Candi Penataran: Uraian Bangunan – bangunan


Untuk memperoleh gambaran yang agak jelas kiranya perlu diuraikan beberapa bangunan yang dianggap penting dan menarik. Urut-urutan uraian sengaja dari bangunan-bangunan yang terdapat di halaman A terus ke halaman B, C dan seterusnya mengingat pada umumnya pengunjung melihat-lihat bangunan kekunaan dari bagian depan terus ke belakang. Uraian bersifat deskriptif (pemerian) dengan mencantumkan ukuran-ukuran supaya dapat memberikan gambaran seeara dimensional apabila kita sudah tidak berada di lokasi pereandian. Bangunan-bangunan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bale Agung
Lokasi bangunan terletak di bagian barat-laut halaman A, posisinya sedikit menjorok ke depan. Bangunan seluruhnya terbuat dari batu dindingnya masih dalam keadaan polos. Pada din ding sisi selatan dan juga sisi utara terdapat tangga masuk yang berupa undak-undakan sehingga membagi dinding sisi utara maupun sisi selatan menjadi dua bagian. Begitu pula pada dinding sisi timur, ada dua buah tangga masuk yang membagi din ding sisi timur ini menjadi tiga bagian. Sekeliling tubuh bangunan bale agung dililiti oleh ular atau naga, kapala ular tersembul pada bagian sudut-sudut bangunan. Di sebelah kiri dan kanan masing-masing tangga naik terdapat arca penjaga 11 yang berupa arca Mahakala. Arca-arca Mahakala yang terletak di sebelah kiri dan kanan tangga masuk dinding sisi timur nampaknya tidak lengkap lagi.

Bangunan bale agung berukuran panjang 37 meter, lebar 18,84 meter dan tinggi 1,44 meter. Sejumlah umpak batuyang berada di lantai atas diperkirakan dahulu sebagai penumpu tiang-tiang kayu untuk keperluan atap bangunan. Fungsi bangunan bale agung menurut  N.J Krom seperti juga di Bali dipergunakan untuk tempat musyawarah para pendeta atau pendanda.

2. Pendopo Teras
Juga disebut batur pendopo, lokasi bangunan berada di sebelah tenggara bangunan bale agung. Berbeda dengan bangunan bale agung yang polos bangunan pendopo teras ini dindingnya dikelilingi oleh relief-relief cerita. Pada dinding sisi barat terdapat dua buah tangga naik yang berupa undak-undakan, tangga ini tidak berlanjut di dinding bagian timur. Pada masing-masing sudut tangga masuk di sebelah kiri dan kanan pipi tangga terdapat arca raksasa kecil bersayap dengan lutut ditekuk pada satu kakinya dan salah satu tangannya memegang gada. Pipi tangga pada bagian yang berbentuk ukel besar berhias tumpal yang indah. Bangunan pendopo teras berangka tahun 1297 Saka atau 1275 Masehi. Letak pahatan angka tahun ini agak suIit mencarinya karena berbaur dengan hiasan yang berupa sulur daun-daunan, lokasinya berada di pelipit bagian atas dinding sisi timur.

Seperti pada bangunan bale agung, sekeliling tubuh bangunan pendopo teras juga dililiti ular yang ekornya saling berbelitan, kepalanya tersembul ke atas di antara pilar- pilar bangunan. Kepala ular sedikit mendongak ke atas, memakai kalung dan beljambul. Bangunan terbuat seluruhnya dari batu, berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran panjang 29,05 meter, lebar 9,22 meter dan tinggi 1,50 meter. Diduga bangunan pendopo teras ini beliungsi sebagai tempat untuk menaruh saji-sajian dalam rangka upacara keagamaan.

3. Candi Angka Tahun
Disebut demikian karena di atas ambang pintu masuk bangunan terdapat angka tahun: 1291 Saka (= 1369 Masehi). Lokasi bangunan berada di sebelah timur bangunan pendopo teras dalam jarak sekitar 20 meteran. Di kalangan masyarakat lebih dikenal dengan nama Candi Browijoyo karena model bangunan ini dipergunakan sebagai lambang kodam V Brawijaya. Kadang-kadang ada yang menyebut Candi Ganesa karena di dalam bilik candinya terdapat sebuah area ganesa.

