Patih Gajah Premada


“Kabar apa yang kau bawa?” tanya yang tertua. Kedua orang yang lain masih membisu, hanya saling berpandangan satu sama lain.

“Jangan takut memberitakan kepadaku.” kata yang tertua lagi.

”Tuanku. Baginda telah berhasil mendapatkan empu yang dapat membuat keris berdapur seribu,” kata seorang di antara kedua orang yang lain itu.

“Siapakah empu itu? Cobalah ceriterakan?  dengan panjang lebar” tanya yang tertua.

“Baiklah Tuanku.” sahut yang kedua. Yang ketiga tetap membisu. Agaknya ia yang termuda dan di hadapan yang lebih tua, ia tak berhak bicara, bila tak diminta.

“Empu yang berhasil itu namanya Kinom atau Ki Supaanom putera Ki Supa dan cucu Tumenggung Supadriya. Ia berhasil menempa keris berdapur seribu itu.”

Ketiga orang itu adalah patih Gajah Premada yang pergi atas titah Prabu Brawijaya untuk mencari empu yang dapat membuat keris dapur seribu, dengan larangan tak boleh kembali bila tak berhasil bersama dua orang saudaranya. Kini Prabu Brawijaya telah mendapatkan empu yang sakti, bolehkah Patih Gajah Premada kembali?

“Empu yang berhasil itu bemama Kinom atau Ki Supaanom putera Ki Supa dan cucu Tumenggung Supadriya. Ia berhasil menempa keris berdapur seribu itu di lautan Jawa yang menjadi panas oleh api tungkunya, sehingga keris itu dinamakan Kyai Segara Wedang.”

Kalau begitu tak ada gunanya, bila tinggal lebih lama di hutan ini.” kata Ki Patih. “Baiklah kita bersiap-siap kembali ke kota Majapahit.”

Orang yang kedua menjawab: “Tetapi Tuanku, Prabu Brawijayalah yang berhasil mendapatkan empu itu, bukan Tuanku. Baginda bertitah, agar Tuanku tidak kembali kalau belum berhasil.”

Patih Gajah Premada: “Kalau begitu, baiklah kita tinggal di hutan sebagai petapa-petapa untuk menunggu maut.”

Orang yang termuda itu mengangkat mukanya, bibimya bergerak-gerak.

Patih Gajah Premada: “Kau hendak berbicara? Katakan apa yang terasa di hatimu.”

Orang yang termuda itu menyembah, lalu berkata: “Maafkanlah hamba Tuanku. Menurut hemat hamba, sebaiknya kita mengamuk saja sampai mati. Malu, malu, malu Tuanku.”

Patih Gajah Premada: “Apa yang dimalukan? Tak ada seorang pun di dunia ini yang tahu bahwa kit a masih hidup.” Orang yang termuda berkata kepada orang kedua:

“Kakang, katakanlah kakang. Agar Ki Patih tahu segala-galanya.”

Patih Gajah Premada: “Apakah masih ada hal yang belum kuketahui?”

Orang yang kedua berkata: ”Memang ada, Tuanku. Sri Baginda telah mengangkat Adipati Wahan menjadi Patih Majapahit.”

Orang yang termuda berkata: “Perintah Sri Baginda itu hanyalah sebuah siasat untuk menyingkirkan Tuanku, untuk menggeser Tuanku dari kedudukan Tuanku. Sakit hati hamba, Tuanku.”

Patih Gajah Premada: “Janganlah terburu nafsu. Kalau kau bersakit hati, kepada siapa hendak kau lepaskan? Kepada Sri Baginda? Tak mungkin, karena amat besar dosa orang yang maker terhadap raja. Kepada Ki Patih Wahan? Apakah dosanya?”

Orang yang termuda: “Bukankah mungkin saja, segala sesuatu itu adalah siasat dari Adipati Wahan? Dia yang harus bertanggung jawab. Dia yang harus menasehatkan kepada raja, agar raja memanggil pulang Tuanku dahulu. Lalu karena Tuanku tidak berhasil, Tuanku dapat mengundurkan diri dengan hormat. Kemudian barulah Adipati Wahan boleh menonjolkan diri untuk mengganti Tuanku,”

Patih Gajah Premada: “Memang benar Patih Wahan harus memberi nasehat kepada Sri Baginda. Tetapi letak kesalahan itu ada pada Baginda, hanyalah yang bertanggung jawab adalah patih Wahan. Patih Wahan harus dihukum mati, barulah Sri Baginda merasa mendapat pelajaran.”

Tiga orang itu bertekad bulat untuk mengamuk ke kepatihan. Pada malam harinya rencana itu mereka laksanakan. Sesudah pertempuran yang hebat dan banyak makan karban, kedua orang Patih itu mati bersama-sama dengan keris masih di dada masing-masing, dan tangan mereka masih memegangi kerisnya. Kedua pembantu Patih Gajah Premada pun mati setelah membunuh banyak pengawal. Sri Baginda segera diberi tahu tentang kejadian itu. Setelah melihat bangkai patih Gajah Premada dan patih Wahan, Baginda berkata dalam hati: “Sudah nasib kerajaan Majapahit, lepas pengikatnya dan hilang penguasa-penguasanya.”

Kepada para pengawal Baginda berkata:

“Tanamlah mayat patih Wahan baik-baik dan berilah penghormatan selayaknya. Ia telah mati dalam mengemban tugasnya. Buanglah bangkai Patih Gajah Premada dengan kedua pembantunya ke hutan, karena mereka telah memberontak kepada kerajaan.”

Pengawal kerajaan yang mendapat titah menjawab: “Daulat Tuanku.” Prabu Brawijaya dengan hati sedih kembali ke istana. Persoalan penggantian Patih baru mengganggu pikirannya. Tak ada calon yang setimpal. Kerajaan Majapahit tidak mempunyai calon pengemban pemerintahan. ***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BABAD TANAH JAWI; Galuh Mataram, hlm. 139–141

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s