Perkelahian tiga Suksma


Dewi Sekar-kemuning kembali ke kamarnya dengan hati yang agak lega, tetapi masih penuh kebingungan. Kejadian-kejadian malam itu bersimpang-siur di dalam kepalanya, belum dapat diatur kembali, karena pikirannya masih diliputi dengan ketakutan. Tapi di dalam kamarnya masih menunggu ketegangan yang lain. Ketika sang dewi masuk, dilihatnya dua orang satria berhadap-hadapan dengan sikap bermusuhan. Di tangan masingmasing ada keris terhunus. Salah seorang adalah Mertengsari. Tuan puteri mendengar Mertengsari berkata:

“Hai pencuri, pergilah engkau dari sini, kalau ingin tetap hidup! Yang lain menjawab: Mengapa engkau menyuruh aku pergi, dan menuduhku pencuri? _ Akulah Sukma Nyalawadi, kekasih dewi Sekar-kemuning, penjelmaan ular naga. Siapakah kau kesatria?

Mertengsari: “Bila matamu buta, telingamu tuli, ketahuilah bahwa aku adalah Sukma Mertengsari, kekasih Dewi Sekar-kemuning. Bedebah, kau berani mengaku-aku menjadi kekasih dewiku! Sekarang kau terimalah kematianmu!

Sukma Mertengsari tak memberi kesempatan kepada Sukma Nyalawadi untuk menjawab, karena dengan cepat ia menyerang dengan kerisnya. Sukma Nyalawadi tidak tinggal diam dan dengan tak ragu-ragu lagi menyambut dan membalas seranganserangan Sukma Mertengsari, Dewi Sekar-kemuning menyelinap ke luar kamar. Hatinya menangis sedih, karen a melihat pertempuran dua orang satria bagus yang memperebutkan dirinya. Dan di penjara suaminya meringkuk karen a salah mengerti akan sikap dan tindakannya. Dengan terhuyung-huyung tuanku puteri kemhali menghadap ayahnya. Baginda sedang menerima laporan, bahwa apa yang dikatakan R. Jaka adalah benar. Baru saja pengawal selesai herbicara, tuan puteri masuk dengan tersedu-sedu. Baginda masih sempat memberi perintah kepada pengawal.

“Bebaskanlah Ki Jaka dan bawa kemari!”

Kepada anaknya, Bagin~da bertanya:

“Ada apa nini de wi. Kau kern bali dengan berurai air mata?”

Tuan puteri : “Ah, Baginda. Di dalam kamar hamba ada dua orang penjahat.”

R. Jaka Bandung yang masuk beserta pengawal, masih sempat mendengar kata-kata tuan puteri. Hatinya berdesir, tapi ia dengan tenang duduk menghadap baginda. Tak berani ia melayangkan pandangan kepada isterinya.

Baginda berkata: “Maafkanlah aku atas tindakanku yang terburu-buru anakku. Tapi agaknya belum selesai perkara malam ini. Kau dengar sendiri kata-kata isterimu. Di dalam taman sari ada dua orang pencuri. Dapatkah anakku menangkapnya?”

Jaka Bandung: “Jangan khawatir Tuanku. Atas hambalah perkara itu. Hamba mohon restu dan idzin” Tuanku.

” Baginda: “Baiklah, anakku!”

R. Jaka dengan cepat meloncat ke taman sari. Sampai di sana ia berkata dengan nyaring:

“Wahai penjahat dusta. Keluarlah kamu. Di sinilah R. Jaka Bandung, menantu raja Brawijaya dan suami dewi Sekar-kemuning.”

Alangkah marahnya kedua sukma yang sedang berkelahi itu mendengar kata-kata R. Jaka. Mereka melupakan pertarungannya lalu bersama-sama menyerang R. Jaka. Lambat laun R. Jaka terdesak, Keris Sukma Nyalawadi bersarang di dadanya. Tetapi R. Jaka telah meloloskan jiwany’a dari tubuhnya, iapun berujud sukma dan bernama Sukma Ngumbara. Setelah R. Jaka mati, kedua sukma itu melanjutkan pertempuran mereka. Belum lagi ada yang kalah; Sukma N gum bara menyerbu dan terjadilah pertempuran segitiga yang amat dahsyat. Lama kelamaan Sukma Mertengsari kalah, lalu kembali ke tubuh burung perkutut. Sukma Nyalawadi tidak pula dapat bertahan terhadap serangan Sukma Ngumbara, lalu mempersatukan diri. Sukma Ngumbara kembali ke dalam tubuh Ki Jaka.

Alangkah marah baginda ketika mendengarkan laporan R. Jaka. Disuruhnya menyembelih perkutut Mertengsari, lalu memasaknya. Setelah siap lalu dimakannya. Bersatulah sudah Siung. wanara dengan Jaka Suruh.

Tuan puteri Sekar-kemuning tidak mengetahui akhir kejadian itu. Ia sangat menyesali kematian perkutut Mertengsari. Segal a kesalahan tertimpa kepada R. Jaka Bandung. Oleh karena itu ketika R. Jaka kern bali dari istana, ia disambut oleh kemarahan tuan puteri yang meledak-ledak. Cundriknya berulangulang jatuh ke tubuh R. Jaka, tetapi R. Jaka terlalu kebal. R. Jaka tidak memberikan perlawanan.

Tuan puteri memaki-maki: “Pembunuh kejam. Burung yang tak tahu barang perkara, kau laporkan mEmjadi penjahat dan terbunuhlah ia  dengan sangat keji. Pembunuh, kau harus dihukum.”

R. Jaka: “Dewi. Baginda tak akan mail menghukumku. Hanya dewilah yang dapat menghukumku, hukuman apakah yang akan kau jatuhkan kepadaku dewi?”

Tuan puteri: “Cundrikku tak mampu membunuhmu. Sekarang masuklah ke dalam telaga dan janganlah keluar lagi.” “Baiklah dewi”, jawab R. Jaka. Ia keluar, lalu terjun ke

dalam telaga. Dewi Sekar-kemuning melihat segala kelakuannya dari balik jendela. Kini ia tinggal sendiri, suaminya hiiang, kekasih mati. Tuan puteri menangis, menangisi hatinya yang sepi.***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BABAD TANAH JAWI; Galuh Mataram, hlm. 49

 

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Legenda, Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s