Pintu masuk candi terletak di bagian barat, pipi tangganya berakhir pada bentuk ukel besar (voluta) dengan hiasan tumpal yang berupa bunga-bungaan dalam susunan segitiga sama kaki. Candi Angka Tahun seperti umumnya bangunan-bangunan candi lain terdiri dari bagian-bagian yang disebut: Kaki candi yaitu bagian candi yang bawah, kemudian tubuh candi dimana terdapat bilik atau kamar candi (gerbagerha) dan kemudian mahkota bangunan yang berbentuk kubus.

Pada bagian mahkota nampak hiasan yang meriah. Pada masing-masing dinding tubuh candi terdapat relung-relung atau ceruk yang berupa pintu semu yang dibilgian atasnya terdapat kepala makhluk yang bentuknya menakutkan. Kepala makhluk seperti ini disebut kepala kala yang eli Jawa Timur sering disebut Banaspati yang berarti raja hutan yang bisa berupa singa atau harimau. Penempatan kepala kala di atas relung candi dimaksudkan untuk menakut-nakuti roh jahat agar tidak berani masuk ke komplek percandian. Bangunan candi Angka Tahun cukup terkenal seakan-akan bangunan inilah yang mewakili komplek percandian Panatai:an. Di bagian atas bilik candi pada batu penutup sungkup terdapat relief “Surya Majapahit” yakni lingkaran yang dikelilingi oleh pancaran sinar yang berupa garis-garis lurus dalam susunan beberapa buah segitiga saran kaki. Relief Surya Majapahit juga ditemukan di beberapa candi yang lain di Jawa Timur ini dalam variasiyang sedikit berbeda.

Candi Naga
Berbeda dengan bangunan-bangunan yang telah diterangkan di atas, Candi Naga berada di halaman B. Bangunan terbuat seluruhnya dari batu dengan ukuran lebar 4,83 meter, panjang 6,57 meter dan tinggi 4,70 meter. Seperti Candi Angka Tahun pintu masuk ke bilik candi terletak di bagian barat dengan pipi tangga berhiasan tumpal. Fisik bangunan hanya tinggal bagian yang disebut kaki dan tubuh candi, bagian atapnya yang kemungkinan dibuat dali. bahan yang tidak tahan lama telah runtuh. Bangunan yang kita saksikan pada sat ini adalah hasil pemugaran tahun 1917-1918. Disebut Candi Naga karena sekeliling tubuh candi dililit naga dan figur-figur atau tokoh-tokoh sepelti raja sebanyak sembilan buah masing-masing berada disudut-sudut bangunan dibagian tengah ketiga dinding dan disebelah kiri dan kanan pintu masuk. Kesembilan tokoh ini digambarkan dalam pakaian mewah dengan prabha di bagian belakangnya, salah satu tangannya memegang genta (bel upacara) sedang tangan yang lain mendukung tubuh naga yang melingkari bagian atas bangunan.

Kesembilan tokoh tersebut dalam keadaan berdiri dan menjadi pilaster bangunan. Pada masing-masing dinding tubuh candi masih dihias dengan model-model bulatan yang disebut dengan “Motif Medallion”. Di dalam bulatan terdapat relief yang menggarribarkan kombinasi antara daun-daunan atau bunga-bungaan dengan berbagai jenis binatang dan burung. Di antara motif-motif medallion terdapat relief cerita binatang dalam ukuran yang lebih kecil, sayang cerita yang digambarkan dalam relief-relief ini belum dapat diungkapkan. Menurut orangorang Bali yang pernah mengunjungi komplek percandian Panataran fungsi Candi Naga adalah sama dengan Pura Kehen di Bali sebagai tempat untuk menyimpan milik dewa-dewa.

Pura Kehen itu terletak di daerah Bangli, usianya belum terlalu tua di dalamnya terdapat area-area yang diduga berasal dari abad XIV. Jadi yangtua adalah koleksi-koleksinya bukan bangunannya. Barangkali lebih tepat kalau Candi Naga dibandingkan dengan Pura Taman Sari yang terIetak di Kabupaten Klungkung. Pura yang ditemukan tahun 1975 ini menunjukkan pertalian yang dekat dengan kerajaan Majapahit. Pura ini kecuali berfungsi sebagai pemujaan kerajaan Klungkung juga dipergunakan sebagai tempat pemasupatian (pemberian kesaktian) senjata-senjata pusaka yang dibawa dari kerajaan Majapahit.

