Trunajaya


Di daerah Sampang Madura ada seorang putera menantu Resi, bernama Trunajaya. Pada suatu hari Trunajaya mendapat seorang tamu dari kerajaan Mataram yang bernama Pangeran Anom.

Pada waktu itu Pangeran Anom sedang diusir oleh ayahandanya, karena Pangeran Anom berani bermain cinta dengan calon istri ayahandanya yang bernama Dewi Oyi, seorang wanita yang berasal dari daerah Tegal, Pekalongan. Pangeran Anom yang terusir dari Kerajaan Mataram tersebut lalu pergi ke Sampang, Bangkalan, dan menemui Raden Trunajaya. Ada­pun maksudnya tiada lain ialah minta bantuan kepada Raden Trunajaya. Pada mulanya Trunajaya tidak mau, tetapi makin lama, Raden Trunajaya menyanggupi juga kemauan Pangeran Anom untuk minta kerajaan Mata­ram.

Setelah perundingan berakhir, maka mereka berdua berpisahan. Atas saran dan nasehat abdi tersayang yang bernama Raja Galengsong, sebaiknya Trunajaya sebelum pergi ke Mataram menghadap pamanda terlebih dahulu, yakni Wedana Sampang, Arya Cakraningrat. Maksudnya tiada lain adalah mohon doa restu dan tanda tangan, agar supaya Cakra­ningrat menjadi saksi kalau memang benar-benar Pangeran Anom memin­ta kerajaan Mataram.

Akhirnya Trunajaya pergi ke Sampang akan menghadap Cakra­ningrat. Maka terjadilah peperangan antara Trunajaya beserta pengiring­nya dengan prajurit Sampang. Namun prajurit Sampang kalah, Trunajaya lalu menghadap sang paman Cakraningrat. Sesudah menghadap, Truna­jaya minta izin dan mohon doa restu kepada pamannya agar supaya men­jadi saksi bahwa Trunajaya menjadi utusan Pangeran Anom. Tetapi Cakraningrat tidak mau karena masalah tersebut adalah masalah negara.

Cakraningrat mengatakan kepada Trunajaya, supaya Pangeran Anom disuruh menghadap dan datang ke Sampang. Kalau sudah datang ke Sampang diharapkan langsung ke negara Mataram, untuk dimintakan daerah Mataram.

Trunajaya sama sekali tidak menyetujui usul pamannya. Akhir­nya terjadilah perbedaan pendapat dan perselisihan, yang mengakibatkan terjadi perang. Cakraningrat kalah, lalu diikat dan dibuang di hutan ber­sama istrinya.

Trunajaya lalu melanjutkan perjalanan dengan membawa serta prajurit-prajurit Sampang – Bangkalan menggempur Kerajaan Mataram.

Trunajaya berhasil menghancurkan Mataram. Lalu Trunajaya untuk se­mentara mengganti kedudukan Pangeran Anom di Mataram. Sultan Mataram merasa perlu untuk sementara meletakkan jabatannya sebagai raja, lalu bertapa sebagai pendeta di kaki Imagiri, bersama Pangeran Puger.

Akhirnya Pangeran Anom mendengar juga berita bahwa kerajaan Mataram sudah diberikan oleh ayahandanya kepada Trunajaya. Pangeran Anom lalu kembali ke Mataram. Ia menjumpai Trunajaya dengan tujuan menagih janji, seperti apa yang telah mereka sepakati bersama. Tetapi Trunajaya memungkirinya. Trunajaya mengatakan bahwa ia menggempur Mataram atas kekuatan sendiri bersama dengan prajurit Sampang dan Bangkalan, dan bukan karena bantuan Pangeran Anom.

