Gaya Pakeliran Wayang Jombangan


Heru Cahyono

Mengenai studi kehidupan wayang kulit di Jombang adalah merupakan salah satu bagian kecil pertunjukan wayang kulit yang ada di Jawa Timur. Di mana studi pertunjukan merupakan suatu pendekatan multidisipliner, yang melibatkan beberapa disiplin ilmu pengetahuan seperti: antropologi, semiotik, studi teater, sejarah, ilmu musik, arsitektur, sosiologi, linguistik, koreografi dan kritik sastra dalam studi pendekatan pertunjukan (Suyanto, 2002:34).

Richard Schechner (1988) berpendapat, mengartikan pertunjukan sebagai suatu aktifitas yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam suatu ruang dan waktu tertentu … Menginterpretasikan pertunjuakan dalam pengertian ini, kita harus mengetahui latar belakang masyarakat yang terlibat mengenai sejarah, budaya dan bahasanya. Kemudian, setting pertunjukan harus dibatasi pada konteks ruang, budaya dan sosial tertentu. Jadi setudi tentang pertunjukan tidak hanya mendekati suatu peristiwa di panggung pentas saja, melainkan melibatkan seluruh aspek yang merupakan akibat dari munculnya ide maupun gagasan pertunjukan.

Berdasarkan lintasan sejarah yang ditempuh wayang secara bebas kreatif dan selalu menyelaraskan dengan kodrat dan jamannya, Insya Allah wayang akan menjadi milik jagad dan diharapkan: orang semesta buana akan mempelajarinya (Sri Mulyono, 1975:2). Hal ini sudah menjadi kenyataan dan sekarang dapat kita llihat langkah-langkah pelestarian dan pengembangan budaya wayang yang dilakukan oleh para ahli pewayangan, sastrawan, budayawan dan para ilmuwan. Bagaimanapun perkembangan budaya suatu bangsa tidak dapat lepas dari nilai-nilai budaya terdahulu karena semua yang lampau merupakan tumpuan untuk menemukan yang baru: dan setelah menemukan yang baru tidak boleh mencampakkan yang lama begitu saja. Mengingat bahwa wayang itu telah ada dalam kehidupan bangsa Indonesia khususnya, tidak hanya sebagai seni pertunjukan tetapi juga diwujudkan dalam berbagai karya sastra.

Sementara ini budaya wayang yang paling dikenal baik oleh-masyarakat Indonesia maupun peneliti dari Barat pada umumnya lebih mengenal wayang dari Surakarta karena otoritas kraton Surakarta waktu itu menjadikan wayang Gaya Surakarta sebagai standar kualitas budaya pakeliran. Hal tersebut dapat kita lihat karena pengaruh peredaran buku-buku pedalangan Gaya Surakarta yang ditulis oloh para punjangga dan sastrawan Surakarta seperti Ki Slamet Soetarso. R. Tanaya, R. M Sajid, dan lain-lain, yang tidak hanya beredar di pulau Jawa saja. Tidak kalah pentingnya dikarenakan pengaruh kemajuan media informasi seperti siaran hidup lewat radio Pemerintah maupun swasta dan beredarnya kaset-kaset rekaman wayang Gaya Surakarta.

Sedangkan wayang kulit yang hidup di daerah pesisiran seperti yang ada di Jawa Tengah: Kedu, Tegal, Banyumas, sampai ke Jawa Timur: Jombang, Mojokerto, Lamongan, Surabaya dan Malang, sampai sekarang masih berkembang secara tradisi lisan. Walaupun ada beberapa tulisan tentang wayang tetapi jangkauannya masih sangat terbatas dan jauh belum memadai. Oleh sebab itu tidak mustahil jika seni pakeliran di daerah tersebut hidup secara lokal dan mempunyai ciri-ciri sangant berbeeda dengan wayang kraton.

Benar kiranya dengan apa yang pernah dikatakan oleh para dalang Jawa Timuran, seperti Ki Suwadi, Ki Sareh, Ki Wasis, Ki Soewito Gondo P.B, Ki Prawito dan lain-lain, bahwa wayang kulit Gaya Cek-Dong pada umumnya tidak memiliki budaya pakeliran pakem. Artinya, dalam perkembangannya belum pernah memiliki sumber tertulis sebagai buku pegangan untuk belajar malainkan hanya dengan budaya lisan, oleh sebab itu di antara dalang-dalang di wilayah Jawa Timur mempunyai ciri-ciri kelokalan atau gaya pribadi.

Pertunjukan wayang kulit di Jombang yang mempunyai Gaya Surakarta dan Gaya Jawa Timuran ditekankan pada hubungannya dengan situasi sekitarnya. Di mana masing-masing gaya memiliki bentuk dan corak seni tradisional yang tumbuh berkembang di lingkungannya. Gaya adalah merupakan suatu teminologi dalam dunia seni yang memberilkan keterangan tentang adanya suatu ragam atau corak tertentu (Wiyono, 2002:7). Adanya pembagian gaya pada sini pertunjukan wayang kulit terletak pada bentuk unsur-unsur pakeliran yang bervariasi, sehingga masing-masing dapat dilihat dan di bedakan (Umar Kayam, 2001:64). Pembagian gaya tersebut dikarenakan masih kuatnya budaya tradisi lisan/tutur-tinular yang membingkai lingkungan sosial masyarakat, juga mengakui keberadaan gaya daerah dan pribadi, seperti Ki Guno Rejo (almarhum), Ki Gondo Munanjar, Ki Suwadi, Ki Sareh, Ki Soewito, dan lain sebagainya (Heru Cahyono, 2004:15).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Heru Cahyono,  Wayang Jombangan: Penelusuran Awal Wayang Kulit Gaya Jombangan. Jombang, Pemerintah Kabupaten Jombang KANTOR PARBUPORA, 2008. hlm. 7-8.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jombang, Kesenian, Seni Budaya dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s