Seh Lemah-abang


Sekali-kali para wali berkumpul di kota Giri, karena Sunan Girilah (Pr. Satmata) yang dianggap sebagai raja dari pada wali-wali di Jawa. Demikian pulalah halnya sekali ini. Keadaan di Kalijaga sudah teratur. Murid dan sahabat telah banyak, santri pun telah berjumlah besar.

Pada suatu hari Sunan Bonang yang masih tinggal di Kalijaga, berkata kepada iparnya: “Wahai adi Kalijaga. Marilah kita pergi ke Giri untuk menghadiri pertemuan para wali.” Sunan Kali menurut dan sesaat kemudian mereka telah sampai di Giri. Di situ telah lengkap para wali yang lain.

Dalam pertemuan yang kemudian diadakan, Sunan Bonang berkata kepada Sunan Giri: “Wahai anakku Sunan Giri. Saya memberitahukan, bahwa wali di Jawa telah lengkap berjumlah 8. Adik Sunan Kalijagalah yang menjadi wali penutup.” Sunan Giri setuju akan hal itu, para wali yang lainnya tak ada yang tak setuju. Tapi Sunan Kalijaga sendiri berkata kepada Sunan Bonang: “Hamba menjadi Sunan, tetapi belum pemah mendapat petunjuk-petunjuk. Bila tidak keberatan, hamba mohon petunjuk-petunjuk. ” Sunan Ngampel (= R. Rahmat): “Anakku Sunan Bonang, baiklah Sunan Kali diberi petunjuk-petunjuk.”

Sunan Bonang menyanggupi, lalu pergilah mereka berdua keluar. Mereka pergi ke sebuah telaga dan naik sebuah perahu. Ketika perahu itu bocor, Sunan Bonang menyuruh Sunan Kali menambalnya dengan tanah.

Sunan Kali mengambil tanah liat, lalu ditambalkan pada tempat yang bocor itu. Bulan penuh sedang memancarkan cahayanya yang lembut. Suasana di telaga tenang, tiada riak membuat bunyi, tiada angin mendesir. Ketenangan dan ketentraman melingkupi kedua makhluk di atas perahu itu. Jalannya pelajaran itu seperti orang yang bermain teka-teki, karena Sunan Bonang mempergunakan kias.

“Ada suluh menyala dengan empat pusat, kalau api padam kemanakah perginya?”

Sunan Kali menjawab : “Api pergi ke suluh tidak bercahaya”. Jawaban itu betul, karena ia dapat menerimanya dengan baik dan bersamaan dengan turunnya wahyu kepadanya.

Sunan Bonang: “Jangan sekali-kali kau ucapkan atau kau ajarkan wejangan ini, karena ini adalah ilmu gaib (ilmu rahasia). Kalau ini sampai terdengar oleh makhluk lain, apapun ujudnya dan walaupun ia kafir asalkan ia dapat mengerti maksudnya, ia akan menjadi manusia yang sempurna (insan kamil).” Tiba-tiba ada seekor cacing lur yang mengerti akan wejangan Sunan Bonang kepada Sunan Kali itu. Iapun berkata: “Wahai jeng Sunan berdua, hamba dengan tak sengaja ikut mendengar segala wejangan yang tuanku bicarakan. Hamba dapat mengerti, sehingga rasa-rasanya hambalah menjadi manusia.

Sunan Kali: “Siapakah kau?”

Cacing lur: “Hamba ialah cacing lur yang ada di dalam tanah liat yang tuanku pakai untuk menambal perahu.”

Sunan Bonang: “Sudah menjadi takdir Allah. Cacing lur karena mendengar wejangan ini, ia menjadi orang.”

Karena mu’jizat Sunan Bonang, maka cacing itu menjadi manusia, duduk bersujud di kaki Sunan Bonang dan Sunan Kali. Sunan Bonang berkata:  “Kuterima sembahmu, mulai sekarang kamu bernama Seh Lemah abang, karena engkau berasal dari tanah liat yang merah rupanya.” Sunan Bonang berkata lagi kepada Sunan Kali:

“Adi Sunan Kali, itu suatu tanda ke Mahakuasaan Allah swt, tak dapat dipikir-pikirkan. Sebenarnya adi sebelum diwejang pun, telah menjadi kekasih Tuhan, yaitu pada waktu kamu hendak pergi haji ke Mekkah, lalu bertemu dengan Seh Maulana. Kamu disuruh kembali dan bertapa di bawah titian galinggang. Kamu tidur di situ 100 hari lamanya, andaikata kamu bukan kekasih Tuhan tentu badanmu sudah hancur-lebur. Kamu telah terpilih oleh Hyang Suksma. Kehidupanmu akan abadi, walaupun badan hancur-binasa. Kamu akan terus hidup, walau kehidupanmu tak menghidupi. Segala wali belum ada seorang pun yang telah menyeberangi lautan kematian (maut) setepat yang kamu kerjakan. Aku ini seperti menghadapi madu di dalam botol gelas, dapat melihat mayanya, tapi belum pernah dapat merasakannya. Oleh karena itu, bila kau setuju, tunjukilah aku adi. Biarpun aku dikatakan orang kerbau menyusu anaknya, wali berguru pada sahabat.”

Sunan Kali menjawab: “Hamba menurut, karena hamba hanya bersifat mengantar. Jalannya dapat dikatakan mudah tapi juga sulit. Syaratnya hanyalah, tak boleh was-was dalam hati. ”

Keduanya lalu berdiri berhadap-hadapan, kedua tangan berpegangan pada pinggang satu sarna lain. Keduanya mengheningkan cipta dan dalam sekejap mereka telah sampai di Mekkah. Seh Lemah-abang segera menyusul gurunya.***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BABAD TANAH JAWI; Galuh Mataram, hlm. 98-101

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Sejarah dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Seh Lemah-abang

  1. Wawan setiawa berkata:

    Sip sayang yg ada tulisan yg jadi kotak”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s