Suramadu Bukan Sekadar Jembatan


-September 2003-

A ’bantal ombak, sapo’  angin salanjanga.

Kalimat itu bagian dari bait lagu berbahasa Madura yang berarti ‘berbantalkan ombak dan selimut angin sepanjang jalan’.

Pesan yang ingin disampaikan pada bait lagu kedaerahan itu agak heroik, yakni menggambarkan betapa masyarakat Pulau itu suka merantau melalui laut, mobilitas tinggi, kemauan besar, dan pantang menyerah. Bukan hanya di laut. Tingginya pergerakan masyarakat Madura pun bisa dilihat dari volume penumpang darat melalui penyeberangan Kamal-Ujung (Surabaya) yang mencapai ribuan orang setiap harinya.

Bahkan ketika abad XIII sudah ada dua pemuda asal Sumenep yang ekspansi ke luar Madura, yakni Ronggolawe dan Nambi. Belakangan diketahui bahwa kedua sahabat itu terpilih menjadi Adipati (Bupati) di Tuban dan Lumajang.

Tapi adakah relevansi antara tingginya mobilitas masyarakat Madura dengan maksud Pemerintah membangun Jembatan Suramadu Rp 2,8 triliun yang tiang pancang pertamanya telah diresmikan Presiden Megawati dua pekan silam sebagai pertanda dimulainya proyek. Karena tanpa konfigurasi jembatan 5,4 km itu pun masyarakat Madura sudah dikenal suka berkelana sejak ratusan tahun silam.

Di sinilah persepsinya harus sama. Jembatan Suramadu bukanlah sekedar mengatasi masalah trasportasi, tapi lebih dari itu (Suramadu) benar-benar dikonstruksi sebagai jembatan masa depan bagi Madura. Jadi subtansi misinya adalah membangun Madura. Bukan hanya untuk industrialisasi, tapi untuk totalitas Madura. Jembatan hanya satu alat mencapai itu.

Selain proyek jembatan, ada alat lain yang perlu dipersiapkan oleh pengambil kebijakan untuk membangun totalitas Madura khususnya sebagai basis industri baru, dan pertumbuhan ekonomi baru. Misalnya penyiapan tata ruang, infrastruktur jalan, suplai air, energi listrik, jaringan komunikasi, kawasan industri, dan pembangunan pelabuhan baru. Pemda kabupaten tentu tidak cukup memiliki kemampuan untuk membiayai keperluan itu.

Pernyataan kesiapan pemda-pemda di Madura untuk peneyelesaikan izin investasi dalam sehari saja tidak cukup, jika tidak didukung Pemerintah Pusat dalam penyediaan infrastruktur strategis bagi ‘Madura Baru’ pasca Suramadu.

Bukan hanya itu. Kebijakan Pemerintah Pusat yang dapat mendorong cepatnya investasi masuk, seperti yang diterapkan pada program Kapet, -dimana investor diberi aneka kemudahan, termasuk kelonggaran pajak- juga diperlukan. Pembangunan sumberdaya manusia pun penting ditempatkan pada skala prioritas agar kelak masyarakat Pulau itu tidak merasa terasing di halamannya sendiri.

Sejauh ini alokasi dana APBN lebih banyak tertuju pada pembangunan di daratan. Padahal kondisi republik ini lebih banyak kepulauan. Program membangun Madura secara total -yang diawali Jembatan Suramadu- diharapkan menjadi permulaan rekonfigurasi alokasi dana APBN dalam memajukan kepulauan. Nilai proyek Suramadu Rp2,8 triliun sangat kecil jika dibandingkan bunga obligasi (baru nilai bunga) bank rekap yang harus dibayar APBN sekitar Rp70 triliun pertahun.

Perspektif mengenai proyek Suramadu hendaknya juga tidak hanya dilihat dari aspek kepentingan ekonomi. Tapi perlu juga ditilik dari aspek pemerataan pembangunan yang menjadi hak segala bangsa, termasuk hak masyarakat Madura. Jangan lagi argumen religiusitas, nilai-nilai dan ‘kemanjaan budaya’ dihadapkan pada hak masyarakat atas pembangunan.

 Gengsi Suramadu
Dibandingkan membangun jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera di atas Selat Sunda sebagaimana pernah disinggung pemerintahan BJ Habibie, proyek jembatan di atas Selat Madura ini jauh lebih realistic baik dari aspek biaya maupun konstruksi jembatan.

Konfigurasi fisik Suramadu (sebenarnya) gengsi tersendiri, dan memiliki nilai tinggi (peradaban) dalam hal rekayasa sipil konstruksi. Belum banyak di muka bumi ini jembatan dengan jarak bentang lebih dari 2.000 meter. Dibutuhkan banyak insinyur dengan aneka – keahlian- termasuk ahli geoteknik dan lingkungan untuk mewujudkannya.

Rekayasa sipil pada bentangan jembatan di atas 2.000 meter, apalagi Suramadu 4,5 km, dibutuhkan varian material baru, kemampuan robotik, dan aplikasi komputer mutakhir-dalam pengerjaannya. Jembatan Golden Gate di San Fransisco yang sudah terkenal sejak 1937 bentang maksimumnya hanya 1.280 meter. Jembatan Humber yang terkenal di di Inggris juga hanya 1.410 meter. Jembatan dengan bentang di atas 2.000 meter hanya ada Italia yang membentang di atas Selat Messina.

Masyarakat Madura nampaknya sudah tidak sabar menunggu selesainya proyek Suramadu yang dijadwal rampung 2007. Betapa indahnya kota Kamal kelak yang bermandikan cahaya lampu di sepanjang bentanganjembatan di malam hari. Pelintas Suramadu akan serasa melewati Golden Gate Bridge, San Francisco-AS. Tanpa harus lagi abantal ombak dan asapo angin. •Lutfil Hakim

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Bisnis Indonesia, Regional Timur, No.5/1/September 2003

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Bangkalan, Madura, Sentra, Surabaya dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s