Darmakusuma


Sampai di Mekkah, para wali yang lain telah ada di sana. Kemudian mereka bersembahyang jum’at, dan para waliitu telah mendapat idzin untuk membuat masjid di Jawa dengan contoh masjid di Mekkah. Dari Mekkah para wali langsung menuju ke Bintara dan bertemu dengan adipati Natapraja (R. Patah). Sunan Giri membicarakan pendirian masjid agung di Bintara, saka guru akan disediakan oleh para wali, masing-masing 4 buah, R. Adipati Natapraja harus menyediakan usuk, reng, blandar, sirap dan sebagainya.

Setelah permusyawaratan dan pembagian tugas itu, semuanya bubar untuk mencari kayu yang menjadi bebannya. Demikian pulalah Sunan Kali. Ia berjalan-jalan masuk hutan. Bertemulah ia dengan seorang laki-laki dan seorang perempuan. Sunan Kali bertanya.

“Siapakah tuan, dan apakah keperluan tuan tinggal di hutan belantara ini?”

Orang laki-laki itu menjawab: “Saya adalah Prabu Darmakusuma raja Amerta. Siapakah tuan?”

Sunan Kali berkata dengan lembut: “Hamba adalah Seh Malaya. Mengapa tuan tidak mau pulang ke sorga?”

Prabu Darmakusuma: “Saya belum dapat moksa, karena saya . mempunyai sebuah jimat berupa “Surat Kalimasada”. Kata Batara Guru, kalau saya belum dapat membaca kitab itu, saya tak dapat moksa. Kelak akan ada orang yang bemama Seh Malaya yang dapat membaca surat itu. “Kalau kamu dapat membacanya betul-betullah kamu Seh Malaya, kalau tidak kamu hanyalah orang yang mengaku-aku saja.”

Sunan Kali: “Bolehkah hamba melihat kitab Kalimasada itu?”

Kitab itu diberikan kepada Sunan Kali. Sudah barang tentu Sunan Kali dapat membacanya, karena Kalimasada itu pada hakikatnya adalah “kalimat syahadah”.

Sunan Kali berkata: “Apakah Tuanku hendak menganut Kalimasada itu? Kalimasada itu ilmu dari Hyang Suksma yang dianut oleh para wali.”

Prabu Darmakusuma menjawab bahwa ia dan isterinya ingin menganut kalimasada itu. Diajarilahr Prabu Darmakusuma dan isterinya membaca kalimah syahadah, dan Islam-lah mereka. Setelah mereka Islam, mereka ctapat mati dengan tenang, dan dikuburkan di tengah hutan .

Sunan Kali berjalan terus melihat-lihat pohon jati yang besar tinggi dan lurus. Tiba-tiba ia mendengar suara katak berulang—ulang dan ketika ia menoleh, dilihatnya seekor katak sedang hendak ditelan oleh seekor ular.

Sunan Kali berkata: “hu, hu”. Ular itu melepaskan mangsanya, yang cepat-cepat lari menghindar. Ular berkata kepada Sunan Kali: “Sedang kami hendak menelan katak itu, Tuanku berkata “hu~hu”, apakah itu artinya?”

Sunan Kali : “Saya hendak mengatakan “ulunen” (telanlah).” Ular tak menjawab lagi, lalu pergi. Kemudian katak yang tertolong dari bahaya maut. itu datang untuk mengucapkan terima kasih.

“Tuanku. Hamba mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas pertolongan Tuanku itu. Tapi bolehkah hamba mengetahui apa arti kata “hu-hu” yang Tuan ucapkan itu?”

Sunan Kali: “Aku hendak mengatakan “uculna-uculna” (lepaskan-lepaskanlah). ”

Katak: “Hamba merasa sangat berhutang budi kepada Tuanku. Oleh karena itu, hamba berjanji akan membawa kayu yang Tuanku pilih itu ke kota Bintara, bila telah siap.”

Sunan Kali: “Terima kasih, katak.”***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BABAD TANAH JAWI; Galuh Mataram, hlm. 101-102

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s