Wayang Timplong, Kabupaten Nganjuk


TERJAGA BAIK

Kalau sudah berlangsung enam generasi, Wayang Timplong di Kabupaten Nganjuk tetap terjaga dengan baik. Itu terjadi karena generasi tuanya -melalui garis keturunan- secara telaten menyerahkan tongkat estafet untuk menguri-uri (menjaga) kesenian tradisional itu kepada generasi muda.

Hebatnya lagi, di era Otonomi Daerah tahun 2000, pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Nganjuk mengeluarkan program kesenian wayang, termasuk wayang timplong, masuk sekolah-sekolah di setiap kecamatan.

“Dengan digelarnya pertunjukan wayang secara periodik setiap bulan di sekolah-sekolah mulai Sekolah Dasar (SD) hingga ke tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), gererasi muda bisa mengenal kesenian rakyat peninggalan nenek moyangnya,” tutur Kepala Bidang Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Waras Riyanto.

Selain pentas di sekolah, kesenian yang sudah langka ini sering digelar pada acara bersih desa di balai desa dan nyadran (hajatan) di tempat punden-punden (Makam atau petilasan) yang merupakan cikal bakal berdirinya desa.

Di Nganjuk, kesenian wa­yang ini masih hidup dan ber­kembang di tengah-tengah komunitas penduduk pedesa­an yang sebaian besar peta­ni. Wayang Timplong tidak melibatkan pesinden (waranggana), panjak-nya (pena­buh gamelan) pun cuma lima orang. Begitu pula halnya dengan penabuh gamelannya ti­dak sebanyak dan selengkap wayang kulit gaya Yogya­karta maupun Surakarta.

Wayang ini masih sering ditanggap Pemkab Nganjuk pada setiap perayaan hari ulang tahun Kabupaten Ngan­juk 10 April, acara pernikahan, sunatan, ulang tahun kelahir­an dan ruwatan desa/bersih desa, untuk mengusir balak ataupun bencana dan pada ruwatan jawa Suro dan Selo.

Tarifnya tergantung jarak­nya. Kalau di desa setempat berkisar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. Biasanya banyak dipakai oleh komunitas pe­desaan yang masih meng­hargai ritual. Seni tradisional yang konon cuma hidup dan berkembang di daerah Ngan­juk ini bisa dikata merupakan kekuatan hidup. Selama ini lakonnya tentang cerita-cerita masa lampau, tapi tidak ter­tutup kemungkinan akan ber­kembang sesuai zamannya.

Menurut Staf Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebu­dayaan, Mahjo, bentuk kese-nian yang tumbuh sebagai warisan karya nenek moyang Desa Dung Bajul ini, lahir per­tama di Desa Kedung Bajul, sehingga masyarakat me­nyebutnya wayang Dung Ba­jul. Kesenian ini sudah ada sejak 1800 dengan dalang pertama Mbah Bancol kemu­dian diteruskan Mbah Guno, Mbah Karso, Mbah Juhul, Mbah Budo, Mbah Onggo, Mbah Paidi, dan Mbah Tawar.

Wayang Dung Bajul dina­makan Wayang Timplong ka­rena timplong diambil dari ga­melan pengiringnya gam­bang, kempul dan kenong yang suaranya tertalu-talu terdengar thong-ting-plong, thong-ting-plong.

Tahun 1976 Mbah Jikan ber­sama Mbah Jikan, Mbah Talam, Mbah Maelan, dan Mbah Su-woto sebagai generasi penerus mendirikan kelompok kesenian Wayang Timplong di Desa Jetis. Kesenian ini terus ber­kembang karena di dalamnya terdapat dua unsur seni sekaligus yaitu seni musik dan sas­tra yang disajikan dalam bentuk pertunjukan.

Pagelaran dan pementa­sannya menggambarkan se­buah ceritera rakyat asal usul suatu daerah dan ceritera kisah percintaan panji yang di dalamnya syarat dengan pesan-pesan moral dan etika berisi petuah-petuah dan sin­diran tentang isu yang se­dang berkembang.

Musik iringan dan pendu­kungnya dalam bentuk instru­men dan gamelan timplong dan musik vocal yang disua­rakan oleh ki dalang. Gamelan hanya mengiringi pementasan wayang timplong, tidak bisa mengiringi kesenian lain. Ga­melan tersebut terdiri dari se­buah kendang, sebuah gam­bang yang terbuat dari bambu dengan laras pelog barang miring, kempul dengan nada 7 (pi), ketuk dengan nada 2 (ro) dan dua buah kenong dengan nada 3 (lu) serta 7 (pi) nada pelog barang ditambah keprak dan cempolo.

Gending yang dikuman­dangkan khusus dan pakem seperti gending sendonan yang biasanya untuk mengi­ringi suluk ki dalang. Kemu­dian gending grendel sebagai gending pamumko awal per­tunjukan dan penutup pertun­jukan, gending adek-adek se­bagai gending sirepan, biasa­nya untuk mengiringi janturan dan ceritera dalam pertunjuk­an wayang timpolong, gen­ding rangsang adalah gending untuk mengiringi bedolan wa­yang dan gending prahab ada­lah gending untuk mengiringi boneka penari serimpi di akhir ceritera pada suatu pemen­tasan. Gending-gending ter­sebut dialunkan sesuai de­ngan fungsinya masing-ma­sing.

Dalam penyajian, dialog­nya mengunakan bahasa se­hari-hari seperti bahasa jawa, jawa ngoko dan bahasa In­donesia. Sedangkan syairnya oleh ki dalang adalah bahasa Jawa yang mengandung unsur sastra.(Sunaryo)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: POTENSI JAWA TIMUR, EDISI 4, TAHUN X/2010, hlm. 16.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Nganjuk, Seni Budaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s