Ludruk Irama Budaya, Bertahan di Metropolitan



 Rujak babal tales

gembili, kolang-kaling

campurane. Nek

ditinggal mbrebes mili,

eling-eling kawitane

(kalau ditinggal

menangis karena ingat

riwayatnya).

 

Begitulah salah satu kidungan julajuli guyon parikeno dagelan Ludruk Irama Budaya Surabaya Cak Tekle, ketika menghibur penggemarnya di Gedung Pulo wonokromo Surabaya. Gending-gending seperti jula-juli, ladrang ali-ali dan gunungsari terbangan hampir tiap malam terdengar di sekitar jalan raya Wonokromo. Tembang-tembang itu masih setia menghibur penggemar yang juga masih setia menghibur penggemarnya yang juga masih setia mengunjungi Gedung Ludruk Tua itu.

 

Itulah cara Ludruk Irama Budaya mencoba bertahan dan terus mencoba bertahan dan terus berusaha menggaet penggemar sehingga hampir setiap malam tidak pernah sepi penonton. Hasilnya  memang belum maksimal Hari biasa seperti Senin-Jumat, rata-rata jumlah penonton sekitar 100 orang atau 35%, tetapi pada hari sabtu dan minggu jumlahnya bisa mencapai 200 orang atau 70% dan _ 300 orang dengan tiket masuk Rp 4.000/orang

Sonya, anggota ludruk Irama  Budaya, kepada Potensi mengatakan, penonton ludruk yang merupakan asli Jawa Timur pada masa lalu, sekitar 1960-1980 sangat digandrungi masyarakat dan berbagai kalangan, termasuk orang kantoran. Namun sejak tahun 9O-an sampai sekarang kondisinya berubah. Penonton  datang dari menengah ke bawah seperti buruh pabrik, kuli bangunan, tukang becak, pedagang kaki lima, atau tukang sol sepatu.

Bagi saya hal itu tidak menjadi masalah,  yang terperting kesenian Ludruk tetap eksis dan tidak ditinggalkan penontonnya,” ujar Sonya. Selain digemari masyarakat local dan sekitarnya, Ludruk lrama Budaya sesekali juga ditonton wisatawan manca negara (wisman, dari Belanda, Prancis, Inggris, dan Jerman. Pada hari Minggu 16 Maret lalu, ada 100 wisman menyaksikan Ludruk ini.

 

“Biasanya para wisman tertarik pada ceritera-ceritera perjuangan seperti Sawunggaling, Branjang Kawat, Si Pitung, Sarip Tambakoso dan Sakerah yang menggabarkan. kegigihan perjuangan rakyak Indonesia saat melawan penjajah. Para wisman  juga tertarik cerita percintaan seperti Sampek Engtai dan legenda Ande-Ande lumut.”tuturnya.
Pimpinan Ludruk Irama Budaya Sakiyah mengatakan, satu-satunya grup ludruk yang masih eksis di kota pahlawan ini adalah ludruk yang dipunggawaninya. Mereka setia manggung untuk memberi hiburan segar kepada masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Tidak banyak yang mengetahui bahwa di Metropolitan Surabaya masih ada Ludruk yang tetap bertahan dengan 40 anggotanya.Selain menjadi pemain Ludruk, mereka juga mempunyai pekerjaan lain seperti salon kecantikan. rias penganten, mracang, penjual pakaian sampai karyawan pabrik dan kantor. Mengapa para pemain Ludruk  masih mencari penghasilan di luar? Menurut mereka, karena penghasilannya
“Kesenian Ludruk seyogyanya tetap dipertahankan  karena memiliki fungsi dalam strategis dalam kehidupan sosial masyarakat Seperti sebagai media hiburan media pembangunan, kritik sosial  dan sarana pendidikan sehingga kesenian Ludruk harus tetap ada di tangah-tengah masyarakat hingga sepanjang Zaman,”kata Zambrud, penonton setia. sebagai pemain tidak bisa menopang hidup sehari-hari.

Penggemar Fanatik

Masyarakat urban di Surabaya asal berbagai daerah di Jawa Timur seperti dari Jombang, Mojokerto, Malang, Jember dan Gresik, begitu antusias menonton kesenian ini. Mereka adalah Penggemar yang fanatik. Sebagai contoh Katemo tukang sol sepatu dari Ponorogo dan teman-temannya, hampir setiap malam tidak pernah ketinggalan melihat ludruk kesayangannya ini.

Di gedung berukuran 20 kali 25 meter itu, Katemo, Poniran penarik becak asal Jombang dan tukang pijat urat asal Nganjukmengaku terhibur bila menyaksikan Ludruk. Mereka puas dan gembira karena para pemainnya pandai membuat orang ketawa sehingga rasa capek, kesal dan lelah terlupakan.

Apalagi tarian remo yang dibawakan Sonya dan para pelawak seperti Sapari, Tekle, Bongkik dan Budi menambah suasana pertunjukan menjadi meriah. Seakan rasa payah kerja seharian hilang seketica setelah menyaksikan kidungan dan lawakan-lawakan segar yang dibawakan oleh Tekle dan kawan-kawan

 

Pring kuning mangklung nyang kali,

sopowonge gak kepengen ngetok.

Lencir kuning marak ati,

Sopo wonge gak kepingin melok.

 

Begitulah salah satu tarikan kidungan Tekle. Makssudnya:

Melihat orang cantik siapa yang tidak terpikat

Para penonton rupanya sudah banyak yang mengetahui pada setiap babak pada adegan lawak dan tandak/penari. Mereka bisa meminta lagu/ tembang dan gending kepada pelawak asalkan para penonton mau memberikan imbalan baik berupa rokok atau uang semampunya. Dengan imbalan itu para pelawak dan tandak akan melayani  permintaan seperti jula-juliu, caping gunung, kutuu manggung dan ali-ali.

Babak ini sangat digemari para penonton yang menyenangi lagu-lagu campur sari dang ending-gending jawa. Para penonton juga boleh ikut menyanyi dan berjoget bersama tandak. (Tandak adalah seorang laki-laki yang berpenampilan seperti wanita, red) *Sunaryo/S 

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: POTENSI JAWATIMUR, EDISI 03 TAHUN VIII/2008      

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Seni Budaya, Surabaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Ludruk Irama Budaya, Bertahan di Metropolitan

  1. parman kocing berkata:

    kalau saya jadi walikota para pemain ludruk ini akan saya angkat jadi pegawai pemda, kerjanya nya ya ngludruk itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s