Krisis Manik-manik Gudo Tetap Eksis


 

 

 

Produk kerajinan manik-manik perhiasan dan aksesoris Gudo Kabupaten Jombang sudah dikenal di manca negara. Kerajinan ini terdapat di dua desa yakni Mejoyolosari dan Plumbon Gambang Kecamatan Gudo. Namun yang lebih dikenal hanya Plumbon Gambang karena jumlah perajinnya lebih banyak.

Wakil Ketua DPRD Jombang, H Marsaid yang tinggal tidak jauh dari sentra manik mengatakan, rata-rata perajin mempunyai kiat bertahan sehingga tidak sampai gulung tikar. Jumlah tenaga kerja yang tersedot mulai dari pencari bahan baku kaca, peleburan, pencetakan, perajutan hingga pemasaran.

 

 

Dikatakan, menghadapi krisis finansial global, pemasaran manik

Gudo di Australia, Amerika, negara-negara Eropa serta negara-negara Asia juga terpengaruh “Namun belum ada pemutusan ekspor ke Negara-negara pelanggan. Hanya ada beberapa negara yang minta ditunda pengirimannya dan ada yang minta dikurangi. Negara yang mengurangi imporya itu negara-negara Eropa seperti Belanda dan Perancis,” ujamya.

Kendala yang dihadapi peraiin adalah mahalnya harga minyak tanah mencapai Rp 4.500 hingga Rp 4.700 perliter. Perajin bisa mendapat keuntungan iika harga Rp 2500 1 liter. Dengan harga Rp 4.500 keuntungan perajin terkuras Rp 2.000 setiap litemya. Adapun kebutuhan setiap perajin perhari berkisar 60 liter.

Perajin Roisah kepada Potensi mennyatakan masih bisa tersenyum. Sebab walaupun pasar ekspor berkurang, namun permintaan dalam negeri seperti Samarinda, Balikpapan serta sejumlah daerah di Kalimantan limur masih ada. “Hingga saat ini omzet penjualan masih normal, sekitar Rp 60 hingga 70 juta perbulan,” kata Roisah.

Plumbon Gambang dikenal sebagai sentra kerajinan manik-manik sejak akhir tahun 70-an. Perkembangannya terus membaik mulai pertengahan tahun 1990. Dari jumlah 10 orang pada awal tahun 1970, kini mencapai 75 orang, melibatkan 2000 tenaga kerja. Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Jombang sudah berupaya membantu berdirinya koperasi dan memberikan bantuan modal.

Untuk memudahkan komunikasi dan koordinasi sesama perajin, Nurwahit bersama sejumlah perajin lain membentuk asosiasi perajin  Rencana itu diawali dengan menggelar Hari Lahir Kerajinan Manik-Manik.

Para perajin menunggu upaya pemerintah dalam mengatasi mahalnya bahan bakar produks; dengan menggantikan sumber energi lain.

Apabila ini tidak segera mendapatkan solusi, tantangan lain muncul seperti membanjirnya manik-manik asal China dengan kualitas yang tidak kalah bagus dengan produk asal Jombang. (Choirul Rijal/s)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: POTENSI JAWA TIMUR, EDISI 7 TAHUN IX/2009, hlm. 10

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jombang, Sentra dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s