Terjadilah perselisihan hebat yang berakhir dengan pertempuran. Pangeran Anom tidak mampu menandingi Trunajaya. Pangeran Anom terdesak, dan melarikan diri bersama dengan dua orang abdinya. Seorang abdinya mengajukan saran dan usul, agar Pangeran Anom menghadap ayahnya di kaki gunung Imagiri, menyatakan apa adanya, bahwa perjanji­an dengan Trunajaya telah diingkari. Tetapi Pangeran Anom tidak mau, sebab malu. Akhirnya Pangeran Anom mau juga menghadap ayahanda­nya di Imagiri dengan alasan, bahwa ia tidak akan kembali ke Mataram, dan mohon doa restu untuk pergi ke Mekah dan Madinah. Tetapi itu hanya alasan saja.

Setelah Pangeran Anom mengundurkan diri dari Mataram, lalu Sultan memberi perintah kepada Pangeran Puger membawa Kyai Pleret untuk mengusir Trunajaya dari Kerajaan Mataram. Akhirnya Pangeran Puger berangkat dengan membawa Kyai Pleret dan diperkuat oleh para prajurit Kalawangkis memerangi Trunajaya. Ketika mengetahui bahwa Pangeran Puger membawa pusaka Kyai Pleret, Trunajaya tidak berani menandingi. Ia segera memerintahkan para prajurit Sampang – Bangkalan untuk mengundurkan diri.

Pengunduran tentaranya sampai di Kediri. Sambil melarikan diri, Trunajaya menyempatkan diri untuk singgah di Kaputren dan bertemu dengan Dewi Kleting Kuning, Puteri Kanjeng Sultan. Tujuannya ialah hendak memperisterinya. Akan tetapi Kleting Kuning tidak mau dan melarikan diri searus dengan pelarian tentara Trunajaya, yang melari­kan diri ke Kediri. Karena lelah, Dewi Kleting Kuning beristirahat di sebelah barat sungai Brantas. Di sinilah akhirnya Dewi Kleting Kuning dibunuh. Tempat tersebut kemudian dinamakan sebagai Pesarean Muning Kemudian prajurit-prajurit itu berhenti di Bandar.

Menurut berita lama, Bandar itu tempat peristirahatan para prajurit yang naik kuda. Sampai sekarang tempat kematian Kleting Kuning itu disebut di Kediri Bandar. Pasarean Muning.

Setelah mengubur mayat Kleting Kuning, Trunajaya memberi­kan kepada para prajurit supaya membuang barang-barang dari Mataram di sungai. Demikian juga meriam Kyai Setama dan Nyai Setami dibuang ke sungai dihanyutkan ke tengah-tengah hutan Kediri. Di Kediri Truna­jaya memberi perintah kepada prajurit membuat tempat peristirahatan dari tanah yang dibentuk seperti bukit, dan disebut oleh Trunajaya seba­gai Pesanggrahan Lemah Duwur.

Pekerjaan tersebut tidak bisa diselesaikan oleh para prajurit se­hari atau dua hari. Para prajurit bekerja keras siang malam, untuk me­nyelesaikan pesanggrahan tersebut. Oleh karena itu tempat itu lalu dise­but mburengan (mburengan = kerja keras).

Prajurit Mataram yang bergabung dengan Trunajaya, akhirnya mengundurkan diri sampai di Brantas. Sebagian sudah berhasil menye­berangi sungai Brantas. Adapun Patih Mandaraka dari Mataram, sampai di sebelah barat sungai Brantas, di sebelah utara pelabuhan Kediri, ber­tempat tinggal di daerah Curing.

Sang Patih sangat berduka, merasa telah mengkianati Sultan Mataram. Lebih-lebih sang Patih ini sudah tua dan mempunyai kemam­puan yang hebat. Karena sedihnya, ia terus berpikir dan tangannya me­nyilang dada. Karena sedihnya dalam keadaan berdiri dengan tegak patih itu wafat. Mayatnya dibawa kembali ke Mataram dimakamkan di Imagiri.

