SOERA – ING – BAJA


Pada masa pra kolonial, Surabaya bernama Hujung Galuh. Abad 11, Hujung Galuh mulai berkembang dan merupakan pelabuhan interinsuler, banyak kapal-kapal dagang dari pulau-pulau di Indonesia dan luar negeri singgah untuk membongkar dan memuat barang-barang dagangan. Menurut catatan kitab Ying Yai Sheng Lan (1416) dikatakan Hujung Galuh merupakan salah satu dari tiga kota pelabuhan dagang yaitu Tuban, Gresik, dan Surabaya.

Sebagai bandar yang ramai Hujung Galuh juga menjadi tempat pertemuan antarbangsa. Dinyatakan pula bahwa di Surabaya banyak tinggal orang-orang kaya dan telah bertempat tinggal kira-kira 1000 keluarga diantaranya orang-orang Tionghoa.

Menyurutnya pengaruh Majapahit pada abad 17 juga ditandai dengan makin mundurnya bandar Hujung Galuh (Surabaya). Di abad ini juga mulailah mendarat bangsa Gujarat, Malabar, dan Koromandel dari India Selatan di pantai Gresik, Selain berdagang, mereka juga sebagai penyebar agama Islam. Selain dari India Selatan, banyak penyebar agama Islam yang berasal dari Hadramaut (orang Hadrami). Di Surabaya mereka nantinya bermukim di sekitar Ampel.

Berdasarkan perjanjian tanggal 11 November 1743 antara Gubernur Jenderal Baron van Imhoff dengan raja Paku Buwono II dari Mataram, kedaulatan penuh atas kota Surabaya diserahkan kepada VOC. Sebagai pemegang kedaulatan VOC mengembangkan downtown (kota bawah) atau benedenstat sebagai pusat perniagaan.

Sesuai kententuan peraturan wijkenstelsel, pada 1843 kawasan kota bawah Surabaya dibagi menjadi dua wilayah permukiman berdasarkan kelompok etnis, yaitu permukiman orang Eropa berada di sisi barat jembatan Merah dan permukiman masyarakat Timur asing (Vreemde Oosterlingen) berada di sisi Timur yang terdiri dari pemukiman masyarakat Tionghoa (Chineesche Kamp), Arab {Arabische Kamp). Permukiman masyarakat bumiputera menyebar di sekitar hunian orang Tionghoa dan Arab.

Perkembangan pesat terjadi pada kota-kota besar Hindia Belanda, Seperti Surabaya terjadi setalah penghapusan Cultuurstelsel di tahun 1870. Tahun itu sering dianggap sebagai permulaan dari tahap’ baru perkembangan era Kolonial, dimana kota-kota bertumbuh pesat dengan kehadiran kantor-kantor perdagangan perusahaan-perusahaan dari Belanda, seperti di kota Surabaya. Salah satunya kebanggaan kota Surabaya adalah gedung HVA yang kini menjadi kantor direksi PTPN XI (Persero). HVA pada zaman Belanda dulu merupakan pusat aktifitas industri gula. Gedung yang indah dan kokoh ini dibangun pada tahun 1921 dan hingga kini masih tetap terawat serperti bentuk aslinya tempo dulu. Sungguh suatu warisan arsitektur yang sangat berharga dan harus tetap dijaga keberadaannya.

Dirancang oleh Hulswit, Fermont dan Ed Cuypers, suatu biro arsitek dan insinyur terkemuka di kalangan masyarakat Belanda di Hindia Belanda dari 1910 sampai 1942. Lantai pertama dan kedua gedung ini dikelilingi oleh koridor berkolom dengan kepala kolom dan lengkungannya bermotif bunga membentuk tulisan Islam. Bentuk atapnya yang berlapis dua adalah suatu bentuk ekspresi lokal selain sebagai suatu pemecahan terhadap kondisi iklim.

Perubahan fungsi bangunan banyak terjadi pada kawasan sekitar gedung PTPN XI (Persero). Beberapa bangunan yang dialihfungsikan sebagai gudang kondisinya sangat memprihatinkan karena hampir tanpa perawatan dan berubah wajah menjadi kusam.

Pemerintah Kota Surabaya telah melakukan upaya melindungi bangunan-bangunan   bersejarah melalui Surat Keputusan Wali Kota Surabaya 1996 dan 1998, yang berisi tentang 163 bangunan dan situs yang harus dilindungi. Namun upaya untuk melindungi karakter kawasan ini tampak belum maksimal. Upaya pelestarian pusaka budaya seharusnya tidak hanya melindungi satu atau beberapa bangunan saja, tetapi juga mempertahankan struktur kota/kawasan (urban fabric), yang meliputi pola penggunaan lahan (fungsi bangunan), langgam arsitektur, dan aktivitas kehidupan masyarakat yang membentuk karakter suatu kawasan menjadi berbeda dan unik.

Dengan pembangunannya yang tiada henti kiranya Surabaya menjadi kota yang nyaman yang memberikan nuansa pendidikan dan hiburan bagi warganya. Dan sebagai kota tujuan wisata, Surabaya/Jawa Timur mempunyai daya tarik yang sangat potensial untuk dikembangkan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
Krisnina Maharani A. Tanjung, Jejak Gula, Warisan Industri Gula di Jawa, Yayasan Warna-warni, 2010, hlm. 171-174.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Surabaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s