Apabila perbandingan ini dapat dibenarkan maka fungsi Candi Naga bukan hanya untuk menyimpan benda-benda upacara milik para dewa tetapi lebih tepat kalau untuk pemasupatihan benda-benda milik kerajaan Majapahit. Untuk keperluan pemasupatihan tidak perlu dibawa ke Bali

Candi Induk
Bangunan Candi induk sebagaimana telah diuraikan dimuka adalah satu-satunya bangunan candi yang paling besar diantara bangunan-bangunan kekunaan yang terdapat dihalaman komplek percandian. Lokasi bangunan terletak di bagian yang paling belakang yakni bagian yang dianggap suci.

Bangunan candi induk terdiri dari tiga teras bersusun dengan tinggi seluruhnya 7,19meter. Teras pertama berbentuk empat persegi dengan diameter 30,06 meter untuk arah timur barat. Pada keempat sisinya kira-kira dibagian tengah masing-masing dinding terdapat bagian yang menjorok keluar sekitar 3 meteran. Pada teras pertama dinding sisi barat terdapat dua buah tangga naik yang berupa undak-undakan. Teras kedua bentuknya berbeda dengan teras pertama bagian bagian yang menjorok bukan ke luar tetapi ke dalam untuk ukuran yang lebih kecil.

Adanya perbedaan ukuran antara teras pertama dan teras kedua menyebabkan terjadinya halaman koscrmg di lantai teras pertama sehingga orang dapat berjalan-jalan mengelilingi bangunan sambil menyaksikan adegan-adegan yang digambarkan dalam relief. Tempat kosong ini namanya selasar dapat melihat gambaran sebagaian dari kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu, tentang kehidupan masyarakat sehari-hari, tentang model-model bangunan, tentang berbagai pola ragam hias, tentang filsafat dan kepereayaan nenek moyang pada waktu itu.

Untuk pembacaan suatu adegan dalam relief dapat mengikuti arah jarum jam yang juga disebut pradaksina dan juga dapat kebalikannya yakni bertentangan dengan arah jarum jam yang disebut prasawnya. Jadi ada yang berurutan dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Di komplek percandian Panataran relief-relief dipahatkan pada dinding candi, pada bagian belakang area dwaraphala dan juga pada dinding kolom. Relief-relief yang terdapat di dinding pendopo teras pada bidang atau atau panil-panil tertentu di bagian atasnya terdapat tulisan singkat dalam huruf Jawa Kuno yang diduga merupakan petunjuk bagi para pemahat cerita apa yang seharusnya digambarkan. Beberapa tulisan singkat yang telah berhasil dibaca memang sesuai dengan adegan yang dilukiskan dalam relief tersebut. Tulisan-tulisan singkat seperti ini juga terdapat di candi Borobudur. Adapun relief-relief di komplek percandian Panataran yang telah diketahui jalan ceritanya.

LATAR BELAKANG KEPERCAYAAN
Sebagaimana di muka telah diuraikanm bahwa komplek percandian Panataran dibangun di lereng Gunung Kelud. Pemilihan lokasi dengan latar belakang gunung bukanlah secara kebetulan. Pendirian bangunan suci Palah dimaksudkan sebagai Candi Gunung,  yakni candi yang dipergunakan untuk keperluan memuja gunung. Tujuan utamanya tidak lain adalah untuk dapat “menetralisasi” atau menghindarkan dari segala marabahaya yang datang atau disebabkan oleh gunung. Tentunya yang dimaksudkan di sini adalah Gunung Kelud yang berkali-kali menimbulkan bahaya bagi manusia.

Dalam naskah lama Negarakertagama yang dikarang oleh Mpu Prapanca ada bagian yang menceritakan peljalanan Raja Hayam Wuruk (1350-1389 AD) dari Majapahit yang sering melakukan kunjungan ke Palah untuk keperluan memuja Hyang AcalapatiPemujaan kepada Hyang Acalapati adalah juga memuja kepada Raja Gunung (Girindra)jadi bersifat Siwais.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Di
nukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Memperkenalkan Komplek Percandian Penataran di Blitar. Mojokerto: KPN PURBAKALA MOJOKERTO, 1995, hlm. 1

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Blitar, Sejarah, Th. 1995, Wisata Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s