Marilah kita lanjutkan cerita tentang Trunajaya. Di Pesanggrahan Lemah Duwur Trunajaya memberikan perintah untuk membuat tero­wongan dalam tanah dari Kediri tembus ke gunung Ngantang. Maksud­nya kalau ada musuh, Trunajaya dapat melarikan diri dari Kediri, me­nembus terowongan tersebut menuju ke gunung Ngantang.

Terceriteralah perjalanan Pangeran Anom yang baru turun dari Imagiri. Ayahandanya memberikan nasehat kepadanya supaya minta tolong kepada juragan tebak yang bernama Martalaya dan Martapura. Dari sini Pangeran Anom disuruh untuk minta bantuan sahabatnya yang bernama Bujingah, watafiah.

Sesudah demikian, Martapura dan Martalaya ketemu dengan Pangeran Anom, minta tolong kepada Belanda yang berada di Betawi untuk mengusir Trunajaya di hutan Kediri. Perjanjian Pangeran Anom dengan Belanda adalah sebagai berikut, “Kalau Belanda dapat mengusir Trunajaya dari hutan Kediri Belanda akan mendapat hadiah berupa tanah seluas kulit kerbau. Demikianlah bunyi perjanjian yang sebenarnya.”

Maka Belanda pun berangkatlah. Kumpeni mengusir Trunajaya dari Kediri, dan Trunajaya melarikan diri ke gunung Ngantang. Di gunung Ngantang Trunajaya membuat persiapan-persiapan. Trunajaya membuat rintangan-rintangan-, jebakan-jebakan. Batu-batu digantungkan di atas jurang dengan tujuan untuk menghancurkan pasukan musuh yang lewat yang hendak mengejarnya ke gunung Ngantang. Karena hal ini maka pesanggrahan itu lalu disebut sebagai Sanggrahan Watu Gantung. Kadang-kadang Trunajaya dapat melihat medan dengan baiknya. Dari sini Trunajaya sering ngingak-inguk. Oleh sebab itu tempat tersebut lalu disebut sebagai Cengangukan.

Belanda terus melakukan pengejaran terhadap Trunajaya. Dalam pengejaran ini Belanda membawa kipil, yang bernomor. Sambil melaku­kan pengejaran, kipil-kipil tersebut disebarkan di daerah-daerah yang di­lewatinya. Maksudnya, tanah yang sudah bertanda kipil itu nanti akan menjadi haknya. Namun dalam pengejaran ini, banyak tentara Belanda yangmati di gunung Ngantang,karena terperangkap oleh jebakan-jebakan Trunajaya. Ternyata Belanda tidak berhasil menangkap dan membunuh Trunajaya.

Selanjutnya Raden Pangeran Anom, sepulang dari mencari Marta-laya dan Martapura di Tegal beliau bertemu dengan Wedana Sampang Cakraningrat, yang disekap.

Lalu Cakraningrat dikejuarkan dari sekapan. Kemudian Cakraningrat berkata kepada Pangeran Anom, “Trunajaya sekarang di mana ?” Jawab Pangeran Anom, “Trunajaya sekarang menuju ke gunung Ngantang, di­kejar oleh Belanda.” Sesudah itu Pangeran Cakraningrat berkata, “Kom­peni Belanda tidak akan bisa menangkap Trunajaya kecuali aku yang sama-sama orang Madura.”

Wedana Sampang mohon pamit kepada Pangeran Anom, terus berangkat mau menangkap Trunajaya yang sekarang berada di Ngantang. Sesampainya di Ngantang para prajurit, tanpa persiapan menghadapi mu­suh, setelah tahu bahwa yang naik ke gunung Ngantang adalah Pangeran Cakraningrat, para prajurit tidak memusuhi tetapi malah mendorong Cakraningrat agar supaya menangkap Trunajaya.

