Membangun Madura


September 2003-

 “Membangun Madura, bukan membangun di Madura

Jembatan Suramadu sudah diresmikan pengerjaan proyeknya oleh Presiden. Sejauhmana pentingnya proyek senilai Rp2,8 triliun itu bagi Madura ke depan, berikut wawancara Bisnis dengan Ernomo Amidarmo, tokoh masyarakat Madura pernah menjabat Sekwilda Kabupaten Bangkalan dan Bupati Tulungagung. Berikut petikannya:

Proyek Jembatan Suramadu telah direresmian pengerjaan 
proyeknya langsung oleh Presiden. Bagaimana perasaan Anda sebagai orang Madura?
 

Saya sangat senang, karena itu bukti keseriusan pemerintah. Bagi masyarakat Madura jembatan itu bukan sekadar jembatan, tapi juga jalan menuju masa depan Madura yang lebih cerah.
Namun masyarakat Madura tidak hanya ingin melihat peresmian pengerjaan proyek, tapi juga peresmian beroperasinya jembatan.

Persiapan apa saja yang perlu dilakukan oleh empat Pemda Madura?  

Perlu ada gerakan sosialisasi ke masyarakat mengenai ‘Madura Baru’ secara konseptual pasca dibangunnya Suramadu, agar ada persiapan lebih matang secara cultural saat memasuki ‘kehidupan baru’ kelak. Karena akan ada perubahan sosio kultural yang signifikim pasca proyek jembatan. Jangan sampai masyarakat menjadi terasing di halarnannya sendiri-apalagi termarginalkan. Konsepsinya harus jelas, yakni membangun Madura. Bukan membangun di Madura.

Sejauh ini memang sudah ada sosialisasi, namun sifatnya masih parsial. Harus didesain sebuah format yang sama agar persepsi masyarakat mengenai era ‘Madura Baru’ juga sarna. Pengkondisian semacam ini sangat dibutuhkan mengingat tipikal masyarakat yang khas, termasuk watak religiusisme-nya.

Perlu juga dihindarkan adanya harapan yang berlebihan. Karena jika kelak tidak sesuai harapan-justru bisa menjadi kontra produktif bagi cita-cita ‘Madura Baru’ itu sendiri.

Yang terpenting adalah disiapkan adanya lembaga pendidikan yang berorientasi ketrampilan, agar masyarakat Madura bisa terlibat aktif dalam proses percepatan pembangunan yang berlangsung. Namun demikian tetap perlu adanya kurikulum yang mengakomodasi basis religius yang dimiliki masayarakat di sana. Pemberdayaan pondok pesantren yang sejauh ini menjadi institusi dominan di Madura juga perlu di temp atkan pada barisan depan terkait kemungkinan bakal terjadinya perubahan Madura secara kultural sebagai konsekwensi industrialisasi.

Selain ‘pengkondisian sosial’, apalagi yang diperlukan?

Perencanaan phisik infratruktur menuju ‘Madura Baru’ pasca Suramadu sejauh ini juga masih parsial, artinya belum integrated pemda satu dengan lainnya. Perencanaan infrastruktur dan penataan tata-ruang harus didesain secara terintegrasi, agar pertumbuhan di era ‘Madura Baru’ kelak tidak terjadi secara sporadis.

Dalam hal ini diperlukan keterlibatan Pemerintah Pusat dan Pemprov. Jatim, karena pemda-pemda di Madura bisa jadi tidak memiliki cukup. kemampuan untuk melakukan  pekerjaan besar itu-khususnya terkait pendanaan.

Petaan ruang dan infrastruktur seperti apa yang dimaksudkan?

Misalnya perlu adanya konsep pelabuhan modern yang harus dibangun di Madura. Karena posisi Pulau itu sangat strategis untuk pelayaran internasional. Atau misalnya  melakukan relokasi Pelabuhan Tanjung Perak yang saat ini lalu-lintasnya sudah padat. Nah ini semua perlu ditata lokasinya. Apakah di tempatkan di Pantura Madura, atau di sisi Barat Daya Bangkalan.

Terkait dengan itu tentukan juga lokasi kawasan industrinya. Pantai Utara Madura sangat ideal untuk pelabuhan internasional ketimbang di Selat Madura dengan basis Surabaya yang sudah sangat padat itu.

Perlu juga ada pelebaran jalan provinsi poros Kamal Sumenep yang sejauh ini hanya ada dua jalur-minimal menjadi empat jalur atau enam jalur. Jika perlu dibangun alternatif jalan di jalur Utara. Terkait dengan itu perlu juga dipikirkan kemungkinan dibangunnya lapangan terbang, atau bisa jadi menghidupkan kembali bandara Joko Tole yang sudah ada di Sumenep. Semua itu harus dilakukan secara terintegrasi.

Sebenarnya potensi apa saja yang selama ini menonjol di Madura?

Semua sektor menonjol potensinya, hanya belum dikelola maksimal. Mulai dari sector pertanian, peternakan, perkebunan, kehutanan, tambang, perikanan, sandang, dan kerajinan.

Dari aspek sektor peternakan, misalnya, sejauh ini Madura dikenal sebagai pemasok sapi dalam jumlah besar untuk kebutuhan Jatim dan Jawa lainnya.

Dengan konsep Madura Terpadu yang telah didahului dengan pembangunan Jembatan Suramadu akan memaksimalkan semua potensi itu. • Lutfil Hakim

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Bisnis Indonesia; Regional Timur, No.5/1/September 2003

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Bangkalan, Madura, Sentra, Surabaya dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s