Garap Dialog/Antawacana, Wayang Jombangan


Dalam pakeliran wayang kulit istilah penggarapan dialog/tutur kata disebut dengan nama pocapan, janturan, gunem/ginem, masih berpegang pada bahasa jawa pada umumnya, hanya saja pengucapan atau dialeknya berbeda satu sama lain.
Apalagi kalau ditinjau dari segi budaya campuran yang ada di Jombang, menunjukan bahwa bahasa yang dipakai adalah bahasa jawa standar, yaitu bahasa jawa etnis Surakarta atau Yogyakarta. Perbedaan penggunaan bahasa pada pertunjukan wayang akan terlihat jelas dan kita jumpai pada dialek yang digunakan para dalang sewaktu pentas, terutama Gaya Surakarta dan Gaya Cek-Dong di Jombang.

Secara harfiah banyak sekali kata-kata maupun rangkaian kalimat dalam bahasa wayang di Jombang yang tidak sesuai dengan arti kata menurut bahasa jawa yang sebenarnya, seperti Gagra Wasesa. Yang artinya tinggal daging dan kulit, padahal kalau menurut bahasa yang sebenarnya adalah Gagra Kusika, Gagra = daging, Kusika= kulit.

Namun demikian perlu dimaklumi bahwa perkembangan bahasa pedalangan sangat dipengaruhi oleh kondisi alami para dalang dan masyarakat Jombang yang telah jauh dari lingkungan kraton, yang mana wayang bukan sebagai kraton melainkan kesenian rakyat yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan taraf kepribadian rakyat setempat, belum lagi asal mula yang didapat dari pendahulunya secara tutur-tinular. Bagaimanapun daya ingat dan daya tangkap seseorang tetap terbatas, dengan adanya ajaran yang tanpa tulis akan terjadi suatu kealpaan dan salah pengertian.

Di antara seniman dalang di Jombang Ki Heru memiliki gaya ungkap bahasa lebih bervariasi dan terlihat adanya kolaborasi/percampuran budaya yang berlaku di Jombang.

Hal ini dapat dikembalikan pada pengakuan masyarakat penggemarnya (terlepas sedikit atau banyak), bahwa gaya Ki Heru adalah gado-gado dan sedikit menyelipkan dialek yang berkembang di daerahnya. Seperti sembarang menjadi sembiring, gak onok menjadi genok, mak bedunduk kadang pula terucap bahasa-bahasa yang digunakan pada kesenian Besutan atau Ludruk. Ki Heru berpendapat bahwa bahasa wayang adalah bahasa seni bentuk ungkapan kata-kata dalam sajian pakeliran harus diperindah, dengan prioritas lebih menekankan kemudahan untuk diterima/dikonsumsi masyarakat pendukungnya, di sisi lain bahasa juga bukan hanya sekedar sarana komunikasi dalam pertunjukan melainkan ungkapan ekspresi serta merupakan tolok ukur intelegensi seorang dalang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Heru Cahyono,  Wayang Jombangan: Penelusuran Awal Wayang Kulit Gaya Jombangan. Jombang, Pemerintah Kabupaten Jombang KANTOR PARBUPORA, 2008. hlm. 17-21.

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jombang, Kesenian, Seni Budaya dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s