pada saat ini cenderung ke wilayah Jawa Tengah seperti ke Wonogiri, Solo dan Yogyakarta mengingat orbitasi antara Kabupaten Pacitan dengan tiga wilayah sasaran produksinya cukup dekat. Sebaliknya untuk kebutuhan wilayah Pacitan sendiri hanya dapat dipenuhi dari ke tiga wilayah tersebut.

Memang Wilayah Pacitan saat ini ibarat perawan desa yang masih membutuhkan “ragad” untuk bersolek. Tetapi melihat potensinya sebenamya Pacitan sendiri memiliki peluang yang cukup besar sebagai pusat pertumbuhan Jawa Timur belahan selatan. Jika seluruh potensi yang dimiliki Pacitan sudah dimanfaatkan secara maksimal. Dan tentu saja hal ini membutuhkan keberanian dari para investor yang memiliki wawasan sosial dan berorientasi jangka panjang untuk menerobos isolasi potensi daerah serta kekayaan alam yang masih terpendam. (Guno)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: MIMBAR JATIM, EDISI: 153 MEI-JUNI 1993

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Pacitan, Sentra dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s