Cakraningrat bertanya kepada para prajurit yang sedang siaga, ‘Trunajaya di mana ?” Jawab mereka “Itu Gusti bersembunyi di balik Watu Tulis”. Oleh sebab itu sampai sekarang, batu yang terdapat di dae­rah Ngantang diberi nama Watu Tulis. Trunajaya melarikan diri dari Ngantang ke arah Utara, terus dikejar oleh Cakraningrat. Trunajaya me­nangis kasihan, hingga gunung itu dijuluki gunung TRENGIS, di sebelah utaranya Ngantang, dan di sebelah timur dusun Ngandhangan. Pelarian Trunajaya terus diburu-buru Cakraningrat dengan menerobos-nerobos, sehingga desa itu kelak dinamakan desa BROBOSAN, sebab Trunajaya dalam pelariannya dengan menelusup-nelusup. Trunajaya dalam pelarian akhirnya dapat dikepung oleh prajurit dari Sampang. Daerah pengepung­an itu sekarang disebut Kandhangan karena di situlah Trunajaya dike­pung oleh para prajurit.

Trunajaya melarikan diri melewati sungai Konto dan ditangkap oleh Cakraningrat. Ketika menangkapnya Cakraningrat berkata, “Seka­rang kamu saya tangkap dan akan saya hadapkan ke Mataram”. Truna­jaya mengatakan bahwa ia minta dihidupi. Karena Trunajaya akan di­bunuh oleh Cakraningrat di tempat itu maka desa itu lalu disebut desa SUKAWANI.

Karena hari sudah senja perjalanan Cakraningrat dan Trunajaya terpaksa terhenti. Cakraningrat sudah tidak mampu lagi untuk mem­bendung keinginannya membunuh Trunajaya. Oleh sebab itu lalu Cakra­ningrat mengambil pusaka keris kemudian berkata keoada Trunajaya, “Trunajaya, keris ini-apa coraknya ?”.

Mulanya Trunajaya tidak mau menjawab, namun kemudian ia pun mem­berikan jawaban juga. Ia berkata, “Tidak tahu”.

Cakraningrat berkata lagi, “Ini namanya keris Kyai Drajat, memang tidak saya beri rangka. Dan inilah milikku satu-satunya ketika aku kau tawan bersama bibimu. Keris ini tidak akan saya beri rangka kecuali rangka itu adalah jiwa-dan ragamu”.

Di desa Sukawani itulah kemudian Trunajaya dibunuh. Pada waktu itu dua ekor burung jatuh bersamaan dengan tewasnya Truna­jaya. Kemudian Cakraningrat memerintahkan kepada segenap laskar agar supaya kepala Trunajaya dihancurkan di atas lumpang di sebelah timur laut desa Sukawani. Hingga kini batu lumpang itu masih ada. Di atas batu inilah kepala Trunajaya dihancurkan. Rambutnya kemudian dipotong dan dibawa ke Mataram dipakai sebagai keset Pangeran Mangkurat atau Pangeran Anom kalau hendak naik kesanggar pemujaan. Sebagian dari rambut itu digunakan sebagai ganjel sekaten di Mataram.

Akhirnya Cakraningrat bersama segenap prajurit pulang ke Mata­ram. Pangeran Anom menjadi raja Mataram dan bergelar Pangeran Mas Mangkurat.

Dari cerita bahasa Jawa, daerah Kediri.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Cerita Rakyat Daerah Jawa Timur, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1982-1983, 1984. hlm. 20-24.
 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kediri, Legenda, Madura, Sampang, Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Trunajaya

  1. lutfi berkata:

    omong kosong.cerita buatan.

    • Koleksi cerita rakyat kami berasal dari hasil kajian penelitian oleh Tim Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1982-1983, dan informannya juga akurat. kalau ingin lebih jelasnya dapat berkunjung dan membaca koleksinya langsung di Badan Perpustakaan Prov Jatim, Jl. Menur Pumpungan 32 Surabaya. moga bermanfaat bagi masyarakat banyak.

  2. putraloka berkata:

    Mohon infonya ttg letak watu lumpang itu didaerah mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s