Sandyakalaning majapahit


Kodrat Yang Maha Kuasa berganti bagaikan roda yang berputar. Setelah kerjaan Majapahit mencapai jaman keemasan akhirnya mengalami masa keruntuhan.

Karena Raja Hayam Wuruk tidak berhasil memperoleh permaisuri, maka putra-putra dari istri selir saling melirik untuk mendapatkan tahta kerajaan yang sedang kosong. Putra-putra dari istri selir antara lain: Bhre Wirabhumi yang duduk sebagai Adipati Blambangan dan Kusumawardhani yang diperistri oleh Wikramawhardhana yang bertahta di kerajaan Majapahit.

Kusumawardhani memilih suaminya untuk berkuasa di kerajaan Majapahit. Kenyataan ini tidak dikehendaki oleh Adipati Wirabhumi yang menyebutkan bahwa Wikramawardhana tidak berhak menduduki tahta kerajaan karena hanya sebagai putra menantu.

Akhirnya tanpa bisa dihindari, terjadilah perang antara Majapahit dan Blambangan yang diberi nama perang Paragreg. Bhre Wirabhumi mati dimedan pertempuran terbunuh dengan dipotong lehernnya oleh Raden Gajah.

Sepeninggal Bhre Wirabhumi suasana semakin kacau, putranya yang bernama Bhre Daha berhasil membunuh Raden Gajah.

Belum lama Bhre Daha menduduki tahta kerajaan Majalengka sudah terusir dari kerajaan dan digantikan oleh keturunan Wikramawardharia yaitu Dyah Suhita.

Dengan perubahan jaman, kerajaan Majapahit diperintah oleh Bhre Kertabhumi. Kerajaan Majapahit tidak semakin tentram dan makmur justru malah bayak pemberontakan yang mengganggu jalannya pemerintahan.

Diceritakan Shri Kertabhumi juga tidak mempunyai permaisuri, tetapi mempunyai putera dari seorang istri putri Cina yang bernama Jim Boen yang dikenal dengan nama Raden Patah.

Raden Patah tidak enak hatinya melihat rusaknya kerajaan yang dipimpin ayahnya, karena itu Raden Patah lalu meninggalkan kerajaan dibantu pamannya Arya Damar.

Karena merasa bertanggung jawab atas kejayaan Majapahit Raden Patah yang pada waktu itu sudah menjadi adipati Demak, terpaksa membuat rencana untuk memulihkan kejayaan Majapahit. Majapahit diserang namun dengan tujuan utama hanya akan memusnakan para pemberontak yang berebut kekuasaan.

Peristiwa itu terjadi pada tahun 1478 yang disandikan didalam sangkakala sirna ilang kertaning bumi. Bhre Kertabhumi diboyong ke Demak dengan mendapatkan penghormatan. Begitu juga pusaka wahyu kedhaton Songsong Kyai Tunggul Naga, Kyai Naga Sasra, Kyai Sabuk Inten dan Kyai Sengkelat diboyong ke Demak Bintara.

Selanjutnya Raden Patah meminta agar saudara iparnya yang bernama Girindrawardhana menjadi penguasa di kerajaan Majapahit. Kota raja Majapahit yang sudah rusak tidak diperbaiki oleh Giridrawardhana justru kota rajanya dipindah ke Kediri. Peristiwa ini apabila ditulis didalam tembang (lagu) Mijil, Asmaradhana dan Sinom.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  BANJARAN MAJAPAHIT, Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Daerah Jawa Timur, Drs. BUDI UDJIANTO, dkk, Surabaya; 1993.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Legenda, Sejarah, Seni Budaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sandyakalaning majapahit

  1. EMPU FUAD HASIM berkata:

    apa ada nama ki joyo sengkiling

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s